Bab 68: The War of Titans 3

63K 7.5K 141
                                        

Dewi Hera, sang Dewi Pernikahan, saat ini tengah berbaring setengah tidur di atas semacam sofa berlapis kain sutera. Hera menyukai sofa barunya yang dihadiahkan Apollo kepadanya, putra tirinya itu bilang kalau benda rancangan manusia itu tengah populer di kalangan mortal.

Hera tidak percaya begitu saja, tatkala Zeus memasuki kamarnya dengan wajah gusar dan emosional. Dia seorang Titan, seharusnya dia tidak bisa menua. Namun Hera berani bersumpah, entah karena pengaruh jiwanya yang sedang terguncang atau stress; Hera mungkin melihat ada guratan keriput di sudut mata suaminya.

Zeus bilang Apollo berkhianat dan bergabung bersama Ares.

Mendengar Ares berkhianat saja Hera sudah sangat sulit untuk percaya. Memang sebagai ibu kandungnya, Hera jarang bersikap manis atau membiarkan putranya bermanja dengannya. Bukan karena dosa dan kenakalan Ares di masa lalu tentunya, Hera tidak pernah mempermasalahkannya.

Hera tahu kalau Ares sudah berubah menjadi titan yang lebih baik. Mengenai masalah perselingkuhan dengan Aphrodite, Hera memutuskan untuk mengabaikannya karena itu masalah pribadi belaka. Penyebab Ares dan dirinya begitu berjarak sebenarnya sederhana saja, yaitu karena titel Ares sebagai seorang Dewa Perang.

Hera tidak bisa secara alamiah bersikap manis terhadap putranya itu, sikap Ares yang kerap kaku dan jarang bicara adalah penyebabnya. Hera hanya sudah terlalu terbiasa meminimalisir kontak sosial dengan Ares selama ribuan tahun ini.

Walaupun begitu, sebagai seorang ibu Hera tentunya tetap memantau pergerakan putranya itu. Selain sesekali mengorek informasi dari Hermes dan Apollo, Hera punya orang kepercayaan yang mengabdi di Istana Ares. Karena itu bisa dibilang Hera cukup mengenal putranya.

Ares tidak melakukan pemberontakan. Begitu pula dengan Apollo. Lebih tidak mungkin lagi, Dewa Peramal itu diuntungkan dengan status sebagai salah satu anak kesayangan Zeus. Untuk apa dia bertaruh membuang segala kenyamanannya untuk perang yang mungkin tidak akan bisa dia menangkan?

"Zeus, tenanglah. Minum sedikit anggur mungkin bisa membuatmu rileks." Hera memberi saran.

Zeus si raja para Dewa tampak gelisah dan saat ini tampaknya dia tidak bisa berdiam duduk lebih lama dari tiga menit. Begitu dia merebah atau duduk, tidak lama dia akan bangun dan bergerak mondar-mandir lagi di beranda kamarnya.

Mata Zeus yang masih tajam dan berusia sekitar 4000 tahun itu memandang ke arah bawah. Menyaksikan berkumpulnya para Titan ke sekitar Istananya. Masing-masing dari mereka tampak bingung karena tidak tahu, untuk apa mereka dikumpulkan?

Zeus dihadapkan pada serentetan upaya pengkhianatan belakangan ini, karena itu dia sulit mempercayai siapapun. Mungkin orang di sekitarnya, termasuk Hera dan anak-anaknya menganggap dirinya mulai gila dan pikun.

Semua orang mungkin menganggap Zeus adalah seorang yang egois dan haus kekuasaan atau semacamnya. Zeus tidak terlalu peduli. Zeus sadar betul kalau dia bertanggung jawab akan peradaban kaum Titan.

Zeus pun mengambil keputusan yang berbeda. Alih-alih bergantung pada pasukan dan teknologi perangnya, Zeus memutuskan untuk menghindari perang itu terjadi. Dia mengumpulkan para titan dari seluruh Bumi dan membuat mereka membaur di medan perang. Zeus berharap para pemberontak akan mengurungkan niatnya. Karena kalau mereka nekat menyerang, banyak orang sipil yang akan kehilangan nyawanya.

Zeus menyadari bahwa kaum pemberontak pun bergerak atas dasar niat tulus mereka untuk membuat kaum Titan kembali berjaya. Sayangnya Zeus masih meyakini; kalau cita-cita mereka yang hendak kembali ke Olympia itu adalah gagasan berbahaya.

Berkelana dengan pesawat luar angkasa yang membawa seluruh populasi Titan di Bumi untuk saat ini merupakan pertaruhan. Karena bisa saja pesawat mereka mendapatkan benturan dari asteroid atau meteorit. Lebih buruk lagi, tersedot dalam lubang hitam atau semacamnya. Ditambah lagi ada kemungkinan kesalahan teknis; yang bisa membuat mereka terkatung-katung di angkasa kedap udara sampai perbekalan mereka habis; dan mereka punah dengan sendirinya.

Dengan tetap berada di Bumi, setidaknya mayoritas kaum titan akan hidup aman. Mereka bisa berkarya dan berkembang biak dan hidup berbagi tempat dengan penghuni asli Bumi yaitu para hominid yang mereka sebut manusia.

"Athena pasti salah mengenai informasinya, kau tahu kalau Ares tidak mungkin berkhianat padamu," ujar Dewi Hera membujuk Zeus.

"Oh ya? Lalu menurutmu alasan apa yang membuat Ares tidak hadir ketika situasi perang seperti ini? Dan kenapa para ksatrianya berbaris di area tenda pemberontak? Jelaskan padaku Hera." Zeus bersikukuh atas keyakinannya.

"Tapi Ares tidak berada bersama mereka," kata Hera.

Zeus terdiam sejenak. Bagaimana dia bisa luput dari fakta itu? Beberapa anak buahnya memang telah memastikan itu padanya.

"Ares mungkin sengaja bersembunyi untuk rencana penyerangan," Zeus membantah.

"Itu bukan sifat Ares yang suka memamerkan kekuatannya." Perkataan Hera membuat Zeus ragu. Ares memang selalu berperang di garis depan.

"Lagipula, tidakkah kau lihat pada barisan pemberontak? Ada bendera dengan lambang Kairos di beberapa tenda mereka. Kairos bergabung bersama kaum rebel. Ingatkah kau kalau perempuan yang kau nikahkan dengan Ares itu adalah putri Kairos?" Hera mengutarakan hasil pengamatan singkatnya.

Raja para Dewa itu menggaruk janggutnya tampak berpikir.

"Aku mungkin terlalu berburu-buru menyimpulkan. Apollo juga menyampaikan hal yang serupa terhadapku," ujar Zeus merenung. Ada setitik kelegaan dalam hatinya.

"Apollo dan Ares mungkin dijebak atau semacamnya. Athena bisa saja salah," Hera menanggapi.

"Artinya anak-anakku mungkin tidak pernah berbalik melawanku?" Zeus mengutarakan rasa leganya yang masih berbaur dengan keraguan.

Zeus pun menjatuhkan bokongnya yang agung di sofa berdampingan dengan Hera istrinya. Kemudian dia menangkupkan kedua belah tangannya dan memijat sedikit hidungnya.

"Oh ya ampun, aku hampir saja membunuh Apollo tadi," ujar Zeus penuh sesal.

"Kau tahu, mereka memang sudah berumur tapi tetap anak-anak kita. Sejak awal seharusnya kita lebih banyak berkumpul dan mengobrol seperti keluarga. Bukannya memata-matai satu sama lain," Hera berkomentar.

***

"Mereka sungguh-sungguh menangkap kita, Hermes," Jill bicara dengan nada cemas.

Tangannya terikat tali di belakang punggungnya. Helm serta senjatanya juga dilucuti. Jill selalu membawa bilah pedang perak di sarung pinggangnya. Dia tidak pernah memakainya selama dia bersama Ares dan mulai menganggapnya sebagai aksesoris biasa. Namun tetap saja rasa gelisah menguasainya ketika jauh dari pedang itu. Jill merasa sangat lemah saat ini, segala latihan keprajuritannya akan sia-sia tanpa adanya senjata. Dia tidak seperti Ares atau pejuang Olympus lainnya. Jill tidak mungkin bisa menggunakan lengan kurus atau tungkai kakinya yang ramping sebagai senjata.

"Ya, aku tahu. Ares sudah memperkirakannya. Tenang saja, aku yakin para pemberontak itu tidak akan membunuhmu," Hermes berujar setengah berbisik.

"Bagaimana kau bisa yakin? Apa kau sedang berusaha memberikanku kata-kata penghiburan belaka?" tuduh Jill sinis.

"Tentu saja, mereka membutuhkanmu sebagai sandera agar Ares mau menurut kemauan mereka," kata Hermes sambil mengangguk yakin.

"Bagaimana mungkin kondisi itu terdengar lebih baik untukku??" sergah Jill.

Menjadi sandera katanya. Jill hanyalah seorang wanita yang kebetulan menerima perhatian dan sedikit cinta dari Ares. Kalau disuruh memilih antara dirinya dan setengah populasi Titan, Ares pasti memilih yang kedua. Lagipula, akan sangat keji dan tidak bertanggung jawab kalau Ares memilih dirinya. Bagaimanapun juga, Ares seorang ksatria yang punya rasa tanggung jawab tinggi. Jill mungkin juga akan mengutuk dirinya seumur hidup kalau menjadi penyebab kehancuran para Titan.

Hermes dalam kondisi yang tidak lebih baik ketimbang Jill. Tapi setidaknya dia mungkin masih bisa menggunakan kemampuan hipnotisnya. Jill merasa sedikit tenang memikirkan itu.

Tidak lama seorang titan pemberontak menghampiri tenda tempat mereka berdua disekap. Tenda yang mereka tempati cukup besar dan agak mewah. Mungkin itu adalah tenda yang ditempati para jenderal atau para ahli strategi. Prajurit Titan pemberontak itu kini melilitkan kain katun ke mulut Hermes yang tampak meronta.

Jill menarik kembali pikirannya. Dengan mulut dibungkam begitu mana mungkin Hermes bisa melakukan hipnotis? Apa ini sudah saatnya Jill kembali berdoa dalam hatinya? Sejak Jill terlempar ke masa Yunani Kuno, sepertinya dirinya yang agnostik mulai kembali religius.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang