Bab 67: The War of Titans 2

67.1K 8.2K 212
                                        

Hari masih cukup terang ketika rombongan Ares yang dikawal oleh pasukan Atlas akhirnya menginjakkan kaki di sekitar kediaman Zeus. Pegunungan Olympus kini riuh ramai, dengan tenda-tenda para pemberontak terpasang di atas rerumputannya.

Zeus memang sengaja memilih dataran berumput dengan tanah berbatu; karena tidak banyak pohon besar yang bisa tumbuh di sana. Istana Zeus masih sama seperti yang diingat oleh Ares. Tembok yang disusun dari batuan vulkanis yang kokoh mengelilingi bangunannya. Lengkap dengan menara-menara penjagaan yang dihuni oleh para Titan yang siap menghujani musuh dengan anak panah mereka. Tentunya mereka tidak menggunakan anak panah kuno yang terbuat dari kayu dan logam. Mereka dibekali oleh senjata mirip senapan yang sekali bidik sanggup melontarkan ratusan timah panas.

Cyclops si raksasa bermata satu, tampak mondar-mandir dengan rute yang sudah ditentukan oleh pawangnya. Jumlahnya lebih dari 50 ekor dan masing-masing memiliki paha seukuran batang pohon akasia berusia puluhan tahun. Mulut mereka menyebarkan bau busuk dengan gigi kehijauan karena ditumbuhi lumut dan dihuni serangga parasit. Tubuh bagian bawah mereka hanya dilindungi oleh selembar kain yang terbuat dari kulit kerbau yang ditenun asal-asalan. Masing-masing dari mereka menggenggam sebuah gada kayu dengan tonjolan paku-paku logam berujung runcing menyembul darinya.

Istana Zeus lebih menyerupai benteng yang tidak tertembus. Segala fitur pengamanannya dibiarkan jujur dan terlihat apa adanya dengan tujuan untuk memberikan intimidasi. Ares juga melihat ada dewa dan dewi lain seperti Artemis dan Helios si Dewa Matahari serta dewa dan dewi minor lainnya turut berjaga di beberapa sudut kastilnya.

Biasanya di situasi normal, dalam lusinan kali pertempurannya mendampingi Zeus, Ares selalu terlibat sebagai salah satu panglima Zeus. Ares menunggang kuda perangnya sambil memimpin para ksatrianya untuk menggempur para pemberontak itu. Ini adalah pertama kalinya Ares melihat suasana perang para Titan dari luar benteng Zeus.

Kelompok pemberontak seperti Atlanta yang memiliki bendera berwarna hijau, serta Sigmarion yang kostum dan benderanya didominasi warna merah juga sudah hadir dengan ribuan pasukan Titannya. Ares awalnya menduga mereka berniat melibatkan manusia pada perang mereka namun sepertinya dia salah. Ares pernah mendapatkan laporan kalau kaum pemberontak melakukan kontak dengan manusia. Namun laporan itu dia peroleh dari Jacinda, yang belakangan menunjukkan jati dirinya sebagai bagian dari kaum pemberontak.

Informasi intelijen itu sepertinya sengaja disampaikan untuk membuat Ares dan pasukannya lengah. Sejak awal, kaum pemberontak sepertinya memang sudah bertaruh pada kesempatan mereka untuk menguasai senjata dan pasukan Ares.

Jill memandang Ares dengan gurat kecemasan terukir di wajah cantiknya. Jill memandangi punggung suaminya yang kokoh dan seakan tengah memanggul beban tidak terlihat. Hasil akhir dan jalannya perang kali ini mungkin ditentukan oleh Ares.

Ares menyadari kekhawatiran Jill. Dia yang masih menunggang Herion membuat kuda perangnya memelankan langkahnya. Ketika dia telah berada dalam posisi yang sejajar dengan Jill. Ares membelai rambut dan keningnya sambil menatapnya lekat-lekat. Ares seakan berusaha merekam aura dan eksistensi istri jelitanya dalam ingatannya. Sekaligus memberikan ketenangan pada Jill.

Hermes sudah mengajari banyak hal pada Ares — tentang bagaimana agar dia tidak terpengaruh oleh hipnotis Jacinda. Hermes juga sudah berulang kali mencoba mempengaruhi Ares dengan menggunakan keahlian hipnotisnya. Untungnya Ares termasuk orang yang ternyata tidak termasuk mudah dipengaruhi. Ares hanya bisa berharap kalau Jacinda tidak lebih ahli dari Hermes yang memiliki gelar doktor dalam bidang psikologi itu.

"Anda hanya bisa bertemu seorang diri dengan Jacinda," Atlas memberitahu, dia mencegah Jill dan Hermes untuk berjalan lebih jauh mendampingi Ares.

Ares menyanggupi, sambil untuk terakhir kalinya berpamitan dengan Jill dan Hermes dia pun menuruti Atlas. Tenda kaum pemberontak yang dituju olehnya, terletak agak jauh dan biasanya dihuni oleh para ahli strategi atau mereka yang tidak berperang di garis depan.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang