Bab 59: Rescuing Hermes 2

69.7K 8.2K 76
                                        

Tybald, adalah nama Satyr mesum bernasib malang itu. Rata-rata kaum Satyr memang kelebihan hormon, bukan benar-benar salah dia sebetulnya. Satyr itu hanya dikuasai insting hewaninya. Mungkin semua akan aman baginya seandainya saja dia mengincar nimfa atau manusia biasa. Masalahnya kali ini dia berusaha memperkosa seorang wanita titan yang juga bagian dari kaum pemberontak.

Hermes belum sempat membocorkan satu kalimat pun dari mulutnya tentang Aphrodite. Selain enggan menodai kemuliaan dewi kecantikan itu, Hermes sendiri sebenarnya tidak pernah menjalani hubungan serius dengan Aphrodite. Mereka hanya pernah beberapa kali melalui malam bersama yang terjadi lebih dari 1.500 tahun yang lalu. Hermes sendiri sudah lupa seperti apa rasanya.

Tybald yang malang itu kini sudah tewas dipenggal, Hermes bisa melihat ksatria pemberontak menyeret tubuh si Satyr untuk dikremasi atau semacamnya. Padahal kurang dari setengah jam yang lalu Hermes masih bergurau dengan teman satu selnya itu.

Hermes pun merenung seraya menyaksikan sungai darah dari Satyr pendosa itu yang membanjiri tanah di depan teralisnya. Keabadian sebenarnya tidak pernah menjadi suatu kepastian bagi para Titan atau Dewa Olympus seperti dirinya. Mereka memiliki umur yang panjang tentunya. dan berkat penelitian para ilmuwan Titan mereka bisa meregenerasi sel sehingga senantiasa muda. Namun mereka tidak kebal dari sabetan pedang, tembakan peluru atau pisau eksekusi.

Di satu sisi kaum titan menyatakan dengan yakin kalau mereka makhluk abadi. Di sisi lain, mereka tetap berwaspada dengan tajamnya mata panah dan belati karena takut akan kematian. Bukankah itu suatu hal yang konyol? Artinya mereka tidak benar-benar abadi kan?

"Hei, Hermes!" salah seorang penjaga memanggil namanya. menghuni sel tahanan selama tiga bulan lebih telah menjadikan penampilannya mirip gelandangan. Titan di sekitarnya kini sudah berani memanggil namanya dengan santai.

"Ada apa lagi?" Hermes menunjukkan sikap seolah tidak peduli. Hermes tidak mau membiarkan para penculiknya tahu kalau dia tersiksa dengan segala kecoa dan laba-laba yang berbagi ranjang yang sama dengannya. Tidak, mereka harus tahu kalau mereka tidak berhasil membuatnya gila.

"Kudengar kau akan dieksekusi besok," Titan itu berujar seakan meledek.

"Ha? Kalau aku benar-benar mati, Olympus tidak akan membiarkan kalian hidup. Kami sudah terlalu baik pada kalian selama ini," Hermes menanggapi.

Penjaga itu tertawa.

"Hah! Mereka jelas tidak memedulikanmu. Lagipula ayahmu yang gila hormat itu juga sebentar lagi akan mati," Titan penjaga itu berujar yakin.

Bukan pertama kalinya para pemberontak itu merencanakan serangan terhadap singgasana Zeus. Tapi kali ini Hermes merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah-olah mereka memegang kartu truf atau semacamnya.

"Kalian akan mati. Penyakit dan waktu tidak bisa membunuh kalian tapi kalian akan mati terkena sayatan pedang atau panah perunggu yang menembus tengkorak kalian yang bebal," Hermes mengutuk.

"Terserah kau! Aku berbaik hati memberitahumu agar kau bisa berdoa atau semacamnya. Entah mau berdoa pada siapa." Seringai penjaga itu kemudian meninggalkannya sendirian.

Hermes menggaruk kulitnya yang kusam karena berlapis debu penjara yang menumpuk. Kali ini dia betul-betul harus melarikan diri. Hermes sudah berkenalan dan berpisah dengan lebih dari setengah lusin teman satu selnya yang menghadapi pisau eksekusi lebih dulu. Jelas para titan pemberontak itu tidak suka bergurau dengan kata 'eksekusi'.

Dewa pembawa pesan itu melirik ke arah gumpalan kain yang dia sembunyikan di bawah batu. Isinya batu hitam vulkanik yang diasah sampai tajam dan menyerupai belati. Hermes menolak menggunakan senjata primitif selama hidupnya, tidak seperti saudaranya Ares. Tapi dia berada dalam situasi dimana dia tidak bisa menjadi pemilih.

"Psst Hermes! Kau Hermes kan?" seseorang berbisik lagi dari luar selnya. Ketika itu Hermes sudah bersiap untuk memotong pergelangan kakinya dan melepaskan belenggu baja yang menahannya untuk kabur.

"Ares! Aku tidak pernah sesenang ini bertemu denganmu!" Hermes berbisik merasa lega. Dewa Perang itu kini berusaha melonggarkan teralisnya menggunakan sebuah alat khusus.

Ares kemudian masuk dan melepaskan rantai baja yang melingkari kaki kanan Hermes. Semua memang lebih mudah kalau menggunakan alat-alat canggih berteknologi titan. Hermes lega Ares tidak memaksakan diri untuk membebaskannya dengan cara brutal seperti menggergaji rantainya dengan kapak manusia yang primitif atau sejenisnya. Selain berisik, Para titan mungkin malah akan menambah satu lagi koleksi Dewa Olympus di dalam jeruji besi mereka.

"Ares! Ada seseorang yang datang!" Hermes melihat seorang wanita berbisik keras memperingatkan Ares, dia mengenakan helm dan bertubuh ramping dibalut pakaian ksatria amazon yang sangar. Apa Ares tidak sendirian?

"Ayo, kau kurus sekali apakah kau bisa berjalan?" Ares tampak prihatin melihat sahabatnya berubah tua dan ringkih.

"Aku bisa berjalan. Aku akan berlari secepat mungkin asal bisa keluar dari sini!" Hermes tampak teguh.

"Kita akan naik kuda. Dengar, pacu kudamu sampai masuk ke hutan belantara," Ares memberi arahan. Hermes melihat ksatria wanita misterius berambut pirang itu naik ke kuda Ares. Hermes pun tidak membuang waktu dan langsung menunggangi kuda putih gagah yang tampaknya pemakan daging.

"Apa kau tidak ingin membakar tempat ini lebih dulu?" Hermes melihat titan penjaga yang tadi mengobrol dengannya sudah ambruk di tanah dengan darah mengalir. Tapi Hermes belum merasa itu cukup.

"Tempat ini sudah sepi Hermes, semua orang mungkin sudah bergerak menyerbu Zeus," Ares menjelaskan.

"Itu menguntungkan bagiku. Aku tidak perlu susah payah menembus penjagaan mereka," lanjut Ares lagi.

Pembicaraan mereka terputus. Namun Hermes tidak bisa mengabaikan tatapan menusuk dari si ksatria wanita yang membonceng kuda Ares. Siapa dia sebenarnya?

"Hermes Siatrich ... Anda Hermes Siatrich kan?" wanita itu berseru bertanya padanya yang tengah sibuk menjaga keseimbangan di atas kudanya.

"Apa?" Hermes tampak bingung.

"Apakah Anda kenal siapa saya? Dewa Hermes?" ujar wanita itu bertanya lagi tampak frustasi.

Hermes menggeleng kuat.

"Tidak, Nona, saya tidak mengenal Anda," jawab Hermes yakin.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang