10. Perdagangan Budak

26 6 2
                                        

“Budak-budak selalu menjadi komoditi primadona di pasar koloni

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Budak-budak selalu menjadi komoditi primadona di pasar koloni. Mereka umumnya dibeli oleh perusahaan dan penguasa untuk dipaksa bekerja di tempat-tempat paling menjijikkan dan berbahaya. Itulah nasib terbaik seorang budak. Kemungkinan terburuk mereka akan dibeli oleh ilmuwan-ilmuan gila sebagai objek percobaan sepanjang sisa hidupnya.” ~ Catatan Tanpa Nama, Hari Berniaga, Minggu Pertama, Bulan Pertama, Tahun 90 Bumi baru

10.  Perdagangan Budak

"Salam santuy…! Yang gak jawab mandul!" seru Jin, setibanya di atas.

"Salam santuy uga, Slurd. Biarin gue mandul, dari pada harus bikin bayi-bayi yang mirip alien kentang itu sama lo!" jutek Rin.

Alih-alih menunggu Rin turun, Jin memilih bergabung bersamanya. Sebagai tempat latihan mereka, Bossque SkyPark memiliki apa yang dia butuhkan untuk mengasah kekuatannya: logam! Ada banyak potongan besi teronggok di sana, menunggu perintah Jin. Jin merangkai potongan besi menjadi menara, yang mengangkat tubuhnya ke atas, menyejajari Rin.

"Gak usah geer, bisa? Gue kan cuma becanda. Masa sih elo segitu serius mikirinnya? Ahahaha. Asique. Jadi terharu gue." Jin menoel hati-hati dengan ujung jari pipi Rin.

"Colek sekali lagi gue lempar lo ke tengah-tengah zombie bucin. Gue serius." Suasana hati Rin memang sedang tidak santuy, ditambah tubuhnya yang sedang demam.

Kabut mulai menyingkir, menampakkan wujud kota di bawahnya. Bangunan-bangunan yang porak-poranda. Timbunan sampah dan rongsokan. Jalan-jalan dan jembatan lama yang terputus akibat gerakan lempeng bumi.

"Ke Pasar Koloni ngilang sendiri."

"Cakeeep...!"

"Bukan pantun, bangcath...!" Rin menabok gemas pipi Jin.

"Lha, bukan?" Jin memegangi pipinya dengan sebelah tangan, seraya menggaruk-garuk bijinya yang tidak gatal dengan tangan yang lain.

"Elo ngapain, heh, gaya banget pergi sendiri ninggalin gue? Mulai ada rahasia-rahasiaan nih antara kita, Slurd?" sinis Rin.

"Asique, antara kitah..., nyahaha. Elo kan lagi serius cipika-cipiki sama Bibi Ren. Ya gue pergi sendiri aja," dalih Jin.

"Terus? Gue masih belum puas!" tuntut Rin.

"Gue pergi ke lapak dagangannya Mr. Fred. Lo tau gak, Beb—"

"Sampai situ gue tau, lanjut," potong Rin.

"Mr. Fred ternyata bukan cuma penjual perlengkapan survival dan souvenir biasa, bahkan itu hanya kamuflasenya! Dia sebenarnya penjual pet dan budak! Greg, si Chimera ngehek itu hanya salah satu budak yang kemudian menjadi kepercayaannya. Dia memiliki ratusan koleksi budak dan katanya akan selalu dia update pasokan budaknya. Njirr…!" tutur Jin.

"Estegeh! Species apa aja yang dia jual?"

"Lengkap, Beb. Gue lihat dia punya budak dari aneka species; hooman, cyborg, chimera, penghisap, bahkan sepertinya ada species yang belum gue kenal sama sekali. Budak-budak yang mereka tampilkan di pasar koloni ini hanya sample. Pelanggan juga bisa memesan budak yang mereka inginkan dan Mr. Fred akan berusaha mencarikan serta mewujudkannya, apapun caranya!"

"Hmm … jadi misalnya gue minta Mr. Fred cariin budak cowok, rambutnya silver, matanya biru agak sipit, hidungnya mancung, bahunya kekar, staminya seperti kuda jantan yang siap menggagahi selusin kuda betina, bisa?" Rin tersenyum jahil.

"Ya, bisa. Eh bentar, kok ciri-ciri yang lo sebutin kayaknya gue kenal?" Jin mengernyitkan dahinya.

"Perasaan lo aja kok, boedjang. Ehe. Yawda, lanjutin cerita lo!"

"Eh, sampai mana tadi?"

"Koleksi budak-budaknya Mr. Fred, Jin zheyeng."

"Oh, iya, budak-budak ini lo tau kan, mereka dapatkan dari mana?"

"Yoyoi. Seseorang bisa menjadi budak karena dia tawanan perang, terjerat hutang atau bernasib malang menjadi korban penculikan."

"Betul. Tapi ini bukan lagi sekadar penculikan. Mereka melakukan perburuan!"

"What? Jadi mereka dengan sengaja memburu orang-orang merdeka?" Rin terkesiap ngeri.

"Iya, Beb. Mereka bekerjasama dengan pasar-pasar gelap dan organisasi-organisasi hitam yang membutuhkan pasokan budak untuk berbagai kebutuhan mengerikan!"

Rin bergidik membayangkan nasib yang akan dialami para budak tersebut. Kemungkinan terbaik mereka menjadi pekerja kasar di tempat-tempat paling menjijikkan dan berbahaya. Kemungkinan terburuk mereka dibeli oleh ilmuwan-ilmuan gila sebagai bahan eksperimen atau menjadi "hewan ternak" bagi penghisap. Budak-budak yang tak laku memiliki nasib yang paling tragis, mereka langsung berakhir di pasar-pasar daging.

"Dan elo tau budak dari species apa yang harganya paling mahal?" lanjut Jin.

"Penghisap?” terka Rin, “gue denger banyak imuwan sinting yang berlomba-lomba mencoba membiakkan Chimera persilangan Penghisap dan species lainnya."

"Penghisap is so last year, zheyeng. Ada species lain yang paling dicari saat ini!" Jin menatap Rin lekat-lekat, seperti hendak membuat Rin memahami informasi yang akan dia sampaikan sebelum itu terlontar langsung dari mulutnya.

"VALTERRA...," gumam Rin, menangkap isyarat Jin.

"Yoyoi. Mereka telah diam-diam melakukan perburuan pada Valterra. Orang-orang dari Optimus Corp dan sejumlah Lord kaum penghisap berani membayar mahal untuk setiap Valterra!"

"Estegeh…! Tapi bagaimana bisa? Bagaimana mereka bisa tau banyak tentang Valterra? Apakah ada banyak orang lain seperti kita di luar sana?" Rin Nampak gelisah.

"Cukup banyak sepertinya, hingga mereka sampai perlu memberi kita sebuah nama."

"Kita bahkan tidak tau siapa sebenarnya diri kita, mengapa kita terlahir dengan kekuatan terkutuk ini!" geram Rin.

"Ya, kita harus segara mencari tau lebih dulu, monster seperti apakah kita ini, zheyeng, sebelum kita menentukan langkah selanjutnya."

"Tapi siapa yang lebih tau tentang Valterra, selain diri kita sendiri? Satu-satunya orang, eh robot, yang sepertinya tau banyak tentang jati diri kita cuma Lun. Dan gue udah sukses ngebuang dia entah ke mana!" Rin nampak sangat frustasi, sehingga nyaris lupa pada demam tubuhnya.

Namun tiba-tiba…,

"Kaka Rin...! Kaka Jin...! Bisa turun dulu gak, kelen?" jerit seseorang di bawah sana. Suara sok imud dan manjanya terekam kuat di kepala Rin.

"Njirr, panjang umur ya, dia. Barusan gue omongin!" Rin tidak tahu harus kesal atau bersyukur, Lun datang di saat yang tepat. Rin perlahan meluncur ke bawah.

"Lun itu cyborg. Dia bisa mengganti anggota tubuhnya yang rusak, termasuk jantung dan tempurung kepalanya. Jelas umurnya bisa lebih panjang dari hooman." Jin lalu memerintahkan besi-besinya membubarkan diri satu persatu, besi-besi itu berdenting berserakan di bawah sana.

"Aww! Kaka Jin nackal!" gerutu Lun saat sebagian besi jatuh mendarat di kaki dan sebagian tubuhnya.

"Ngapain lagi lo ke sini, mau gue gebok lagi?" ancam Rin. Jin langsung mengambil kendali pada tubuh Lun, membuatnya tidak bisa bergerak.

"Please, jangan lakukan itu lagi, pada akoh, Kaka Rin, Kaka Jin! Kasihanilah akoh, cyborg yang malang dan sebatang kara enih! Hiks!" isak Lun. "Akoh janji akan pergi sendiri setelah ini, jika kalian menginginkanya!" Lun menampilkan ekspresi sangat memelas.

"Beklah. Sekarang katakan apa maksud lo sebenarnya, sebelum kami berubah pikiran." Jin maju mendekati Lun.

"Jangan deket-deket gitu dong, Kaka Jin! Akoh grogi kalau sedekat ini dengan kamoh. Please...!" Lun mulai lebe.

"Bentar. Hoeek...!" Rin benar-benar muntah. Entah karena memang dia sedang sakit atau karena mual melihat ketengilan Lun.

"Jalan-jalan ke Santuy City...," ucap Lun tiba-tiba.

Rin dan Jin bertukar pandang, "Apaan sih, bangcaaath...!"

"Apa susahnya sih jawab 'cakeeep', Ka? Gak bisa ya, lihat akoh bahagia sedikit?" drama Lun.

"Ini bukan waktu yang tepat buat pantun ya, Kimak!" sembur Rin.

"Ck ck ck..., Kaka Rin sungguh tydack santuy, eaaa."

"Lun, sebaiknya lo ngomong sekarang, sebelum Rin benar-benar kehilangan kesabarannya dan mengirim lo langsung ke pabrik pendaur ulang robot gak guna," saran Jin.

"Uhmm, baiklah, Kaka Jin. Akoh telah gagal meyakinkan kalian. Tapi izinkan akoh melakukan hal terakhir yang bisa akoh lakukan untuk membantu misi masterku menyelamatkan Valterra dan bumi enih! Please…!" iba Lun.

"Maksud lo apaan sih, Coeg?" Rin makin gemas.

"Kalian boleh tidak percaya pada akoh. Tapi kalian pasti akan memercayai orang ini. Dia seorang Ketua di Santuy City dan dia juga seorang Valterra!" cetus Lun.

"Hmm, kayaknya gue kenal...," sergah Jin.

"Jangan-jangan dia...," timpal Rin.

"Tetooot! Salah! Ehe." Lun santuy.

"Gue kan belom jawab apa-apa, Kimak!" sewot Rin.

"Gak jelas emang nih robot rusak!" Jin tak kalah gemas.

"Yakan akoh juga belum sebutin ciri-cirinya. Sotoy bat sih kalian, Kaka!" sahut Lun.

"Jadi siapa sih orang yang lo maksud ini?" Jin nampak sangat gusar.

"Yoyoi. Gak mungkin ada Valterra lain tanpa sepengetahuan kami selama ini. Kalaupun ada, kenapa dia membiarkan kami kebingungan tanpa petunjuk apapun tentang jati diri kami?" cecar Lun.

"Sabar, Kaka Jin. Sabar, Kaka Lun. Pepatah mengatakan orang sabar bijinya kembar! Eh, gitu bukan ya? Lupa akoh."

Rin dan Jin sudah bersiap menggebok Lun, jika sekali lagi robot itu melantur.

"Akoh akan mengajak orang ini menemui kalian, Kaka. Besok di tempat dan jam yang sama. Okah?" tawar Lun.

"Besok Hari Berkumpul. Kami akan datang setelah ritual apel koloni!" sahut Jin, setelah mendapatkan anggukan Rin.

"Beklah, deal, Kaka. Sekarang akoh pamit dulu, eaaa. Jangan kangenin Lun ya, Ka. Unch!" Gadis cyborg itu kemudian melangkah ke sisi gedung.

"Lo mau lompat?" Jin terkesiap.

"Hu'umh. But don't worry, Kaka Jin. Akoh masih ingin hidup kok. Ehe." Lun tersenyum, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun Rin dan Jin tetap menanti dengan tegang apa yang akan dilakukan cyborg sinting itu.

"Baling-baling besi rongsok...!" seru Lun sebelum melompat. "Dadagh..., Kaka Rin! Dadagh, Kaka Jin...!"

Lun terbang dalam posisi mundur, melambaikan tangan pada Rin dan Jin. Tapi sepertinya ada yang tidak beres. Baling-baling itu tidak membawa Lun semakin tinggi. Lun semakin turun ke bawah…, kemudian.—

"Aaaa...! tolong…!" Tubuh Lun menghantam salah satu gedung.

"Njirrr...! Perlu kita tolongin gak?" respon Jin.

"Gak usah, nyawanya kan ada sembilan. Kalau sebelumnya aja dia bisa meloloskan diri dari wilayah kekuasaan geng pengepul besi tua maka gue yakin kali inipun dia akan baik-baik saja!" simpul Rin.

"Aaaaakk...! Tolong...! Pergi kalian, zombie bucin nackal...! Dasar zombie mecum...! Kaka Rin...! Kaka Jin...! Tolong akoh...!" jerit pilu Lun.

Rin dan Jin saling pandang. Merekapun sepakat, Lun akan baik-baik saja. (*)

VALTERRA (Open PO)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang