6. Pria Pucat dengan Senyum Paling Memikat

49 15 21
                                        

“Mereka bukan monster, bukan pula manusia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Mereka bukan monster, bukan pula manusia. Mereka begitu memikat sekaligus sangat menakutkan. Mereka tidak memburu lo untuk sekerat daging, tapi untuk setiap tetes darah segar lo. Mereka adalah Penghisap!” ~ Catatan Tanpa Nama, Hari Berburu, Minggu Pertama, Bulan Pertama, Tahun 99 Bumi Baru

6. Pria Pucat dengan Senyum Paling Memikat

"Sankyu , Bibi Ren!" ucap Rin seraya memeluk dan mengecup pucuk kepala perempuan itu. "Kami akan segera kabari Bibi jika mendengar sesuatu tentang Paman Lee!" imbuh Rin.

"Terima kasih, zheyengku. Berhati-hatilah. Bibi dengar kau sering keluar malam sendirian? Bibi tidak mau mendengar kabar buruk tentangmu, Rin! Huhuhu." Bibi Ren memeluk erat Rin. Tubuh Bibi Ren yang pendek membuatnya hanya mampu memeluk dan mencium udel Rin.

"Tenang, Bibi Ren. Jangan dengarkan ghibah para bibi koloni. Mereka semuanya halu. Mungkin karena mereka terlalu sering makan backone, cilokz dan xymol dengan saus jamur siluman!" karang Rin.

"Maksudnya kau tidak pernah menyelinap dan keluar diam-diam dari kelompokmu? Yang benar saja! Bibi tau persis sifatmu, penjahat kecil!" sergah Bibi Ren, dibarengi dengan menceples gemas bokong Rin.

"Aww! Hahaha. Maksudnya, gue gak pernah pergi sendirian, Bibi. Gue kan punya partner in crime!" Rin menoleh kepada Jin. "Bocah ini dari dulu selalu setia menjadi budak gue, Bi!" Rin menepuk-nepuk bahu kekar Jin.

"Bacot." rutuk Jin.

"Kalian nampak sangat cocok, zheyengku. Bibi harap suatu saat kalian bisa memproduksi ratusan bayi-bayi lucu untuk koloni! Bibi akan berhenti berdagang dan melamar menjadi perawat bayi jika saat itu tiba!" Bibi Ren terlihat sangat antusias dengan gagasannya mengawinkan kedua gen bocah sableng di hadapannya itu.

"Bibi...! Iyuh...! Itu sangat menjijikkan!" protes Rin, seraya mencubit gemas pipi gembil Bibi Ren.

"Itu tidak akan terjadi, Bibi Ren. Di koloni ini masih banyak cewek-cewek yang siap memproduksi bayi-bayi bersama gue. Antreannya terlalu panjang. Rin bahkan tidak akan lolos pada seleksi pertama!" sesumbar Jin.

"Siapa juga yang mau ikeh-ikeh kimochi skidipapap sawadikap biskuit ahoy sama lo, Coeg!" geram Rin.

"Hohoho. Kalian benar-benar menggemaskan! Bibi juga dulu pernah seperti kalian ini, dengan kekasih Bibi. Bertengkar-tengkar dahulu, bertindih-tindih kemudian! Unch!" ucap Bibi Ren dengan penuh penghayatan, mengenang masa mudanya. Rin semakin merasa iyuh dan salting.

Sore hari pasar Koloni semakin ramai. Aneka jenis manusia dan species hilir mudik mencari makan dan aneka barang kebutuhan. Santuy City menerima tamu dari berbagai macam kelompok dan species. Seekor Chimera dan Penghisap sekalipun mendapatkan hak-hak yang sama, selama mereka cukup beradab mematuhi peraturan dan memberikan keuntungan pada koloni. Sementara di luar wilayah koloni berlaku hukum rimba, "memakan dan dimakan". Geng-geng manusia, chimera dan penghisap menguasai wilayah-wilayah tak bertuan itu.

VALTERRA (Open PO)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang