36 : Ji -End

3.4K 465 177
                                        

I never stopped thinking about you.
'
'
'

"Kau senang?" Jungkook membuka pintu kamar dan mendapati Ji yan tengah berbaring sambil tersenyum lebar sekali. Mereka baru saja sampai apartemen setelah melakukan perjalanan Busan Seoul pagi-pagi sekali. Karena memang Jungkook ada urusan lain. Ia bahkan baru saja mandi.

"Tentu saja. Lain kali bawa aku kesana lagi." Ji yan sedikit mengangkat tubuhnya setengah dan meraih tangan Jungkook. Ia menarik Jungkook agar ikut berbaring disebelahnya sambil menatap langit-langit. Wangi sabun kesukaan Jungkook langsung menyeruak dalam penciuman Ji yan.

"Aku kadang takut untuk terlalu merasa bahagia seperti ini." Ji yan berkata pelan. Tiba-tiba senyumnya meluntur.

"Hei, kenapa berkata begitu?"Jungkook otomatis menoleh, menerka apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.

"Takut saja. Rasanya sesuatu yang terlalu itu sering tidak baik. Seperti... tidak akan bertahan--"

Jungkook memutar wajah Ji yan agar menghadapnya. "Ji yan.. tidak bisakah hanya dirasakan? Tidak usah dipikirkan?"

pip

Berandal K is calling...

"Aku didepan, cepat keluar atau ku dobrak."

Pip!

Jungkook menghembuskan nafas berat, matanya memejam sambil memijit kepalanya pelan. Ia lupa kalau disitu ada Ji yan yang tentu saja memperhatikannya. Buru-buru memperbaiki ekspresi wajahnya dan tersenyum. "Aku pergi dulu ya Ji? Si kurangajar Taehyung sudah ada didepan."

"Semua baik-baik saja?" Ji yan menyisir rambut Jungkook yang sedikit berantakan. Setelah mendapat jawaban berupa anggukan, Ji yan tersenyum. Ia lalu mengecup pelan bibir Jungkook mesra. "Hati-hati."

Jungkook membuka pintu dan mendapati Taehyung tengah bersedekap sambil menyandar pada tembok. Tampilannya buruk sekali, tapi Jungkook tidak ingin berkomentar. Ini bukan saat yang tepat untuk saling beradu mulut satu sama lain.

"Yang lain sudah menunggu."

[]

"Kita langsung mulai saja." Loki menyilangkan kaki sambil menumpu kedua tangannya di lutut. Matanya sedari tadi fokus pada Jungkook yang duduk tepat di tengah, sementara yang lain disisi kanan dan kiri Jungkook. Biasanya posisi itu ditempati oleh Ben.

"Apakah langsung diputuskan?" Husky menoleh kearah Ben, pria itu tampak tidak setuju.

"Jack, kau tau kalau Ji yan dibeli orang lain kan?" Ben tidak menjawab pertanyaan Husky tapi langsung mengutarakan inti pertemuan ini. "Kau bahkan sudah tau itu jauh sebelum kau menemui Ji yan secara langsung." Lanjutnya.

"Kau juga tau kan, hukumannya apa kalau kau tidak memenuhi misi?" Ben bertanya lagi, kali ini suaranya lebih lantang.

"Hyung!" Eir dan Keta berseru bersama. Tapi tampaknya Ben tidak memperdulikan itu.

"Jawab jack." Pandangan Ben masih terkunci pada Jungkook, membuat yang dipanggil mengangkat kepalanya.

"Membunuh target." Jawab Jungkook pendek.

"Kau tau kan alasan kenapa hukumanmu itu?" Kali ini Loki yang bertanya.

"Mengungkit traumaku karena membunuh seseorang." Jungkook tetap menjawab walau marah setengah mati.

"Kalau begitu bunuhlah." Ben yang berseru. Membuat semua orang terdiam dan menatap Ben dan Jungkook bergantian.

"Kenapa diam saja? Tidak mau?" Lagi-lagi Ben membuat Jungkook menatapnya.

Hopeless.  'J.J.K'Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang