If i fall today,
I will get drunk.
'
'
'
Lantai kotor dengan tumpahan bubur tak berasa yang meruah. Ibu yang menumpahkannya. Sengaja, Karena aku melakukan sedikit kesalahan kecil. Bahkan saking kecilnya seharusnya tidak usah dipermasalahkan. Tapi itu bukan Ibu jika begitu.
Aku sama sekali tidak dianggap sebagai manusia disini. Sejak kecil, aku sudah sangat terbiasa mendengar ocehan ayah dan Ibu yang ketika bertengkar selalu mempermasalahkan statusku. Aku lahir tanpa diinginkan kehadirannya oleh mereka.
Saat itu, Ibu mabuk dan tidur dengan orang lain. Ayah marah besar, dan mencoba menggugurkan. Tapi aku tetap lahir, justru rahim Ibuku yang rusak parah. Jadilah aku anak satu satunya. Pernah kudengar mereka membuangku. Tapi tidak jadi karena terlihat oleh orang lain.
Don't ask me, i was always like this.
Berkali kali gagal, akhirnya mereka memutuskan untuk merawatku mau tidak mau. Disini juga aku harus bekerja keras setiap hari untuk biaya hidupku. Sejak aku umur 4 tahun. Mereka sudah menyuruhku melakukan semua pekerjaan rumah, untuk membayar baju dan semangkuk bubur tak berasa.
Tentang biaya sekolah, aku selalu mendapatkan beasiswa. Tidak, aku sama sekali tidak pernah mengikuti les atau semacamnya. Semua kudapatkan susah payah karena Ibu mengancam tidak akan menyekolahkanku jika tak ada beasiswa.
Saat itu aku memegang peringkat 1 siswa terbaik di Korea, bersaing dengan banyak murid dari sekolah yang lebih Bagus, bahkan mereka mengikuti bimbingan belajar secara privat, tapi aku?
Tahun berikutnya peringkatku menurun, menjadi urutan ke 2. Saat mengetahui itu, ibu marah besar saat mendengar itu dari guruku.
"Kau ini bodoh sekali sih, seharusnya kau menjadi peringkat 1 kalau ingin terus sekolah!"
Katanya saat itu, aku menangis dalam diam. Kulihat ayah melirikku tidak perduli. Lalu melanjutkan lagi bacaannya. Sejak saat itu aku bersusah payah mendapat nilai sempurna. Sampai semua jariku memerah oleh pena. Karena jika nilaiku turun, akan ada satu cambukan mendarat dipunggungku.
Menyedihkan bukan? Dan aku belasan tahun hidup seperti itu. Sampai rasanya aku tidak sanggup lagi. Aku tidak punya siapa-siapa. Bahkan disekolahpun tak ada yang mau berteman denganku. Karena kata mereka ayahku adalah penjudi, pemabuk. Mereka membenciku juga memusuhiku.
Aku membereskan tumpahan bubur, makanan siangku. Ibu sudah beranjak pergi dari tadi, entah kemana. Ayah juga belum pulang sejak kemarin malam. Mungkin dipekerjakan lembur oleh kondekturnya.
Ini bukan apa-apa, aku baik-baik saja. Atau mungkin aku tidak tau mana bedanya baik-baik saja dan tidak baik-baik saja. Karena selama ini aku selalu diperlakukan sama. Aku juga sudah sangat lama tidak menangis. Mungkin air mataku sudah habis, aku tidak tau.
Brakk!
Suara pintu terbuka, dibanting. Itu ayah, wajahnya lelah campur marah. Ia berjalan kearahku. Tangannya mengepal, keringatnya bercucuran. Aku tidak tau harus bereaksi bagaimana. Jadi, aku hanya menatapnya. Menunggu apa yang akan ia lakukan kali ini kepadaku.
Saat sudah dihadapanku ia mendongakkan daguku agar menatapnya yang berdiri, sementara aku terduduk. Matanya melotot marah, perlahan ia tersenyum miring. Aku tidak tau apa maksudnya.
"Kau masih gadiskan, hah?" katanya. Aku tau maksudnya, ia sudah sering seperti ini.
"Keluarlah dan naik mobil hitam didepan rumah. Aku sudah menerima uangnya. Kau harus mau kali ini. Atau kau akan kuusir sekarang juga!" bentaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hopeless. 'J.J.K'
Fiksi Penggemar[DIBUKUKAN] Saat seseorang lebih merasa bahwa ia digilai, bukan dicintai. Memaksa wanita dengan rambut pendek bernama Ji yan menerima semua perlakuan Jeon Jungkook. Bahkan saat belum saling mengenal, pemuda Jeon itu dengan bibir manisnya berkata, ...
