"Yang, aku, kangen," lirih Ardian tiba-tiba dari belakang, sedangkan aku baru saja hendak meletakkan ransel di meja.
"Haaa, apa sih?!" teriakku karena terkejut, berusaha menyingkirkan lengan Ardian dari dada.
Tangannya sengaja menyentuh bagian sensitif, membuatku terpaksa menyodokkan siku ke perutnya. Karena tidak mengira ada perlawanan, Ardian mengaduh sambil memegangi ulu hati.
Matanya memerah menahan amarah, atau mungkin nafsu. Entahlah, sebab tubuh ini juga gemetar melihat nafasnya yang memburu. Ardian merangsek, menyudutkan tubuhku ke dinding dan berusaha memeluk. Aku refleks merunduk dan menyepak kaki, membuatnya terjengkang dan menubruk dinding. Melihatnya terjatuh, dengan segera aku berlari ke kamar untuk menyimpan ransel berisi uang 276 juta. Karena gugup, berulang kali gagal memasukkan anak kunci. Setelah berhasil, mencoba melempar ransel ke ranjang. Namun, Ardian mendorongku masuk ke kamar dan melancarkan aksinya.
Bodohnya aku, bukannya lari keluar kenapa malah lari ke kamar. Teriakan minta tolong pasti tak ada yang mendengar karena selain kamar ini terletak di belakang, juga ada suara bising dari tukang di proyek belakang rumah sedang memotong ubin.
Dengan tangan yang gemetar, meraih gunting di atas meja rias. Menodongkan ke arah lelaki yang terlihat beringas dan ingin meniduriku dengan paksa. Iblis itu tengah melancarkan rencananya, entah itu apa. Yang pasti organ intimku menjadi incaran sebagai alat, bukan hanya pemuas nafsunya semata. Lebih dari itu.
"Pian, tahu siapa, Nana kan?" Dengan memasang wajah sadis aku tetap mengarahkan gunting ke Ardian.
Wajahnya pias seketika, sebab tahu kehebatanku dalam melempar pisau. Tak rugi mendalami ilmu bela diri, Ardian pernah jatuh tersungkur oleh tendangan kaki ini. Dengan tangan kiri masih mendekap ransel di dada, aku menaiki kusen jendela yang terbuka dan tetap berteriak minta tolong. Ardian terbahak melihat tingkahku, wajahnya memerah juga matanya.
"Yang, aku hanya bercanda. Aku, kangen, ikam," lirihnya dengan memberiku kode agar menurunkan gunting yang aku pegang.
"Dasar manusia laknat, dulu sudah menodaiku dengan licik sekarang mau lagi?!" seruku sambil memainkan gunting.
"Gak, Yang. Aku cuma mau kita rujuk." Ardian menyandarkan punggung ke daun pintu, terlihat dia sedang menenangkan dirinya sendiri.
"Rujuk, tahu syarat rujuk? Katanya dulu mondok, hukum zina dihalalkan. Ora sudi nambah dosa dengan anjing seperti, Pian."
"Kita bicara baik-baik, Yang. Demi anak-anak," ucap Ardian sambil berusaha mendekat karena aku menurunkan gunting.
"Stop, berani melangkah lagi ... tak segan aku mutilasi, siapa curiga aku membunuh? Sebab musuh Pian begitu banyak di luar sana. Jangan jadikan anak sebagai tameng, mereka tidak pernah ada dalam hatimu. Percuma punya bapak yang gak bisa memimpin mereka, malah mengajari ilmu sesat dan bahkan zina. Aku bukan Ummi yang membiarkan anaknya sesat."
"Okay, kita rujuk itu saja!" serunya putus asa.
"Aku belum gila, masih waras. Cukup sudah kegilaan selama hampir sepuluh tahun hidup bersama anjing macam, Pian."
"Yang!"
"Jangan panggil aku, jijik."
"Apa selama ini juga jijik melayaniku?"
"Jelas, jijik memakai bekas orang lain, jijik dan jijik. Bersyukur selama ini menjauhiku." Aku bergidik membuat wajahnya kian memerah.
"Apa selama ini tidak pernah mencintaiku?"
"Cinta? Tanya saja pada diri sendiri apa pantas untuk dicintai, mungkin hanya wujudmu yang elok tapi hatimu busuk penuh belatung. Kalau gak karena pelet orang tuamu, gak mungkin aku bertahan dan jadi sapi perahmu. Tapi ingat, semua ada karmanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perempuan Ketujuh
غموض / إثارةPernikahan yang terpaksa di jalani oleh Nana (Tectona grandis) dengan Ardiansyah karena dirinya telah diperkosa. Nana tidak pernah tahu bahwa Ardian seorang penganut ilmu hitam, yang mencari tumbal dengan meniduri para perawan. Selama 9 tahun Nana...
