"Heyy..." teriak seorang pria yang membuat kita melihatnya
"Hai ka" ucap Sella, Leni dan Nina berbarengan
"Kalian darimana aja sih, kok baru nyampe" tanya kak Reyhan
"Macet tau kak" jawab Leni
"Ya udah yu kita jalan" ucap kak Aldi
"Kenapa sih Risya sama Edwin diem aja? Tanya kak Fery padaku dan kak Edwin yang sedari tadi masih bingung dengan obrolan mereka
"Eh iya ka, ga papa kok" jawabku dengan wajah bingung, dan kak Edwin hanya diem saja tidak menjawab
Oh iya kak Reyhan, Aldi dan Fery adalah temannya kak Edwin. Bisa di bilang mereka itu seperti saudara, karena sangat dekat sekali.
"Eh kita foto yu, ayo Ris" ucap Sellla
Kita berempat pun difotokan oleh kak Aldi. Namun setelah itu, tiba-tiba.
"Aku mau dong foto berdua sama Nina" ucap kak Aldi. Dan akhirnya aku pun memfotokan mereka berdua.
"Sekarang giliran aku dan Leni" ucap kak Reyhan
"Udah itu aku sama Sella juga ya" ucap kak Fery. Mereka pun aku fotokan ditempat yang sama secara bergiliran.
"Nah sekarang giliran Edwin sama Risya" ucap kak Aldi sambil mengambil handphone yang ada di tanganku.
"Eh..eh.. Apa apaan sih" ucapku
Mereka mendorong aku dan kak Edwin agar bisa foto bareng.
"Ga usah dorong-dorong, gue bisa jalan sendiri" ucap kak Edwin
Akhirnya aku dan kak Edwin pun berada di spot foto yang sama dengan mereka.
"Deketan dong" ucap kak Aldi. Kak Edwin pun mendekat ke arahku.
"Sekarang senyum yaa, satu.. duaa... tiga" hitung kak Aldi
"Sekali lagi dong" ucap kak Aldi
"Udah ah ayo kita ke tempat yang lain, nanti keburu siang" ucapku sambil pergi berjalan, namun tiba-tiba tanganku ditahan oleh kak Edwin, yang akhirnya kak Aldi ngambil foto ketika kak Edwin sedang pegang tangan aku. Ya ampun itu bener- bener buat jantung aku deg-degan. Kaki akupun rasanya sulit untuk bergerak.
Sungguh ini benar-benar membuatku tak bisa bergerak. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku pikir mungkin detak jantungku terdengar olehnya. Tak tau aku harus bagaimana untuk menenangkan jantung ini.
"Hei, biasa aja kali. Ga usah sampai deg-degan kaya gini" ucap kak Edwin menyadarkanku
"Hah.. Eh.. Aku ga deg-degan kok" jawabku mengelak
"Nadi ga bisa bohong" ucapnya sambil memegang nadi di tanganku
"Cieeee Risyaaa...." sorak teman-temanku
"Ehmm udah ayo lanjut jalan lagi" ucapku sambil melepas pegangan tangan kak Edwin dan mulai berjalan
Benar-benar suasana saat ini sungguhlah indah. Maka nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan. Matahari yang menyinari bumi hari ini begitu terik, namun tak terasa panas karena diikuti oleh angin yang hilir mudik memberi kesejukan. Rasanya ingin aku berlama-lama disini bersamanya, bersama mereka yang selalu ada saat aku sedih maupun senang.
Terimakasih Tuhan, engkau telah mengirimkanku mereka untuk menemaniku di dunia ini. Sungguh aku beruntung memiliki mereka yang tak pernah menilaiku dengan sebelah mata. Yang selalu mengingatkanku dikala aku salah, dan selalu menyemangatiku dikala aku terpuruk.
"Hei ngelamun mulu" sapa kak Edwin yang menyadarkanku dari lamunan ini
"Eh iya kak ada apa?" tanyaku polos karena terkejut oleh sapaannya
"Naik perahu yuu" ajak Sella
"Ayoooo" ucap semuanya serentak kecuali aku dan kak Edwin.
"Risya..?" tanya Nina
"Ehm... Kayanya aku engga deh, aku nunggu disini aja ga papakan?" jawabku
"Hem... Payah" sindir kak Edwin
Diremehkan oleh seseorang adalah salah satu sikap yang paling aku tidak sukai. Maka dari itu dikala ada seseorang meremehkanku, aku akan membuktikan padanya kalau aku bisa.
"Oke fine, aku ikut. Tapi aku sama Nina naik perahunya" jawabku lagi
"Apaan sama Nina, gue mau sama Nina Ris" ucap kak Aldi
"Udah kamu sama Edwin aja" balas kak Reyhan
"Ya udah buruan ga usah banyak ngobrol, keburu sore nih. Airnya nanti keburu naik" ucap kak Edwin
Semuapun menaiki perahu masing-masing, dan aku harus satu perahu dengan pria yang menyebalkan ini. Tapi kenapa hati ini berdebar terus sihh. Jadi bingung dengan perasaan ini. Terkadang aku sebal padanya, dan terkadang pula aku suka dengan senyumnya. Ahhh...
"Bentar dong kak, aku kan belum naik" ucapku saat kak Edwin mulai menggerakkan perahunya
"Oke, buruan" jawabnya lagi
Perahupun mulai melaju, dan kalian pasti tahukan siapa yang mendayuh. Ya, betul kak Edwin lah yang mendayuh. Jujur, sebenarnya aku tuh ga bisa mendayuh haha.
"Ris, tolong fotoin aku dong" teriak Nina dari perahunya.
"Iya.. Satu..dua...tiga..." ucapku sembari menekan tombol kamera.
"Sekarang aku fotoin kalian yaa" ucap Nina lagi
Aku dan kak Edwin pun berpose untuk di fotokan oleh Nina. Tak terasa langitpun mulai gelap. Matahari mulai redup. Air mulai pasang. Dan kami mulai bergergas untuk pulang.
Tak lupa kami melaksanakan sholat magrib berjamaah terlebih dahulu. Hingga akhirnya kami sampai di rumah masing-masing. Mengenang betapa banyak kenangan yang kami dapatkan hari ini.
Rasanya ingin sekali waktu terulang kembali, kembali menikmati waktu bersama mereka, mereka yang selalu ada disaat aku senang ataupun sulit, yang selalu mengingatkanku saat aku salah, dan selalu memberiku semangat saat aku terpuruk.
Kawan terimakasih untuk semuanya. Takkan pernah bisa ku balas semua pengorbanan kalian. Takkan pernah kulupakan semua kenangan manis ataupun pahit yang telah kita lalui bersama. Hingga tiba saatnya nanti maut yang memisahkan kita.
Kami pun berjalan menuju pintu keluar. Saat di perjalanan kami menemukan kucing yang sangat lucu sekali. Bulunya yang berwarna hitam dan putih dengan ekor yang panjang, membuat kucing ini sangat lucu untuk pecinta kucing. Seketika semua memberi isyarat pada kucing itu agar menuju kearah kami.
"Meng..mengg sini meng" kata-kata yang hampir sama mereka semua ucapkan adalah itu
Namun tidak denganku. Aku adalah satu-satunya orang yang takut dengan kucing saat ini. Mereka semua berani memegang kucing, sedangkan aku menjauh dari mereka. Alhasil mereka menjahili aku dengan kucing itu. Sebenarnya aku juga suka kucing, tapi aku takut jika kucing itu mendekat apalagi kalau aku disuruh memegangnya aku takut sekali.
"Risya.. Mau kemana?" tanya Nina
"Engga kemana-mana kok Nin, aku cuman mau duduk disana aja" jawabku
"Sini Ris, lucu banget nih kucingnya. Eh iya Risyakan takut sama kucing" ucap Nina
"Oh, pantesan dia ngejauh, huh payah" ucap kak Edwin
"Apaan sih" ucapku kesal sambil terus berjalan menuju tempat duduk yang aga jauh dari mereka
Aku membuka ponselku untuk mencari kesibukan sendiri. Tiba-tiba ada sesuatu yang menginjak pundakku. Saat ku lihat pundakku ternyata itu kaki kucing.
"Astagfirullah" ucapku sembari berdiri dan berlari menjauhi kucing itu
"Sumpah ya ga lucu" ucapku dengan nada marah
Akupun pergi menuju pintu keluar. Mereka memanggilku dari belakang, tapi tidak ku hiraukan. Aku tetap berjalan cepat menuju pintu keluar sembari memesan ojek online agar aku bisa pulang duluan dari mereka.
Mau tau lanjutan selengkapnya? Jangan lupa klik bintang dan beri saya komentar yaa.
Terimakasih untuk kalian yang mau membaca cerita ini.
Sungguh ini cerita pertamaku di wattpad. Jangan lupa terus support aku ya
Terimakasih😊
KAMU SEDANG MEMBACA
My Senior Kampus
Fiksi RemajaSebagaimana kenyataannya senior-senior di kampus itu memang lah menyebalkan, walaupun tak semuanya begitu tetap yang ada di pikiran mahasiswa baru, senior akan selalu menyalahkan junior. Kali ini saya akan menceritakan bagaimana sih rasanya jadi ma...
