Jungkook, Love, Mark.
'
'
'
Silau matahari yang datang dari jendela apartemen membuat Jungkook mengerjapkan mata. Ia mengusap matanya berkali-kali, mencoba memfokuskan pandangannya yang masih mengabur. Pening juga menyelimuti kepalanya. Lalu ia melihat kearah sisi tempat tidur di sebelah tubuhnya. Kosong.
Jadi semalam hanya mimpi ya?
"Apa aku benar-benar sudah gila ya?"
Jungkook menegakkan tubuh, merenggangkan ke kanan dan ke kiri. Langkah kakinya berjalan ke arah kamar mandi, ia sedikit melamun menatap wastafel di depan. Bayangan semalam masih menghantuinya.
Ia ingat sekali, saat ada yang mengetuk pintu kamar mandi ini, memanggil namanya. Lalu ia keluar dengan handuk di pinggang, melihat sosok yang ia cari cari di hadapannya. Semua terasa nyata. Tapi kenapa Ji yan tidak ada?
Jungkook menggelengkan kepala, berusaha mengumpulkan kesadarannya lagi. Ia menggosok gigi, mencuci muka lalu keluar mencari handuk muka.
Perut Jungkook minta diisi, sejak tadi malam dia belum memakan apapun. Mungkin karena bingung sendiri, di rumahnya tidak ada stok makanan apapun. Ia juga malas keluar rumah mencari makanan.
Jungkook berjalan ke arah dapur, padahal ia berharap menemukan wanita itu sedang memasak menggunakan celemek pink kesukaannya. Tapi lagi lagi tidak ada siapapun.
Padahal sebelumnya Jungkook biasa sendiri sebelum Ji yan datang. Namun sekarang rasanya tidak nyaman sekali, seperti ada ruang dalam hidupnya yang kosong, perlu diisi. Jungkook merasa hampa.
Tangan Jungkook meraih pintu kulkas, berusaha mencari sesuatu yang bisa dimakan walaupun hanya telur.
"Tidak ada apapun, apa aku harus keluar ya?"
Jungkook memakai mantelnya dan mengambil kunci mobil, saat ingin keluar, pintu apartemennya ada yang membuka dari luar. Jungkook mengernyitkan kening, siapa yang berkunjung pagi pagi begini?
"Jungkook, aku pulang."
Kunci mobil yang di pegang Jungkook jatuh, ia sedikit membuka mulutnya karena terkejut. Reaksinya sebenarnya terlihat berlebihan, seperti terlalu di dramatisir.
"Ji? Ini kau? Sungguhan?"
"Jung? Kau habis melihat hantu ya? Mangkannya jangan suka menumpuk cucian baju dan piring-"
Jungkook memeluk Ji yan. Lagi, tidak tahu tapi ini erat sekali. "Kukira, aku hanya bermimpi semalam."
"Maaf, aku lupa membangunkanmu, aku keluar membeli bahan makanan."
"Bagaimana.. bagaimana kau bisa pulang?" Jungkook menatap penuh tanya pada gadisnya, rautnya khawatir. "Apa kau benar meninggalkan-- tidak, jelas-jelas dua orang membawamu." Jungkook masih betah mengoceh sendiri. "Oh! Atau kau diam-diam melarikan diri ya?" Mata Jungkook sudah berbinar, tapi memejam lagi. "Tidak mungkin, sikapmu santai sekali kalau itu benar."
Baru saja Jungkook akan berkata lagi, Ji yan mendorong bahu Jungkook untuk lebih masuk kedalam. Pasalnya sedari tadi mereka masih berada di perbatasan pintu. "Tahan dulu ya pertanyaanmu." Ji yan meninggalkan Jungkook untuk menyimpan bahan makanan dikulkas. Ia memisahkan bahan bahan yang dibutuhkan dan menaruhnya diatas meja dapur.
"Jangan hanya cuci muka saja. Mandi yang benar." Ji yan menangkup wajah Jungkook yang masih sedikit dingin karena basuhan air beberapa menit lalu. "Selama kau mandi, aku akan membuat sarapan." Baru saja Jungkook ingin protes, tapi Ji yan buru-buru menutup mulut Jungkook dengan telunjuknya. "Kau tidak malu perutmu terus mengeluarkan bunyi, meminta untuk diisi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hopeless. 'J.J.K'
Fiksi Penggemar[DIBUKUKAN] Saat seseorang lebih merasa bahwa ia digilai, bukan dicintai. Memaksa wanita dengan rambut pendek bernama Ji yan menerima semua perlakuan Jeon Jungkook. Bahkan saat belum saling mengenal, pemuda Jeon itu dengan bibir manisnya berkata, ...
