Comment, comment, comment!
'
'
'
"Jangan, jangan di gugurkan. Bagaimana.. Kalau aku saja yang bertanggung jawab."
Suasana disana berubah hening. Hyo ra memandang Taehyung perlahan, tapi sebelum Hyo ra menjawab, Taehyung tertawa. Tertawa yang keras sekali sambil menepuk-nepuk bantal. "Aku hanya bercanda hahaha. Wajahmu serius sekali." Detik itu juga Hyo ra melempar bantal sofa kearah Taehyung, tepat mengenai sasaran.
"Pulang sana dasar gila!" Hyo ra melempar lagi bantal yang lain, kali ini mengenai kaki Taehyung. Pria itu mengaduh, padahal tidak sakit sama sekali. Hanya terus tertawa sambil berkata 'Ampun' berkali-kali. Membuat Hyo ra tiba-tiba beringsut turun dari sofa dan terduduk dilantai.
Isakannya yang pertama terdengar begitu pelan, kedua ketiga dan seterusnya semakin kencang. Menghentikan tawa Taehyung yang langsung mendekat. Ia bingung, niatnya benar-benar hanya menghibur Hyo ra yang sudah pasti sangat kacau perasaannya sekarang. Tapi wanita itu malah menangis.
"Aduh maaf-- "Taehyung hanya ikut terduduk didepan Hyo ra. Ia bingung harus menghiburnya bagaimana, tidak mungkin memeluk kan? Taehyung bukan pria yang suka bersentuhan dengan wanita. Ia sangat risih akan hal itu, tapi wanita didepannya seperti sangat membutuhkannya.
Perlahan, Taehyung menepuk pundak Hyo ra. Itu pun hanya ujung dari jari telunjuk, tengah serta manis yang mungkin hanya sekukuan. Sekali, dua kali, Taehyung mengulanginya sangat lambat. "Hyo, aku sungguh tidak bermaksud." Lalu matanya membulat kala Hyo ra tiba-tiba saja menggenggam tangannya. Sentuhan fisik yang tak terduga.
"Tolong.. jangan bilang ibuku ya. Aku-- aku ingin menemui dokter saja dan-- terpaksa-- ahh bagaimana ini." Wajahnya penuh air mata. Rambutnya berantakan dan sesekali sesenggukan. Taehyung sangat merasa bersalah karena mengatakan kalimat konyol tadi. "Tae.. Ku rasa-- aku akan menggugurkannya saja."
Taehyung semakin panik, tangisan Hyo ra juga semakin tidak terkendali. Ia menelepon salah satu staff club miliknya. Mengaturnya agar Hyo ra juga bisa mendengar. "Kirimkan file cctv sebulan yang lalu. Dari semua sudut, termasuk lorong lantai dua. Dan juga sehari full, tidak ada yang boleh terlewat."
"Semua? Termasuk--"
"Ya, semua." Tutt. Taehyung mematikannya secara sepihak. Ia menatap Hyo ra lekat, aduh sebenarnya Taehyung tidak bisa begini dengan seorang wanita. Tapi karena terpaksa, ia tetap melakukannya. "Ku pastikan ada bukti nyata siapa yang melakukan ini padamu ya?" Lalu memeluk Hyo ra hangat.
Kalau Taehyung tidak salah ingat, ini adalah kedua kalinya ia memeluk seorang wanita dengan sengaja selama hidupnya.
[]
"Kau ingin apa sih Ji?" Jungkook terlihat menahan senyum, Ji yan memaksanya menutup mata selepas keluar dari kamar mandi. Pria itu baru saja menyelesaikan ritual mandinya, bahkan handuk kecil masih terlampir di bahu dan ia hanya memakai celana pendek selutut warna coklat. Oh ya, Jungkook tidak pakai baju.
Ji yan tidak menjawab, ia hanya mengikat kain hitam untuk menutupi mata Jungkook. Tidak ada pemberontakan, pria itu hanya tertawa kecil sambil berucap, "Lalu bagaimana dengan tubuhku? Bagaimana aku memakai baju, sayang?" Ji yan selesai dengan pekerjaannya. Ia berjalan kearah lemari, mengambil salah satu kaos Jungkook berwarna putih lalu memakaikannya.
"Kau menggodaku ya?" Jungkook kali ini tidak bisa menahan tawanya kala Ji yan mengangkat salah satu tangannya dan mengarahkannya pada lengan baju. Ji yan masih tetap diam, Jungkook tidak tau saja istrinya tengah tersenyum lebar. Terlebih ketika setengah baju tersisa yang menggantung didada, ia turunkan. Turun melewati tubuh atletis suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hopeless. 'J.J.K'
أدب الهواة[DIBUKUKAN] Saat seseorang lebih merasa bahwa ia digilai, bukan dicintai. Memaksa wanita dengan rambut pendek bernama Ji yan menerima semua perlakuan Jeon Jungkook. Bahkan saat belum saling mengenal, pemuda Jeon itu dengan bibir manisnya berkata, ...
