Bab 7: Malam Pertama

221K 18.3K 475
                                        

Ini adalah kali pertama Jill makan malam bersama Ares. Sekaligus pertemuan resmi pertama mereka berdua sebagai suami istri. Ares memilih aula istananya yang lantainya berlapis marmer mengkilap sebagai area perjamuan mereka.

Dewa perang menyuruh para Satyr bawahannya untuk menempatkan sebuah meja panjang yang terbuat dari batuan vulkanik mengkilap. Jill duduk di sana, di sebelah suaminya yang sesekali memandang istrinya dengan penuh keingintahuan.

Portia didandani total oleh para nimfa. Dia mengenakan gaun sutera berwarna keemasan serta perhiasan yang mewah. Parfum beraroma musk bercampur pinus juga dipercikkan pada tubuhnya, Jill menduga itu adalah wewangian favorit Ares.

Jill memastikan tubuh Portia tertutup dengan sopan. Sebuah selendang tipis dilampirkan menutupi area dadanya. Tidak peduli betapa umum pakaian minimalis dikenakan oleh para wanita di sekitarnya, Jill tidak mau mengumbar kemolekan tubuh Portia dengan mudah.

Tetap saja, disembunyikan seperti apapun Portia tetap sangat indah. Sinar rembulan yang menelusup lembut ke ruangan luas itu menerpa kulitnya yang putih, membuatnya seakan berkilau.

Para Satyr dan nimfa mulai banyak berdatangan, mereka membawa banyak hidangan di tangannya. Jill melihat kebanyakan sajian didominasi daging merah. Ada rusa utuh yang dipanggang dengan rosemary, serta mangkuk besar berisi kentang dan sayuran yang dimasak dengan mentega.

Mengunyahnya membuat Jill harus menggunakan usaha ekstra keras. Dagingnya terasa alot dan dibumbui seadanya, namun orang-orang di sekitarnya tampak nikmat memakannya. Jill merasa cepat kenyang, seluruh makanan tadi sungguh jauh berbeda dengan yang biasa dia makan selama dia hidup sebagai Jill Adelaide.

Jill adalah penyuka kuliner, sesibuk apapun dia sebagai aktris, dia memastikan lidahnya hanya mengecap makanan berkualitas baik. Gadis itu juga seringkali memasak sendiri dan menjadikannya hobi.

Kini setelah Jill memastikan akan tinggal di istana Ares untuk waktu yang lama, haruskah dia turun ke dapur dan memasak sendiri? Karena dia merasa perutnya tidak akan sanggup mencerna makanan hambar seperti itu setiap hari.

"Kau sudah selesai makan? Itu saja?" Ares meliriknya heran.

Jill yang masih takut memandang wajah sang Dewa Perang hanya mengangguk diam. Orang itu berada sangat dekat dengannya. Aroma tubuhnya yang maskulin tercium samar, sempat membuyarkan fokus Jill. Sepertinya Ares menggunakan minyak esensial campuran musk dan sandalwood.

"Hei Putri Sparta, lihat aku! Tidak adakah yang ingin kau tanyakan pada suamimu?" Ares terlihat tidak sabar dan gemas mendapati Portia yang pasif.

"Mohon maaf, setahu saya tidak baik berbicara ketika makan." Jill menanggapi dengan suara kecil.

"Ha? Aturan dari mana itu? Ternyata Sparta punya kebiasaan aneh di meja makan," protes Ares.

Ares benar, Jill tidak tahu apa-apa tentang etiket makan keluarga kerajaan di masa Yunani kuno. Era itu masih bisa dibilang primitif, berbeda dengan abad pertengahan yang lebih moderen. Mungkin saja aktifitas makan malam di keluarga kerajaan lebih luwes seperti saat ini.

Jill bisa melihat para bawahan Ares makan bersama mereka di ruangan yang sama. Mereka mengobrol, bercanda dan tertawa-tawa. Mereka makan dengan rakus dan melahap segala makanan hambar itu tanpa sisa. Cara mereka melalui makan malam ini cukup berantakan namun menyenangkan.

"Kamu lihat mereka semua? Para nimfa yang cantik ya?" Ares memancing Jill untuk bicara.

"Ya, mereka semua sangat rupawan dan cantik," jawab Jill mengiyakan. Masih belum berani memandang wajah Ares, dia hanya melihat ke depan.

"Kamu harus berhati-hati, kalau kamu bertemu nimfa atau siren di luar istanaku, mereka mungkin bisa memakanmu," Ares memperingatkan.

"Me.. Memakan saya?" Jill terkejut.

"Mereka tidak sempurna, dan mereka bukan manusia secantik apapun penampilan mereka," Ares memberi tahu.

"Oh, terima kasih ... Saya akan berhati-hati." Jill mengangguk menanggapi.

"Dan para Satyr! Terutama mereka, jauhi mereka. Banyak Satyr di Olympus. Dan mereka tidak dikebiri. Mereka tidak akan mengabaikanmu kalau melihatmu." Ares memberitahu lagi.

"Kenapa?" Jill bertanya.

"Apa Alastair tidak memberitahumu? Satyr suka menculik wanita, terutama manusia. Dan kamu bukan manusia biasa Portia, kamu istri Ares, manusia tercantik di Yunani," Ares menegaskan.

"Ah iya, saya akan mengingat itu." Jill mengangguk.

"Hei! Kapan kamu mau melihat mataku?" Ares sedikit menggertak. Jill merasa tanpa dia sadari bahunya tersentak.

"Putri Sparta, kamu takut kepadaku?" Tubuh Jill gemetar tatkala tangan sang dewa bergerak ingin meraihnya. Jill mengangguk ragu. Dia adalah Dewa Ares yang bahkan prajurit tertangguh di Yunani pun segan menyebut namanya.

"Kamu adalah wanitaku, aku tidak akan menyakitimu." Ares pun merengkuh leher Jill, membuat mata mereka berdua akhirnya saling bertautan. Jill merasa area wajahnya menghangat ketika menyadari tidak ada satu manusia pun yang dia pernah lihat yang dapat menyamai karisma dan keindahan Ares.

Namun segala pesona itu tidak lantas membuat Jill bersyukur. Bagaimanapun Ares adalah Dewa dengan reputasi terburuk di Olympus dan kini garis nasib memaksa Jill untuk menjadi istrinya. Entah apa yang akan dilakukan Ares nanti padanya.

Ares adalah pria yang sangat tampan, dengan tubuh atletis namun tetap proporsional. Jill bisa melihat otot tubuhnya terbentuk sempurna namun tidak berlebihan. Kulitnya seperti tembaga namun lebih terang. Rambutnya hitam dan tidak berkumis maupun berjanggut. Iris matanya cokelat gelap. Dia tampak sangat gagah dan energik untuk seorang makhluk berumur ribuan tahun.

Ares adalah Dewa, namun fisiknya sangat manusiawi. Tapi Jill juga tidak bisa menyebutnya manusia karena dia memiliki kharisma dan aura yang sulit dijelaskan. Manusia normal juga tidak akan memiliki umur sepanjang itu dengan penampilan fisik seperti baru awal 30-an.

"Seperti yang rumor bilang, kamu memang sangat cantik. Aku suka rambut pirang lurusmu. Sayang kalau tubuh ini menua. Apa kamu mau hidup abadi?" Ares menggoda Jill sambil memainkan rambutnya.

"Menjadi abadi? Bagaimana bisa?" Jill bertanya ingin tahu.

"Zeus bisa melakukannya pada Psyche, istri Eros, walau itu tidak mudah. Mungkin kamu akan menyesal hidup abadi di sampingku karena aku bukan kekasih yang baik." Ares tersenyum ketika mengatakannya.

"Hidup abadi ... Kedengarannya menarik ... Tapi ..." Jill bingung bagaimana harus menanggapi.

"Kamu benar, hidup abadi tidak selalu enak. Tidak perlu diputuskan sekarang, kamu masih muda Portia. Selama dirimu masih muda dan cantik aku akan bersenang-senang denganmu dan memanjakanmu." Ares bicara tanpa beban, Jill merasa sakit hati setelahnya.

"Lalu bagaimana setelah aku menua dan berkeriput?" Jill bertanya lancang.

"Kau bisa hidup damai, mengasuh anak-anak kita, kamu tidak akan kekurangan apapun. Kalau aku mengizinkan, kau mungkin bisa menikah lagi, seperti beberapa kekasih manusiaku dulu," Ares menjawab apa adanya, dia tidak berusaha terlihat baik di hadapan Jill.

"Boleh saya tahu wahai dewa Ares yang terhormat, kenapa Anda menikahi saya? Kenapa Anda tidak langsung saja menculik saya dan bersenang-senang dengan saya seperti yang Anda lakukan dengan kekasih Anda yang lain?" Jill memberanikan diri bertanya lagi.

Ares tidak langsung menjawab, dia seperti mempertimbangkan sesuatu. Matanya yang tajam dan jernih menerawang sesaat ke langit-langit. Punggungnya yang kokoh dia sandarkan.

"Hmm ... Kamu benar, kamu adalah wanita pertama yang kunikahi selama aku hidup dan bernafas. Alasannya? Karena seorang Oracle memberitahuku sebuah ramalan," Ares menjawab.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang