Gerah. Panasnya dekapan sinar matahari pagi membangunkan Haira. Matanya berkedip-kedip karena silau. Di balik sweater dan celana panjang, Haira menggeliat. Ia meraih kacamata yang ia taruh di kiri kepala. Setelah memakainya, Haira keluar dari tenda.
Haira mengintip ke dalam tenda besar dan tampak orang-orang tidur berserakan. Ada yang membungkus diri pakai sleeping bag. Ada juga yang sekadar berselimut jaket.
Ia duduk sebentar di celah tengah, tempat keluar masuk tenda, sambil menatap langit. Sinar matahari pagi tidak masuk ke area perkemahan secara utuh, karena terhalang daun-daun. Haira mengenang kenikmatan tinggal di hutan selama beberapa hari. Rasanya seperti menetap di dalam gua berpori yang terpisah dari hiruk-pikuk dunia, namun tetap terjamah surya, pikirnya.
Ia juga mencoba memutar kembali interaksi-interaksi dengan teman-temannya. Keakraban mereka seperti sudah saling mengenal sejak lama. Haira berpikir, itu mungkin karena makrab diadakan di tengah hutan, bukan di vila. Jika diselenggarakan di vila, ada banyak hal yang mendistraksi kedekatan mereka, seperti ponsel atau televisi. Haira memandang mendalam segala hal yang ada di sekitar. Ia merekam semua untuk menjadikannya kenangan indah.
Lamunannya berantakan, karena salah satu panitia ingin keluar. Haira pun beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh wajah.
Tersedia cukup kamar mandi di area perkemahan. Panitia telah memberikan tanda karton putih pada lima deret bilik untuk perempuan, dan pada lima deret bilik lainnya untuk laki-laki. Keduanya saling membelakangi.
Saat melewati jalan yang agak miring, Haira berpapasan dengan Gama. Laki-laki bermata sayu karena kurang tidur itu muncul dari balik barisan kamar mandi perempuan. Haira menunduk untuk menghindari bertatapan dengan si Don Juan.
Semakin ia berjalan, semakin ia merasa diamati. Haira menghentikan langkah dan mendongakkan kepala. Benar. Gama berdiri persis di depannya. Tatapan mereka bertemu seakan bertegur sapa. Gama tersenyum. Haira sadar bahwa laki-laki di hadapannya itu memang tampan dan memiliki lengkung senyum sempurna. Namun, ia menyimpan semua kekaguman di dalam hatinya. Haira mempercepat langkah, agar bisa segera menghilang dari hadapan Gama. Sementara laki-laki itu terus-terusan mesem. Ia gemas melihat Haira salah tingkah.
Di dalam kamar mandi, Haira langsung menyadari satu hal. Berpapasan dengan laki-laki itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Setelah kejadian tersebut, Haira tidak sanggup berada di dekat Gama. Saat makan siang, di dalam tronton waktu pulang, dan ketika sampai di kampus, Haira terus menghindar. Haira khawatir kalau-kalau ia jatuh di bawah pesona Gama.
***
Dari pintu, Haira melihat ibunya duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi. Sebelum masuk ke rumah, ia sudah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk. Tak soal itu berupa omelan, pukulan, atau hukuman lainnya. Ikut makrab adalah salah satu keputusan tepat yang pernah ia ambil.
Akan tetapi, setelah ia menggamit dan mencium tangan ibunya, reaksi yang muncul justru mencengangkan. "Bagaimana makrabnya?" Ibunya bertanya sambil memberikan senyuman hangat.
"Ibu enggak marah?" Haira terkejut.
"Ibu sudah membuatkan teh untuk kamu. Ambil saja di meja makan."
Haira berjalan ke dapur dan menuangkan teh di teko ke cangkir putih berukir daun hijau. Setelah hampir penuh, ia membawa, lalu meletakkan cangkir itu di meja di ruang keluarga. "Tumben, Ibu bersikap seperti ini. Ibu benar-benar enggak marah?"
"Marah kepada siapa?"
"Aku?" Haira menepuk dadanya dengan tangan kanannya.
"Api tidak bisa dipadamkan dengan api. Hati kamu bagai bara yang disiram minyak tanah, tiba-tiba bergelora saat menginginkan sesuatu. Ibu mengalah. Ibu lebih kepingin kamu pulang, daripada kamu terus-terusan di luar, gara-gara merasa terkekang di rumah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluk
Teen FictionSetiap manusia pernah jatuh ke titik terendah hidup, waktu yang membedakannya. Haira mengalami itu semasa kuliah. Perpisahan, perjodohan, dan label anak durhaka dari orang tua membuat ia ingin menyudahi hidup. Satu hal yang membuat ia bertahan adala...
