Jill memandangi wajah suaminya Ares yang masih tertidur damai di peraduan. Jill menyentuh wajahnya perlahan, mengagumi garis wajahnya yang simetris sempurna, rambutnya yang hitam berkilau bak mutiara laut, hidungnya yang mancung bagai pahatan maestro serta tubuhnya yang atletis ideal.
Dilihat dari manapun dia seperti manusia. Walau begitu Jill juga mengakui ketampanan Ares mungkin tidak dimiliki manusia lain di seantero bumi ini. Jill belum pernah bertemu dengan seluruh dewa Olympus. Tapi baik Aphrodite, Eros dan Ares, mereka semua sangat tampan dan cantik.
Jill dulu sering mendengar ungkapan bagai setampan Dewa Yunani untuk menggambarkan sosok laki-laki yang sangat rupawan. Tapi Jill berani bersumpah kalau laki-laki yang disebut tampan itu tidak bisa disandingkan dengan Ares atau Dewa Olympus lain.
Jill baru bertemu dengan Ares serta Eros. Jill tidak bisa membayangkan kalau dia bertemu dengan Apollo, Dewa yang dalam berbagai literatur disebut sebagai juaranya pria tampan di Olympus.
Di dalam pikiran gadis itu kini beragam informasi berkecamuk membuatnya bingung. Pertama, Ares semalam secara tersirat mengatakan padanya kalau dia bukan berasal dari Bumi. Kalau dia memang Alien, itu cukup menjelaskan kenapa para Dewa Olympus memiliki ketampanan yang tidak manusiawi.
Ketika Jill menanyakannya lebih jauh, Ares tampak enggan melanjutkan ceritanya. Malah dia tampak menyesal sudah mengatakannya pada Jill. Ares tidak lama setelah itu mengajak Jill ke kamarnya dan mereka minum beberapa cangkir wine bersama sebelum tertidur.
Yang kedua adalah, Jill bermimpi tentang kejadian di masa lalu. Masa ketika dia masih hidup sebagai Jill Adelaide. Jill belum lama mengenal Hermes Siatrich, sebagaimana orang-orang yang bergaul di lingkungan seni peran, wajar kalau Jill akan bertemu dengannya.
Hermes Siatrich terlalu tampan untuk menjadi produser film. Dia malah lebih cocok untuk menjadi aktor pemeran utama. Penampilannya juga masih muda sekitar awal 30-an tahun. Namun dia sudah memiliki rumah produksi yang memproduksi film-film sukses.
Seharusnya Jill menaruh curiga padanya sejak awal. Entah kenapa pria itu mengakrabkan diri dengannya yang hanya seorang Aktris yang bekerja untuknya. Atas alasan apa orang dengan jabatan tinggi sepertinya mencoba akrab dengan aktrisnya?
Hermes Siatrich menyapanya setelah Jill menyelesaikan syutingnya, berbincang-bincang beberapa menit dengan Jill dan entah bagaimana Jill setuju untuk melanjutkan minum-minum bersama di kabinnya. Hermes sangat persuasif dan sepertinya memiliki keahlian hipnosis.
Di tengah renungannya yang panjang, Ares membuka matanya. Dia mendapati Jill tengah meraba tulang rahangnya dengan ekspresi ingin tahu.
"Putri Sparta, apa yang hendak kamu lakukan padaku?" Ares menyapa lembut seraya menggenggam pelan tangan Jill yang masih menyentuh wajahnya. Dewa itu tersenyum, membuat keindahan parasnya meningkat drastis.
Jill sudah terbiasa dengan perilaku flirty Ares dan sentuhannya. Kini Jill tidak mudah tersipu lagi. Jill menemukan kenyamanan dan rasa aman dimanapun dia bersama Ares. Jill mengingat kata-kata Hermes Siatrich untuk merasakan romansa, mengetahui rasanya dicintai dan mencintai. Haruskah Jill sepenuhnya berserah akan takdirnya dan tidak lagi berusaha menolak perasaan yang mulai tumbuh dalam hatinya?
"Ares, apakah ini wujud aslimu? Apa aku bisa melihat dirimu yang sebenarnya?" Jill bertanya sambil memandang mata Ares lekat-lekat. Kalau dia memang Alien, apakah tubuh yang dia huni sekarang benar-benar miliknya? Atau mungkin Ares sama seperti dirinya yang jiwanya menguasai tubuh seorang putri bernama Portia?
"Apa maksud dari pertanyaanmu? Aku terlahir seperti ini. Ayahku adalah Zeus dan aku dilahirkan dari rahim Dewi Hera," Ares menjawab.
"Kau bilang kau bukan berasal dari Bumi, tapi kenapa wujudmu sama seperti para manusia Bumi?" Jill bertanya dengan hati-hati. Dia tidak dapat meredam tanda tanya dalam hatinya. Ares menghela napas, dia tidak marah dan memaklumi rasa penasaran istrinya. Ares tahu kalau Jill lebih cerdas dari manusia-manusia lain yang dia pernah temui. Pengakuan singkat yang dia kemukakan di malam sebelumnya rupanya membuat gadis itu ingin mendapatkan jawaban lebih banyak.
"Apa yang ingin ketahui, Portia?" Ares bertanya lembut sambil meraba pipinya yang jelita. Mata cokelat gadis itu yang jernih; menunjukkan keluguan namun secara janggal juga menyatakan bahwa gadis itu punya rahasia lain dalam dirinya.
"Aku ingin tahu semua tentang dirimu, tidak adil kalau hanya aku terus yang bercerita," Jill memprotes.
"Bukankah kau juga merahasiakan sesuatu padaku? Semua kisah yang kau ceritakan bukan tentang dirimu, apakah aku salah?" Ares menyanggah, matanya tampak sendu. Jill merasa buruk, dia tidak bisa mengungkapkan rahasianya pada Ares. Jill tidak jujur kepada suaminya namun dia menuntut kebenaran dari mulut Ares, kenapa Jill bisa begitu egois?
"Maafkan aku, Ares." Jill membuang muka, rasa bersalah yang pedih menghunjam dadanya. Pria yang di sampingnya kini telah memperlakukannya dengan baik, menghargai dan bersikap seakan-akan mengasihinya. Namun Jill membohonginya.
Entah mulai sejak kapan, setiap kali Ares menyebut nama Portia, Jill merasa terluka. Karena itu bukan nama aslinya. Namun Jill tidak bisa berharap suatu hari nanti Ares akan memanggil namanya yang sebenarnya. Jill harus menyembunyikan rahasianya rapat-rapat. Karena bisa saja Ares akan membunuhnya jika dia tahu kalau Jill membohonginya. Jill bisa dituduh penyihir, tukang tenung atau mata-mata.
"Kapan aku harus menunggu sampai kau membuka hatimu padaku, Portia?" Ares bertanya penuh harap, seraya berbisik pelan di telinganya.
Entah mendapatkan keberanian dari mana, Jill meraih bahu Ares dengan gerakan ragu. Kemudian memejamkan matanya dan mencium bibir Dewa itu selama beberapa detik.
Ini bukan kali pertama Jill berciuman. Dia seorang aktris yang kerap kali berperan di film-film romantis. Namun ini adalah ciuman pertama Jill yang dia lakukan di luar filmnya. Ciumannya kali ini dia lakukan dengan canggung sekaligus spontan, tanpa sutradara memberikan aba-aba dan tanpa naskah.
"Cintai aku, Ares." Jill berhenti mencium. Jill berbisik setengah terpejam dengan wajah merona kemerahan. Sejak kapan Jill menjadi serakah? Jill tidak tahu. Jill tidak lagi puas hidup di sisi Ares sebagai seorang istri yang dipuja dan dilayani bak seorang Dewi. Dia menginginkan yang lebih. Dia ingin dicintai.
Ares tidak menjawab ataupun mengangguk, dia balas merengkuh leher Jill, membawa gadis itu ke pelukannya. Kemudian Sang Dewa Perang membalas ciumannya. Sambil mendekap pinggang ramping istrinya, Ares melumat bibir cantiknya dengan tidak sabar, menciptakan hawa panas yang sulit dijelaskan oleh Jill.
Jill membiarkan pria itu menguasai dirinya, mengizinkan Ares menjajah jiwanya. Jill tahu dengan sangat baik kalau Jill hanyalah satu wanita dari puluhan kekasih Ares yang singgah di kehidupan abadinya. Namun Jill tidak peduli akan apapun konsekuensi yang mungkin dia dapatkan nanti.
Jill tidak berpikir akan merasakan pedihnya patah hati ataupun kemungkinan derita cinta yang tidak berbalas. Jill memilih untuk jujur pada hatinya, dan dengan sadar menerima perasaan asing yang datang tanpa dia duga. Perasaan yang menimbulkan candu dan membuyarkan logika bernama cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]
FantasyPART LENGKAP TIDAK ADA YANG DIHAPUS Jiwa seorang aktris di era modern, terjebak di dalam tubuh Putri Sparta dan dinikahkan dengan Ares, Dewa Perang Yunani yang terkenal kejam. * * * Jill Adelaide adalah aktris populer dengan kehidupan sempurna. Dik...
![The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/211630048-64-k867143.jpg)