Chapter 2

8.2K 731 114
                                        

Di zaman sekarang, makanan itu sangat mudah di dapat tanpa kalian sendiri yang mengolahnya dengan susah payah. Semua serba instant, bahkan nasi pun instant. Apalagi ini di Korea Selatan, sudah tidak diragukan lagi teknologi canggihnya.
Sehingga makanan pun bisa di olah dengan menggunakan mesin.

Tapi, itu semua tak berlaku bagi seorang Kim Taehyung. Baginya, makanan yang enak dan sehat itu makanan buatan sendiri bukan makanan instant atau cepat saji. Tak baik jika sering memakan makanan instant yang pastinya banyak mengandung pengawet. Benarkan? Tentu saja Taehyung benar.

Itu baru menurut Taehyung, beda lagi kalau Jimin. Baginya makanan yang enak adalah makanan cepat saji. Mudah membuatnya, cepat matangnya dan murah harganya seperti mie Indomie dari Indonesia. Maaf, ia tidak sedang menawarkan produk.

Taehyung itu selalu menjaga pola makan Jimin dengan baik, dan Jimin bersyukur atas itu.


Tapi.... Iya ada tapi nya.


Tapi, Jimin sedikit tak suka karena ia tak leluasa ketika ingin membeli sesuatu, seperti snack misalnya. Coba kalian pikir, ketika kalian ke supermarket apa yang kalian inginkan? Tentu saja makanan ringan dan lainnya. Jimin juga begitu, tapi Taehyung selalu saja memberinya peringatan seperti, 'Tak usah beli itu, banyak MSGnya. Tak baik untuk kesehatan jadi taruh lagi ke tempat semula. Apa kau mau dianggap sebagai generasi micin?'

Yah, tak ada jalan lain selain menuruti perkataan hyungnya itu. Tapi, sebagai gantinya Taehyung akan membuatkan makanan sehat untuk Jimin yang tak kalah jauh enaknya.

Namun, malam ini Taehyung dibuat gusar karena bahan masakannya habis tak bersisa di kulkas. Ia baru sadar kalau dirinya belum belanja bulanan. Ini karena ia sibuk mengurusi kuliahnya.

"Oh tidak, bagaimana persediaan di kulkas habis begitu saja?!" ujar Taehyung sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Kalau begitu kita makan ramyeon saja," ucap Jimin yang sedang duduk di meja makan sambil menopang dagunya. Ia merasa jengah dengan kelakuan Taehyung yang terlihat berlebihan itu.

"Tidak tidak, ramyeon itu tak baik untuk kesehatan. Mungkin hyung bisa memasak telur, masih ada dua butir di kulkas," tolak Taehyung sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil telur.

Jimin hanya bisa mendengus kesal. Bagaimana pun juga Jimin tak bisa membuat Taehyung menuruti permintaannya. Taehyung itu punya seribu cara agar Jimin tak memakan makanan dengan sembarangan.



Prak!

Taehyung langsung diam mematung ketika  telur yang menjadi harta berharganya jatuh begitu saja ke lantai. Tolong kembalikan jiwa seorang Kim Taehyung.

"Ku rasa kita memang harus makan masakan di luar," ujar Jimin dengan senyum penuh kemenangan.

Dan kali ini Taehyung tak bisa beralasan lagi. Akan lama jika ia harus membeli sayuran dan yang lainnya ke supermarket. Ini sudah malam dan ia juga lapar. Tak ada salahnya mengikuti kemauan dongsaengnya sekali-kali. Anggap saja ia sedang baik hati hari ini.








Sudah lama Taehyung tak makan makanan seperti yang ada di hadapannya sekarang. Rasanya begitu nikmat karena ia sangat jarang membeli makanan seperti itu.

"Bagaimana? Enak?" tanya Jimin dengan senyuman mengejeknya.

"Tentu saja!" jawab Taehyung tanpa ragu, namun setelahnya ia melotot dan menatap Jimin yang sudah menahan tawanya.

"Tidak-tidak, lebih enak makanan buatan sendiri. Itu jauh lebih sehat dibanding dengan ini," sambar Taehyung setelahnya membuat Jimin tertawa, hampir saja ia terjungkal karena ingin terbahak. Takut dosa dianya, jadi ngga jadi ngakak.

Me VS Hyung ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang