Bab 13: Mereka yang Berpisah

153K 15.2K 262
                                        

"Gadis itu terlalu mencurigakan, Ares, kau yakin akan membiarkannya berkeliaran di istanamu?" Aphrodite berprasangka. Mendesak Ares untuk membuka pikirannya. Bagi Aphrodite, Portia tidak seperti kebanyakan putri raja yang dia kenal. Aphrodite bisa merasakan kalau gadis itu memiliki rahasia.

Kini mereka berdua berada dalam kamar pribadi Ares. Makan malam telah usai dan Eros telah kembali ke huniannya dimana istrinya Psyche setia menanti. Para penghuni Istana Ares lainnya juga sudah mulai terlelap.

"Kau baru bertemu dengannya satu kali," Ares menyanggah sembari melepaskan pakaiannya yang berat. Ares mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih longgar dan menampakkan sedikit lekuk otot sempurna di perut dan dadanya.

"Dan kau juga belum sebulan tinggal bersamanya!" Aphrodite tidak mau kalah.

"Kalau kau cemburu karena kecantikannya, tenanglah kau masih menjadi Dewi tercantik di Yunani," Ares merayu malas-malasan.

"Tidak, Ares! Coba kau pikirkan lagi! Dia pelayan kuil Athena dan para Oracle yang memberi ramalan itu padamu adalah penghuni kuil Athena! Apa kau yakin Athena tidak sedang hendak mengerjaimu?" Aphrodite mengemukakan dugaannya.

"Aku sudah pastikan Athena tidak ada kaitannya dengan pernikahanku," Ares membantah.

"Coba kau selidiki lebih dalam, ingat dalam beberapa musim ini akan ada perang lagi di Yunani. Athena dan kamu akan terlibat di dalamnya. Bagaimana kalau gadis kecil itu hendak mencari kelemahanmu?" Aphrodite memaksa Ares menelan teorinya.

"Kalaupun itu benar, aku tidak akan membiarkan Portia pergi dari pandanganku. Dia tidak akan bisa memberitahu apapun pada Athena," bantah Ares sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.

"Baiklah! Aku sudah mengingatkanmu!" sergah Aphrodite kasar sambil membalikkan badannya.

Hening tercipta beberapa saat di antara mereka berdua. Ares dan Aphrodite, sepasang dewa yang hidup abadi itu memiliki sejarah hubungan yang rumit.

Mereka bertemu pertama kali dengan gairah yang menggebu tinggi. Mereka melupakan norma dan harga dari kesetiaan pernikahan demi kesenangan mereka sendiri. Kemudian hubungan mereka berlanjut menjadi ikatan yang saling menguntungkan.

Aphrodite dan Ares juga bersahabat dan mendukung satu sama lain. Ares selalu menjadi sekutu setia Aphrodite, begitu pun sebaliknya. Kini pertalian asmara mereka berdua tidak selalu berlandaskan gairah. Ares punya kekasih lain begitu pun Aphrodite.

Namun sebanyak apapun kekasih mereka, Ares selalu kembali pada Aphrodite. Dan Aphrodite tidak pernah kuasa menyingkirkan Ares.

"Kembalilah bersama Hephaestus, kali ini cobalah bertahan untuk setia setidaknya selama beberapa tahun," Ares menasehati Aphrodite.

"Lagi? Sudah berapa kali kita bicarakan hal ini? Jadi kali ini berapa lama kau akan bersenang-senang dengan kekasih barumu?" Aphrodite bertanya dengan gerik menantang.

Setiap Ares memiliki kekasih baru, dia akan berhenti bertemu dengan Aphrodite. Dewi itu sudah paham kebiasaannya dan tidak bermasalah dengan itu. Selain sejarah hubungan selingkuh ribuan tahun, mereka tidak punya ikatan apa-apa.

Aphrodite juga tidak kekurangan kekasih, dan dia masih memiliki suaminya Hephaestus yang walau tahu Istrinya tidak setia namun selalu menerimanya kembali dengan tangan terbuka.

Ares walaupun digambarkan serampangan dan egois, dia adalah kekasih yang baik. Dia memperlakukan kekasihnya dengan hormat. Dia tidak pernah berasmara dengan lebih dari satu orang perempuan sekaligus. Ketika Ares sudah bosan dan hubungannya berakhir barulah dia akan kembali pada Aphrodite. Dewi itu pada akhirnya akan selalu menjadi kekasih utama Ares.

"Dia bukan sekedar kekasihku, tapi istriku." Ares tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Aphrodite. Dewi itu menghela nafasnya karena lelah dan bosan berargumen.

"Aku akan kembali ke Pulau Lemnos, meminta maaf kepada Hephaestus dan tinggal di sana sampai entah kapan. Hubungan kita berakhir, Ares," Aphrodite menyatakan keputusannya.

Tidak ada rasa sedih ataupun terluka di hati Ares ketika Aphrodite mengatakannya. Sudah ribuan tahun berlalu dan mereka membicarakan ini begitu sering. Entah apa yang Ares rasakan pada Aphrodite kini. Respek atau cinta Ares sendiri bimbang menentukannya. Tidak ada lagi rasa cemburu yang menggebu ketika mengetahui Aphrodite bersama pria lain. Padahal dulu Ares pernah beberapa kali membunuh kekasih Aphrodite.

"Tapi ... Kalau kau menginginkannya, temui aku dan kita akan mulai hubungan ini kembali," Sang Dewi Cinta mengatakannya sambil merangkul leher Ares. Memberikannya kecupan singkat di bibirnya kemudian melangkah meninggalkan kamarnya.

***

Ares tidak memungkiri bahwa percakapannya dengan Aphrodite telah mengusik pikirannya. Dia tidak bisa tidur dan memikirkan Portia. Bagaimana kalau dia benar-benar mata-mata Athena? Haruskah dia membunuh istrinya?

Ares kini duduk di salah satu sisi tempat tidur yang berada di kamar Portia. Jill sedang terlelap nyenyak dalam mimpinya. Ares mengamati istrinya lekat-lekat. Walaupun gadis itu berbaring dengan gaun tidur tipis, Ares tidak merasa bergairah.

Ares tidak pernah memaksa wanita untuk tidur bersamanya. Dia hanya melakukannya jika si wanita bersedia dan menyukainya. Ares tampan dan berkuasa, tidak ada wanita baik dewi, kaum Titan maupun manusia yang sanggup menolaknya. Portia adalah gadis pertama dalam hidupnya, yang sanggup bertahan dari pesonanya selama berhari-hari.

Tidak hanya berani dan punya rasa ingin tahu yang tinggi, gadis itu kerap kali mencengangkannya. Siapa yang menduga kalau Putri Sparta manja sepertinya bisa memasak?

Ares tersenyum, merasa damai melihat istrinya yang sangat nyenyak tertidur; dia pun berbaring di sebelahnya. Memainkan rambut pirang keemasannya sampai kantuk datang menerpanya.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang