Bagian 21

1.3K 213 11
                                        

Rose mengantar Lisa ke kantornya setelah Lisa ikut menikmati sarapan mewah di kediaman keluarga Park

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rose mengantar Lisa ke kantornya setelah Lisa ikut menikmati sarapan mewah di kediaman keluarga Park. Sepotong steak premium dengan daging super mahal disajikan untuknya pagi ini. Saat mereka masih bersekolah dulu sampai hari ini, Lisa tidak pernah berfikir sekaya apa temannya– sampai pada hampir 12 jam terakhir ini, ia baru saja menyadari sejauh apa perbedaan dirinya dengan Rose.

“Aku merasa bersalah karena membuat konglomerat sepertimu harus mengantarku pagi-pagi begini,” komentar Lisa begitu mobil Rose berhenti di depan kantornya. Setelah mendengar cerita Rose tentang Jiyong, mendengar bagaimana perasaan Rose sebenarnya terhadap pria itu. Rose menoleh, menatap Lisa dengan senyum canggung di wajahnya. Rose merasa sedikit sungkan usai mengatakan seluruh perasaan serta pikirannya yang sebenarnya kepada Lisa semalam.

“Maaf… maafkan aku karena mengatakan semuanya padamu. Aku tidak ingin mengatakan semua itu kepadamu tapi kau yang mendesakku untuk mengatakannya. Lisa-ya… aku benar-benar tidak pernah berfikir untuk berhenti berteman denganmu. Aku membenci pria itu, tapi aku tidak bisa membencimu. Kau selalu ada bersamaku, sejak dulu,” balas Rose, tentu tanpa berani melihat ke arah gadis yang tengah ia ajak bicara. Dengan tenang, Lisa menganggukan kepalanya, menunjukan pada Rose kalau ia mengerti bagaimana perasaan gadis itu.

Tentu Lisa tahu, sepenting apa hubungan pertemanan itu bagi Rose. Tanpa Lisa, Rose tidak akan pernah mampu menikmati masa-masa sekolahnya. Tanpa Lisa, Rose tidak akan punya cukup rasa percaya diri untuk berani bicara pada oranglain. Kalau dulu Rose yang begitu sering bergantung pada Lisa, kini Rose ingin Lisa yang bergantung padanya. Rose sangat igin menjadi sebuah sandaran yang sempurna bagi Lisa, karenanya ia tidak ingin Lisa megetahui masalah serta sisi terburuk dalam dirinya. Rose tahu kalau ia tidak cukup baik, namun di depan orang yang dulu selalu menyelamatkannya, wanita itu ingin terlihat selalu sempurna. “Kau bisa tinggal di rumahku sekarang. Aku akan menemanimu mengambil barang-barangmu dari rumah Jiyong oppa sore ini, setelah kau selesai bekerja,” tawar Rose, tepat setelah Lisa berpamitan dan hendak keluar dari mobil Rose. Seblumnya Rose tidak bisa mengajak Lisa ke rumahnya, ia tidak berani mengajak Lisa untuk bertemu dengan orangtuanya, ia khawatir Lisa akan curiga mengenai kehidupannya kalau ia membawa gadis itu ke rumahnya, namun sekarang semua kekhawatiran itu telah sirna.

“Kurasa tidak,” jawab Lisa sembari mengulas senyum terbaiknya. “Bukan karena aku tidak ingin melihatmu, jangan salah paham, tapi aku sudah harus pindah ke rumah baruku. Akan ku kirimkan alamatnya setelah ini, kau harus datang dan melihat rumahku,” lanjutnya, sedikit berbohong karena tidak mungkin Lisa memberi tahu Rose kalau ia merasa sangat miskin kalau tinggal di rumah Rose. Sebagian orang mungkin akan memanfaatkan keadaan untuk merasakan tinggal di apartemen mewah milik keluarga konglomerat seperti keluarga Rose. Lisa bahkan yakin orangtua Rose tidak akan keberatan kalau putri mereka satu-satunya itu meminta mereka untuk menyewakannya sebuah apartemen di sebelah tempat tinggal mereka. Anggaplah, kebaikan Lisa dimasa sekolahnya dulu membuatnya layak untuk mendapatkan hadiah-hadiah yang Rose tawarkan, namun kemewahan yang Rose tawarkan justru terasa terlalu membebani bagi Lisa.

“Rossie, bagaimana kalau kau berhenti menemui Jiyong?” tawar Lisa, setelah Rose berjanji akan berkunjung ke rumah barunya. Kini Lisa sudah berdiri di luar mobil, gadis itu baru saja menutup pintu mobilnya dan Rose baru saja membuka jendela mobilnya untuk menyapa Lisa sekali lagi. “Mengikat Jiyong bersamamu tidak akan membuatmu merasa puas. Buang saja pria itu dari hidupmu, aku akan membantumu mengembalikan rasa percaya dirimu, seperi dulu,” tawar Lisa, yang sialnya hanya Rose jawab dengan sebuah senyuman tipis dan angukan kecil.

“Cara yang dulu selalu kita lakukan tidak akan berhasil, aku sudah mencobanya. Bicara pada bayanganku di cermin tidak lagi membantu. Tapi terimakasih karena kau peduli.”

“Kalau begitu, aku akan memberimu sebuah rahasia,” jawab Lisa yang tentunya membuat Rose penasaran dengan rahasia tersebut. “Pergilah berlibur, tapi bukan menemui teman-temanmu, pergilah ke tempat yang belum pernah kau kunjungi, tempat yang tidak akan mengingatkanmu pada kenanangan apapun,” ujar Lisa, menjawab rasa penasaran Rose.

“Kau sudah membuktikan keberhasilannya?”

“Belum, kau yang harus membuktikannya. Kalau itu berhasil untukmu, aku juga akan melakukannya,” jawab Lisa yang pada akhirnya tetap masuk ke dalam gedung tempatnya bekerja dan meninggalkan Rose di mobilnya.

Jam berputar dan hari pun akhirnya berakhir. 40 menit setelah jam kerja berakhir, Lisa membereskan barang-barangnya untuk kemudian pulang ke rumah Jiyong, ia membutuhkan kopernya yang sekarang ada di rumah Jiyong. Lagi-lagi dengan taksi, Lisa kembali datang ke rumah si produser kaya yang ternyata belum cukup kaya untuk keluarga Park itu. “Bahkan G Dragon yang setiap tahunnya dapat milyaran royalti saja masih belum cukup kaya raya untuk keluarga Park. Apa yang sebenarnya ku miliki sampai berani memberi saran pada putri mereka? Augh aku pasti sudah gila,” keluh Lisa, sembari menyeret kakinya melangkah memasuki pekarangan rumah Jiyong.

Lisa hendak membuka pintu rumah itu, ia masih belum mengingat kode pintunya dengan jelas namun dengan penuh percaya diri ia mengulurkan tangannya untuk menekan tombol di kunci pintu rumah itu. Beruntungnya, di saat Lisa salah menekan angka pertama dari kode pintu itu, pintunya sudah lebih dulu terbuka dan Seungri yang membukakannya. “Ya! Jangan pergi! Bantu aku membereskan rumah ini!” seru Jiyong, mendahului mulut Lisa dan Seungri yang ingin saling menyapa. Tidak lama berselang, hanya dalam waktu se per sekian detik, sosok G Dragon itu muncul di belakang Seungri, dengan sebuah kantong sampah besar di tangannya.

“Kalian sedang bersih-bersih?” sapa Lisa, memecah keheningan karena sebelumnya Jiyong berencana membersihkan rumah sebelum Lisa melihat kekacauan yang ada disana.

Pada akhirnya, mau tidak mau Seungri harus memberikan Lisa jalan untuk masuk ke dalam rumah itu dan mau tidak mau juga, Jiyong harus menunjukkan rumah berantakannya kepada Lisa. Pecahan vas keramik dan beberapa pot kaca berserakan di lantai, tangkai-tangkai bunga juga masih berbaring di lantai, kemudian sedikit tanah dari pot bertanaman hidup yang hancur, pecahan botol wine, belum lagi beberapa gelas yang juga hancur. Karpet yang sebelumnya terlihat cantik dengan bulu-bulu halus, kini lengket karena tumpahan wine yang jatuh di atasnya. Perabot yang berantakan, juga barang-barang yang rusak dan hancur membuat ruang tengah rumah Jiyong terlihat begitu menyedihkan.

“Woah… dimana kalian tidur semalam?” tanya Lisa, di susul gerakan tangan Seungri yang menunjuk dua kamar tidur tamu– Jiyong tidur di kamar tidur tamu yang Lisa pakai, sedang Seungri tidur di kamar tidur tamu sebelahnya. “Syukurlah, ku pikir kalian tidak tidur semalaman. Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaianku kemudian membantu kalian membereskan tempat ini,” ujar Lisa, tanpa pikir panjang lagi, gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan sebuah kaos dan celana olahraga, mengikat asal rambutnya kemudian membantu Jiyong dan Seungri untuk membersihkan rumah itu. Pada akhirnya, Seungri yang sebelumnya berniat melarikan diri, sekarang justru membantu Jiyong mengangkat meja dan menarik karpet.

“Setelah bertahun-tahun debut, ini kali pertama aku membersihkan rumah lagi,” keluh Seungri sembari membersihkan pecahan kaca, berjongkok di lantai, mengambil satu persatu pecahan kaca bersama Lisa. “Anggap saja kau sedang mengenang masa lalu, tuan Lee,” ucap Lisa, berusaha terdengar sopan namun justru membuat Jiyong terkekeh di tempatnya– pria itu sedang menggosok lantai, berusaha menghilangkan wine yang mengering dan membekas di lantai.

“Kau bisa bicara dengan santai padanya, kau bahkan boleh menyuruh-“

“Jangan bicara… seseorang yang menyebabkan kekacauan ini tidak berhak bicara,” ujar Lisa, memotong ucapan Jiyong hanya dengan beberapa kata serta lirikan sinis. Jiyong yang sebelumnya ingin menunjukan kuasanya atas Seungri, kini harus menutup rapat mulutnya karena teguran Lisa.

“Akhirnya ada yang bisa menutup mulut sombong leader Big Bang itu,” susul Seungri masih sembari mengerjakan pekerjannya.

Setelah hampir satu jam membersihkan rumah itu, kini mereka hanya punya tugas teakhir– Seungri memasukan karpet kotor ke mobil dan mengantarnya ke binatu, Jiyong menyedot debu sedangkan Lisa menyiapkan makan malam. “Aku sudah bicara pada Rose,” ucap Lisa, sengaja bicara dengan cukup keras agar Jiyong dapat mendengarnya. “Dia tidak akan menemuimu lagi, jadi dia memintaku untuk membuang sisa barang-barang yang ia tinggalkan disini. Lalu mulai besok, aku akan tinggal di rumahku sendiri,”

“Ini belum satu pekan, mereka sudah selesai merenovasi rumahmu?” balas Jiyong, yang lebih memilih untuk mengabaikan ucapan Lisa mengenai Rose.

“Mereka belum selesai dengan rak dan belum memindahkan barang-barangku, tapi aku sudah meminta mereka memasukan ranjang dan lemarinya lebih dulu agar aku bisa tinggal disana,” jawab Lisa yang tentu saja tidak membuat Jiyong merasa lebih baik. Pria itu tidak ingin Lisa pergi terburu-buru seperti itu. Ia khawatir Lisa akan kesulitan karena tinggal di tempat yang sama sekali belum siap di tinggali. Namun alasan apa yang dapat Jiyong berikan untuk menahan Lisa sekarang? Hanya kekhawatiran tidak akan membuat Lisa bertahan di rumahnya selama beberapa hari.

Tidak sampai 20 menit, Seungri sudah kembali dari binatu. Pria itu datang bersamaan dengan Lisa yang selesai menyiapkan makan malamnya. Jiyong dan Seungri menghampiri Lisa ke dapur dan di saat itulah keduanya bertukar tatapan bingung. Di meja makan, Lisa hanya menaruh sebuah mangkuk besar dengan lima mangkuk nasi instan dan beberapa lauk dari lemari es. “Kau belum menyelesaikan supnya?” tanya Jiyong dan Lisa menggelengkan kepalanya. “Aku lelah, jadi tidak membuat sup,” jawab Lisa yang kemudian memasukan lima mangkuk nasi instan itu ke sebuah mangkuk besar, gadis itu juga mencampurkan beberapa lauk ke dalam mangkuk besarnya lalu mengaduk semuanya.

“Ah… nasi campur seperti di drama? Aku lebih suka-“

“Kalau rasanya aneh, aku akan memesan-“

Seungri dan Jiyong hendak berkomentar disaat Lisa tengah mengaduk nasi dan lauk-lauknya, namun komentar keduanya harus terhenti karena satu sendok nasi baru saja sukses masuk ke mulut masing-masing. Masih sembari mengemut sendok di mulut masing-masing, keduanya lantas bertatapan, bertukar pendapat seolah mereka bisa membaca tatapan satu sama lain. “Tidak buruk,” komentar keduanya yang justru sama-sama tengah mengambil sendok kedua mereka.

Rasanya tidak seberapa enak, kalau menurut Lisa pribadi. Ia tidak bisa menemukan pasta cabai andalannya, karena itu nasi itu tidak terasa begitu enak untuk Lisa. Untungnya, rasa lapar telah menyelamatkannya. Baik Seungri maupun Jiyong tidak bisa berhenti menelan nasi-nasi itu hingga mereka menelan butir terakhirnya.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
After The Man's DeathTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang