02. Here's My Blood

2.5K 257 19
                                        

***

Apa yang tidak membunuhnya, ternyata membuatnya berdarah. Darahnya begitu banyak, hingga tidak surut bahkan setelah tiga tahun. Lalisa Park masih tidak bisa merelakan kematian kakak tirinya– Roseanne Park. Sudah hampir tiga tahun lamanya kematian itu diselidiki, namun belum seorangpun menemukan pelaku yang bertanggung jawab atas kejahatan itu. Polisi menyelidiki kasusnya, namun Lalisa sama sekali tidak merasa lebih baik. Gadis itu ingin pembunuh kakaknya tertangkap, hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk melupakan mimpinya– memiliki sebuah cafe.

Pagi ini Lalisa– Lisa sapaan akrabnya– berdiri di depan sebuah gedung dengan cat putih-biru khas kantor polisi. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai, dengan halaman depan yang cukup luas berupa tempat parkir mobil-mobil patroli. Sebuah pohon rindang berdiri kokoh di sebelah pintu masuk bangunan sederhana itu. Angin yang berhembus sama sekali tidak dapat mengalahkan kekokohan pohon itu, hanya dedaunannya yang ikut terbang bersama hembusan angin. Aku harus sekokoh pohon itu– pikir Lisa masih sembari berdiri di depan gerbang utama markas polisi tersebut.

"Jangan takut Lisa, ingat tujuanmu datang kesini," ucap gadis itu sembari mengingat-ingat kembali kejadian saat itu. Malam itu terjadi bagai mimpi buruk untuknya, ia dan tiga orang temannya pergi berkemah di tepi danau pinggiran kota. Mereka bersenang-senang disana, sampai ketika lampu dan api unggun mereka tiba-tiba saja mati dan kejadian mengerikan itu terjadi. Malam itu Lisa dipukul sampai pingsan, Bambam dan Ten tertikam di perut sedang Rose tenggelam di danau– dengan kaki yang terikat pada satu tas batu. Itu bukanlah kenangan yang menyenangkan, namun Lisa tidak bisa melupakan kengeriannya.

Setelah berkali-kali menarik dan menghembuskan nafasnya, Lisa akhirnya melangkah masuk ke dalam kantor polisi tersebut. Ia melangkah ke depan meja informasi kemudian menyampaikan keperluannya. "Saya ingin bertemu dengan Detektif Yang Hyunsuk. Detektif yang menangani kasus pembunuhan di danau tiga tahun lalu," ucap Lisa, menyampaikan keperluannya sebagai seorang Profiler baru dengan 7 bulan pengalaman.

Namun sayangnya, tidak ada seorang pun detektif bernama Yang Hyunsuk di kantor polisi itu. "Ku dengar dua tahun lalu timnya di bubarkan dan ia di pindahkan kesini, aku sudah menghubungi nomor teleponnya tapi nomor itu sudah tidak aktif lagi. Bisakah kau membantuku? Mencarikannya?"

"Apa anda tahu dimana kantor lamanya?" tanya si petugas di meja informasi dan Lisa memberitahu petugas itu kalau sebelumnya Yang Hyunsuk bekerja di kantor polisi daerah Pocheon. "Uhm... Sebentar," ucap si petugas yang lantas mengecek nama-nama detektif di kantor polisi itu. Tidak berapa lama, si petugas memberitahu Lisa kalau orang yang Lisa cari sudah meninggal kira-kira dua tahun lalu. "Detektif Yang Hyunsuk meninggal 2 tahun lalu, dua minggu setelah ia menyerahkan surat pengunduran dirinya," jelas si petugas membuat Lisa diam di tempatnya, berpegang pada meja informasi demi menjaga tubuhnya agar tidak jatuh.

Ia baru saja akan memulai rencananya, ia butuh waktu tiga tahun untuk mendapatkan pekerjaannya sekarang namun begitu rencananya akan dimulai, ia langsung berhadapan dengan jalan buntu. Rasa kecewa membuat Lisa merasa tidak mampu untuk pulang, membuat Lisa berjalan lesu masuk ke sebuah cafe di depan kantor polisi. Gadis itu duduk di sebuah meja kayu panjang, di tengah cafe. Di sebelahnya, selang satu kursi, ada seorang pria yang tengah menikmati es kopinya. Hari yang panas ini sangat cocok dengan segelas es kopi. Namun Lisa tidak peduli pada pria itu, Lisa tidak mengenalinya dan setelah ia selesai dengan pesanannya gadis itu lantas membuka catatannya.

"Kalau detektif itu tidak bisa ku hubungi, lantas bagaimana aku bisa menemukan pelakunya?" gumam Lisa, sembari mengaduk minumannya kemudian menyesapnya. "Hanya ada tiga orang saksi, aku sudah bertanya pada mereka tapi tidak satupun yang melihat pelakunya. Sebentar, ayo kita ulang dari awal, Lisa. Jadi hari itu kami pergi berkemah ke Pocheon-"

"Heish! Kenapa semua orang suka bermain-main dengan kasus pembunuhan! Banyak sekali detektif dadakan disini!" keluh seorang pria yang duduk di meja kayu yang sama dengan Lisa. Pria itu lantas bangkit dari duduknya, meraih handphone serta buku saku miliknya yang ada di atas meja dan membawa kedua benda itu pergi.

"Tsk... Masih ada saja orang tempramen seperti itu," gumam Lisa sembari melirik pria bertattoo yang baru saja pergi itu. Lisa tidak mengenali siapa pria itu, gadis itu bahkan tidak peduli dengan identitasnya.

Pria bertattoo itu bernama Kwon Jiyong, seorang detektif dengan 10 tahun pengalaman yang mendapatkan tattoo-tattoonya ketika ia menyamar untuk kasus perdagangan manusia sekitar 4 tahun lalu. Sebenarnya saat itu ia tidak perlu membuat tattoo permanen untuk penyamarannya, namun ia merasa tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan beberapa tattoo sungguhan seperti keinginannya.

Ditahun kesepuluh karir Jiyong, kini ia merasa benar-benar tertekan dengan pekerjaannya. Baru dua tahun ia menjabat sebagai ketua tim lima dari divisi kejahatan dan kekerasan namun rasanya ia sudah ingin mengundurkan diri. Menjadi seorang anggota tim ternyata lebih menyenangkan, lebih ringan dan lebih mudah– pikir Jiyong. Setelah ketua timnya bunuh diri dua tahun lalu, berkat kemampuannya Jiyong di tarik ke ibu kota dan dijadikan ketua tim di sana. Awalnya, tentu saja Jiyong merasa luar biasa senang karena kenaikan jabatan itu, namun lama-kelamaan ia mulai memahami alasan ketua timnya bunuh diri.

Menjadi ketua tim benar-benar berat, pikir Jiyong. Kasus-kasus datang bagai air, mengalir seolah tidak pernah habis. Ia sudah sangat kewalahan menghadapi kasus-kasus itu, namun atasan selalu menekannya untuk segera menyelesaikan lebih banyak kasus lagi. Bukankah bagus kalau tidak ada kasus kejahatan disini? Kenapa mereka menyuruhku bekerja terus menerus? Kenapa mereka menyuruhku mencari kasus-kasus lain disaat kasusku sendiri belum selesai? Mereka berharap kejahatan di Negeri ini berkurang, tapi mereka memaksaku untuk rutin menangkap orang jahat setiap bulannya, seolah penjahat adalah tanaman yang sedang dibudidayakan, yang dapat di petik setiap bulannya. Bukan itu tidak masuk akal? Pikir Jiyong selama beberapa bulan terakhir ini.

Siang ini, selepas dari cafe di depan kantor tempatnya bekerja, Jiyong kembali ke ruang kerjanya. Di dalam sana ada tujuh kelompok yang wilayah kerjanya di batasi oleh dinding kayu tipis setinggi pinggang orang dewasa. Divisi kejahatan dan kekerasan memiliki tujuh tim yang beranggotakan sekitar 7 sampai 8 orang dan masing-masing dari tim itu menangani kasus yang berbeda. Hanya tim lima yang kekurangan personel, ketika tim lain punya 8 anggota di dalam timnya, Jiyong hanya punya empat orang anak buah. Choi Seunghyun, Dong Yongbae, Kang Daesung dan Lee Seungri, hanya itu anggota tim yang Jiyong miliki. Hanya mereka orang-orang yang bisa Jiyong perintah dan hanya mereka orang-orang yang harus Jiyong pertanggung jawabkan.

"Apa ini?" tanya Jiyong, ketika Seunghyun memberikan sebuah berkas pada Jiyong yang baru saja datang.

"Surat pemberitahuan penambahan personel. Atasan mengirim satu tambahan personel pada kita, tapi dia seorang wanita," jelas Seunghyun sedang Jiyong sibuk membaca berkas yang baru saja ia terima.

"Kepala Kang sendiri yang memperkerjakannya, seorang Profiler? Untuk tim kita?" tanya Jiyong sedang Seunghyun hanya menaikan bahunya. "Kau mengenalnya?"

"Tidak. Nepotisme. Dia harusnya magang di BIN terlebih dulu sebelum dikirim kesini sebagai seorang Profiler," jawab Seunghyun yang kemudian memberitahu Jiyong kalau Lalisa Park yang akan bekerja di tim mereka adalah keponakan Kepala Kepolisian mereka.

"Hhhh... Kenapa aku harus selalu mendapat orang baru? Sepertinya kinerja tim ku akan semakin menurun, haruskah aku mengirim surat pengunduran diriku saja?"

***

ZodiacTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang