Nafas Hailana mulai terengah-engah karena berlari begitu cepat, ia takut Heisan menyusul dan sampai lebih dulu darinya, tak mungkin bukan, Hailana yang menantang tetapi Hailana yang pada akhirnya harus kalah dari temannya itu.
Dia mulai kelelahan, beberapa kali menengok kebelakang rupanya ia sudah berlari cukup jauh dari pemberhentian angkot yang ditumpanginya tadi, ia akhirnya berhenti berlari, namun sedikit berjalan pelan untuk kembali mengatur nafasnya.
Kembali melihat sekeliling ternyata sepi, Hailana bersyukur, ia takut ada yang melihatnya berlari-lari tak jelas dan mengira ada apa-apa.
Beberapa langkah lagi menuju depan gerbang rumah Zaskia, Hailana dikejutkan dengan suara klakson motor yang begitu memekikan telinga, belum lagi suara dari knalpot yang begitu nyaring menggelegar. Motor itu berhenti tepat di halaman rumah Zaskia, Hailana sudah tau siapa pengendara motor itu.
"Curaaaang," teriak Hailana pada Heisan yang baru saja turun dari motor gedenya.
"Apaan curang, kalah ya kalah aja, Lan." Ucap Heisan sambil melepas helm full face nya lalu menyimpannya di atas motor.
"Gak, pokoknya aku yang nyampe sini duluan," tegas Hailana pada Heisan tak terima, melihat Heisan yang seenaknya sampai di rumah Zaskia dengan motor, sedangkan dirinya harus berlari cukup jauh dari pemberhentian angkot tadi.
"Ih, ngaco lu, udah pokonya siap-siap aja nanti hukumannya dari gue," ucap Heisan kemudian berlalu ke dalam rumah Zaskia meninggalkan Hailana yang masih mematung dekat motor Heisan dengan gerutuanya yang tak lagi bermanfaat.
Akhirnya Hailana ikut masuk ke dalam rumah, ruang tamu terlihat sepi, pandangan Hailana mulai menelusuri tampilan rumah 2 tingkat yang di bangun sederhana namun tetap mewah di mata Hailana, ini bukan pertama kalinya Hailana berkunjung ke rumah sahabatnya itu, bahkan ia sendiri sudah mengenal semua orang yang tinggal disana.
Kehidupan Zaskia menurut Hailana hampir sempurna, ayahnya, bundanya, kakaknya, mereka semua selalu berada disisi Zaskia, hari-harinya selalu bersama dengan keluarganya yang masih lengkap, Hailana ingin seperti itu, seperti Zaskia.
"Eh, ada Lana," seru tante Uus yang tak lain bundanya Zaskia, ia terlihat sedang menuruni anak tangga yang menyatukan ruangan atas dan bawah di Rumahnya, di tangannya terlihat nampan yang berisi mangkuk dan satu gelas berisi Setengah air. "Sini masuk, ngapain berdiri disitu."
Hailana yang baru sadar sedari tadi ia berdiri di ruang keluarga tengah memperhatikan bingkai foto yang menampakkan keluarga Zaskia disana.
"Eh, Tante apa kabar," ucap Hailana kikuk lalu mendekat ke arah ibunya Zaskia untuk salim, Uus yang kesusahan karena membawa nampan segera menyimpannya di sembarang tempatnya berdiri, lalu menerima uluran tangan Hailana, "Alhamdulillah, tante sehat," jawab Uus."Kia, sakit apa tan?" Tanya Hailana.
"Duh, itu, kemarin si Heisan beli cimol pedesnya gak tanggung-tanggung, si Kia nyobain padahal gak banyak-banyak banget, tapi kan emang perut dia gak kuat kalo tamu yang datengnya pedes banget," tutur Uus diikuti kekehan diakhirnya.
"Ya udah, Lana ke Kamar Kia dulu Tan," ucap Hailana yang langsung dibalas anggukan, setelah itu ia sedikit berlari melewati anak tangga itu.
Hailana rasa ia begitu beruntung bisa mengenal dan dekat dengan keluarga Zaskia, mereka sangat baik, terutama bunda, ia seperti sudah menjadi ibunya sendiri.
Begitu sampai di depan pintu kamar Zaskia, sekilas Hailana menatap pintu kamar yang berada di sebelah ruangan kamar Zaskia, perlahan bibirnya mulai melengkung, menampakkan senyum indah yang terpancar.
"Ki? Kamu beneran sakit?" Tanya Hailana begitu pintu kamar Zaskia terbuka dan menampakan Zaskia yang sedang duduk dipinggiran kasur memangku gitar dan sesekali memetiknya.
