Tit....tittttt...
Jungkoook yang mendengar bunyi nyaring dari mesin EKG tersebut langsung bangkit. Mendadak jantungnya berpacu dengan cepat.
"Dokter!!" teriak Jungkook
"Jimkkhh.... Jimikhh"
"Taehyung-ah," Jungkook menggenggam tangan Taehyung erat. Rasa takutnya kian membesar ketika tubuh sang sahabat mengejang.
"Mohon tunggu di luar, pasien biar kami yang periksa," Jungkook mengangguk pasrah dan mulai berjalan mundur.
Setelah selesai rapat, Jungkook menerima panggilan dari rumah sakit yang memberitahu bahwa Taehyung dan Jimin mengalami kecelakaan. Mendengar hal itu membuat Jungkook tak bisa berpikir jernih dan segera pergi ke rumah sakit yang petugas tadi berikan.
"Kau harus bangun, Taehyung. Jimin membutuhkanmu," gumam Jungkook sambil menatap pintu ICU tempat Taehyung berada.
"Jungkook hyung!" panggilan seseorang membuat Jungkook menoleh. Di sana ada Jimin dan juga kedua orang tua Jungkook.
"Jungkook hyung, Taetae hyung hiks," Jungkook hanya diam sambil merengkuh Jimin yang duduk di kursi roda.
"Aku takut hiks," Jungkook masih diam sambil mengelus punggung bergetar adik dari sahabatnya.
"Jiminie, Tae hyungmu baik-baik saja, sayang. Jangan takut, daddy, mommy, dan hyungmu ini ada di sini untuk menemanimu," ujar Tuan Jeon sambil mengelus kepala Jimin lembut.
"Jungkook hyung hiks, jangan diam saja hiks hiks. Katakan sesuatu hiks," lirih Jimin masih dengan posisi memeluk tubuh besar Jungkook.
"Taetae hyung menyayangimu. Apapun yang terjadi, rasa sayangnya tak akan pernah berkurang bahkan hilang sekalipun," Jimin semakin terisak dipelukan Jungkook. Rasa takutnya semakin menjadi. Apa lagi setelah merasakan kalau bahunya basah. Jungkook ikut menangis dalam diam.
Kriett
"Apa ada orang yang bernama Jimin? Pasien sempat mengejang dan bergumam memanggil namanya. Saya harap orang itu ada di sini dan bisa membantu tuan Taehyung untuk mengalahkan alam bawah sadarnya," ujar seorang dokter yang menangani Taehyung.
"Hyung hiks," Jungkook mengangguk ketika Jimin menatapnya dengan memohon.
"Tapi kau harus janji, jangan terlihat lemah di depan hyungmu. Arachi?" Jimin mengangguk setuju dengan air mata yang terus menetes.
Jimin memegang tangan lemah Taehyung. Ia kembali menangis karena hyungnya masih belum sadar. Namun, karena mengingat perkataan Jungkook, ia segera menghapus air matanya kasar.
"Hy-hyung," lirih Jimin.
"Ini Jimin. Ada apa hyung memanggilku? Aku sudah ada di sini, hyung. Jadi, ayo bangunlah," lanjutnya sambil memandangi wajah tampan hyungnya yang masih terpejam.
"Hyung~ kau tahu kan kalau aku tak suka rumah sakit? Ayo bangun, aku ingin pulang hiks. Hyung~" maaf, tapi Jimin tak sekuat itu untuk menahan tangisnya. Apalagi dalam keadaan seperti ini.
"Hyung, mianhae. Jeongmal mianhaeyo hiks, aku tak akan lagi menjauhimu, hyung. Aku tak akan lagi membuatmu kerepotan dan marah hiks hiks. Aku janji akan jadi adik yang baik. Aku akan menuruti semua kemauanmu. Aku janji akan selalu membawa bekal empat sehat lima sempurna buatanmu. Aku tak akan makan camilan terlalu banyak lagi hik hiks. Jadi, ayo bangun hiks," nada bicara Jimin terdengar putus asa. Kepalanya ia tenggelamkan di antara kedua tangannya yang menggenggam tangan Taehyung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Hyung ✔
FanfictionPunya hyung tampan itu susah, Start : 23-01-2020 End : 29-09-2020
