Bab 22: Apollo the God of Prophecy 2

123K 12.5K 174
                                        

"Ares biasanya tidak pernah begitu dengan para kekasihnya, sepertinya kamu cukup spesial baginya. Sihir apa yang kamu gunakan padanya? Apakah mungkin kalau kau telah meminta Eros untuk membidiknya dengan panah cinta?" Apollo iseng bertanya.

Ketika itu Jill sedang menghirup udara segar sendirian di teras rumah si Dewa Musik. Jill merasa lelah. Menikah ternyata tidak selalu mudah. Jill merasa muak harus mengalami kesalahpahaman dan pertengkaran kecil seperti yang baru saja Ares dan Jill alami. Sejujurnya Jill juga tidak yakin apakah Ares marah karena sikap Jill atau memang itu pembawaan alaminya?

Ares tidak pernah satu kalipun mengucap cinta padanya. Tapi Dewa egois itu tampak emosional mengetahui kalau Jill mungkin juga tidak mencintainya. Ares menginginkan Jill seutuhnya, termasuk perhatian dan cintanya. Namun Ares sendiri enggan menyerahkan seluruh hatinya pada Jill. Bukankah itu sikap yang mau menang sendiri?

Jill memandang mata Dewa Tampan berambut pirang itu dengan ragu. Perlukah dia membuka hati atau melakukan percakapan pribadi dengan seseorang yang baru pertama kali ditemuinya?

"Anda tahu kalau tidak ada yang namanya sihir di dunia ini. Eros tidak punya panah cinta," kata Jill menanggapi.

"Oh ... Ternyata kamu tahu." Apollo tampak sedikit terkejut.

"Apakah Ares memberitahumu semua itu? Tentang para Dewa Olympus dan rahasianya?" selidik Apollo lagi. Jill menggeleng tegas.

"Aku bisa menebaknya sendiri, Ares sangat tertutup padaku," bantah Jill.

"Kamu terlalu cerdas untuk gadis belia yang baru berumur Sembilan belas tahun. Menurutku ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Tapi yah itu bukan urusanku. Hanya saja, kalau boleh memberi saran, pertimbangkanlah untuk jujur pada Ares. Pria itu—menyimpan kegelapan di dalam dirinya. Dia tidak mudah memaafkan kesalahan dan kadang tangannya bergerak lebih cepat ketimbang pikirannya. Kamu tahu kan arah pembicaraan ini ke mana?" Apollo menjelaskan. Jill merenunginya sejenak.

"Maksud Anda, Ares bisa saja membunuhku?" Sergah Jill.

"Semoga saja kamu bukan mata-mata Athena atau diutus para Titan pemberontak," kata Apollo lagi.

"Hah? tidak, aku sama sekali tidak seperti itu." Jill menegaskan.

"Portia!" Jill mendengar Ares memanggilnya. Apollo mengangkat tangannya dan bergegas menjauh dari Jill.

"Kami hanya mengobrol," kata Apollo.

"Aku tahu, menyingkirlah," usir Ares.

"Kalau urusan kalian sudah selesai, kembalilah ke dalam rumah. Kita minum-minum dulu." Apollo pun melesat pergi.

"Apa kau marah padaku?" Ares bertanya. Jill hanya memandang dengan mulutnya terkatup rapat.

"Entahlah, aku hanya bertanya-tanya. Apakah kau tadi sedang mengancamku?" Jill akhirnya bersuara dengan ekspresi datar. Dewa tampan itu menghela napasnya.

"Bisakah kita berbaikan saja dan tidak usah membahas itu? Aku hanya sedikit merasa emosional." Ares mendekap Jill ke pelukannya. Semilir angin musim panas di malam hari kota Thebes terasa menenangkan. Riuh aktifitas dagang sudah selesai, yang tersisa hanya suara serangga dan binatang malam, serta petikan lira dan alat musik dari dalam rumah Apollo.

Jill membalas pelukan suaminya, membiarkannya meraba dan memainkan rambut pirang selembut suteranya. Ares kemudian mendekatkan wajahnya dan mencium dahi Jill kemudian pipinya dengan lembut. Jill merasakan adanya kasih sayang dari setiap sentuhan suaminya, namun Jill tidak mau banyak berharap. Seperti kata Apollo, mereka adalah Dewa yang sangat berpengalaman merayu wanita.

Jill memejamkan matanya, yang terpenting baginya adalah situasinya sekarang. Saat ini dia tidak punya siapa-siapa yang bisa melindunginya di dunia kuno yang asing ini. Dia bergantung hanya pada Ares. Kendati Jill membenci ketidakberdayaan dan kelemahannya, dia harus terus bertahan mengikuti kemauan dan aturan Ares agar dia bisa bertahan.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang