12 - Cinta yang Berubah Bentuk

283 10 0
                                        

Tiga bulan kemudian.

Haira telah mengubur peristiwa menyakitkan beberapa bulan lalu di liang memori terdalam, agar bisa fokus memperjuangkan satu tujuan. Ia ingin segera lulus kuliah.

Sekarang, ia sudah mengantongi syarat-syarat untuk skripsi. Nilai semua mata kuliahnya berkisar di A dan B, serta satu kali C. Haira mau skripsi sambil mengulang yang terburuk itu dan mengambil dua mata kuliah lain untuk menggenapi jumlah SKS.

"Haira, kamu yakin mau skripsi?" Nadine bertanya sambil mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) online lewat laptop sambil duduk di bangku taman.

"Seratus persen yakin," Haira menjawab sembari melakukan hal yang sama seperti Nadine.

"Kenapa buru-buru? Kamu skripsi tahun depan saja bareng aku, supaya kita lulus sama-sama," Nadine membujuk.

"Kelamaan."

"Kamu mau cepat-cepat lulus kuliah, karena masih sakit hati sama mantan pacar?" Nadine bertanya lagi sambil menyunggingkan senyum.

"Enggak kok," Haira menyahut cepat.

"Atau, karena kamu enggak mau wisuda bareng dia?" Nadine meledek lagi. "Gosipnya, dia skripsi tahun depan."

"Aku enggak peduli. Aku skripsi bukan karena dia."

"Lantas?"

"Aku enggak mau merepotkan orang tua. Kasihan mereka kalau harus menanggung kuliah aku terlalu lama. Kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti?"

"Tapi aku mau bertanya satu hal. Boleh?" Nadine berhenti mengetik dan memandang teman di kanannya dengan wajah serius.

"Gama lagi?"

"Kamu cenayang, ya?"

"Jangan bercanda terus, Nadine."

"Sorry. Aku cuma mau tahu hubungan kalian sekarang."

"Enggak ada," Haira bergumam sambil mengetik.

"Enggak ada apanya?"

"Enggak ada komunikasi lagi di antara kami. Aku juga sudah enggak aktif lagi di HIMAJUR, setelah pembubaran panitia pameran foto," Haira berhenti menekan tuts-tuts pada laptop hitamnya, lalu memperhatikan Nadine.

"Aku lihat, kamu memang menghindar."

"Setiap datang dan pulang, aku selalu menjauhi tempat-tempat yang memungkinkan aku bertemu dengan dia. Sekretariat, kantin, dan perpustakaan."

"Terus kalau kamu lapar atau ingin meminjam buku?"

"Aku memilih jalur-jalur yang sepi. Dia enggak mungkin melewati jalur itu, karena dia nyaman berada di tengah keramaian."

"Kalian pernah berpapasan tanpa sengaja"

"Untungnya enggak pernah."

"Tapi kenapa kamu menjauhi dia?"

"Aku enggak tahu, seperti refleks saja," kata Haira.

"Kamu tahu kalau sekarang dia pacaran dengan Venna? Mahasiswa Desain Grafis?"

"Aku tahu. Sudah banyak gosip tentang mereka."

"Banyak juga yang membicarakan perubahan sikap kamu," ucap Nadine.

"Aku memang menutup diri dari siapa saja di kampus, termasuk kamu. Aku minta maaf."

"Enggak apa-apa."

Kemudian, Haira menjelaskan, "Kalau kebetulan berpapasan dengan beberapa orang, aku selalu mencari alasan untuk enggak berlama-lama mengobrol dengan mereka. Aku malas mendengar banyak komentar miring soal aku atau dia."

PelukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang