37 : Ji -Everything

4.2K 458 126
                                        

Full of Jeonji, so make sure your heart is okay.
'
'
'

"Kau sudah merasa lebih baik Jung?"

Ji yan datang dari arah dapur dengan tangan yang memegang secangkir teh chamomile hangat untuk Jungkook. Pria itu sedang berada di balkon apartemen. Melihat gedung-gedung dari ketinggian lantai mereka, membuat Jungkook bisa lebih tenang.

"Jauh lebih baik. Terimakasih." Jungkook menyambut dengan hangat cangkir yang di bawa Ji yan. Tersenyum tulus lalu berterimakasih. Ia menyesap teh nya sambil merasakan hembusan angin malam yang berhembus ke kulitnya.

Melihat Jungkook tadi pagi marah begitu besar pada Taehyung membuat Ji yan jadi tau sisi lain Jungkook. Selama ini pria itu hanya tersenyum, tertawa, memberinya cengiran yang memamerkan gigi kelincinya.

Mungkin ia pernah melihat sisi Jungkook seperti tadi sebelumnya, saat ia datang ke rumahnya dulu karena di sisksa ayah dan ibunya sendiri. Saat itu harapannya hanya Jungkook, cahayanya hanya Jungkook. Pria itu selalu datang di saat Ji yan membutuhkannya.

"Jangan marah pada Taehyung ya Jung. Aku yakin dia memiliki alasannya sendiri."

Jungkook masih menikmati angin yang berhembus. Pemuda satu ini sedikit tersenyum kecut pada hidupnya sendiri. Terlalu banyak masalah yang ia hadapi dari dulu. Terlalu menyesakkan jantungnya, terlalu membuatnya tenggelam dalam rasa sakit.

Manik Jungkook beralih menatap Ji yan yang berada tepat di sisinya. Ia menatap wajah mulus istrinya satu ini. Masih ada sedikit bekas luka gores di sudut pelipisnya karena ulah orangtuanya dulu. Tangan Jungkook meraih bekas luka itu, mengusapnya dengan ibu jari.

Entah terkena apa tapi bekas lukanya terlihat persis dengan luka di pipi Jungkook karena ayahnya dulu memukulinya. Kalau difikirkan, hidupnya dulu yang keras masih belum seberapa dengan yang sudah Ji yan lalui.

Setidaknya dulu ibunya masih menyayanginya dengan sepenuh hati. Meski sekarang ibunya lupa, kalau Jungkook sudah tumbuh sebesar ini.

Sementara Ji yan?

Dari kecil dia sudah tidak diinginkan. Ibunya ingin menggugurkannya tapi gagal, ingin membuangnya di pinggir jalan tapi ketahuan. Fakta paling menyakitkan Ji yan adalah dia mengetahui semua fakta itu.

Tangan Jungkook meletakan cangkir tadi di meja putih di dekatnya, lalu tangan kekarnya meraih rambut Ji yan. Merapikannya karena terhembus angin. Mencium pelipisnya tadi cukup lama. Lalu tangannya bergerak ke arah tangan mungil istrinya. Menggenggamnya hangat, menyalurkan semua energi yang Jungkook punya.

"Tanganmu masih saja halus Ji. Padahal dulu kau kan pekerja keras." Jungkook terkekeh, menampilkan kembali gigi kelincinya juga sedikit lesung pipinya. Namun bukan jawaban seperti ini yang Ji yan mau, dia sedang membicarakan agar Jungkook tidak marah pada Taehyung.

Mendengar tidak ada suara dan wajah Ji yan juga terlihat khawatir, Jungkook segera menggangguk pelan, "Iya sayang,  aku tidak marah pada si beruang kutub itu."

Winter bear?

Ji yan tersenyum mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Ia tidak ingin kalau Taehyung dan Jungkook sampai bermusuhan. Mereka masih saudara meskipun tidak ada ikatan darah. Ji yan juga tau kalau mereka saling menyayangi seperti adik dan kakak. Meski kadang keduanya tidak mau mengakui tapi Ji yan bisa melihat dari mata keduanya.

"Tadi kenapa membahas tanganku?"

"Tidak, tanganmu hangat seperti tangan ibuku dulu. Rasa teh yang kalian buat sama."

"Yasudah aku jadi ibumu mulai sekarang."

Jungkook buru-buru menggeleng cepat, "Tidak, mana bisa begitu."

Hopeless.  'J.J.K'Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang