Deimos dan Phobos mengendarai kuda-kuda gagahnya yang diternakkan khusus. Ares memang mewajibkan semua pasukannya untuk menunggangi ras kuda Akhal Teke yang sengaja didatangkan jauh dari dataran Turkmenistan. Mereka indah, tangguh dengan langkah kaki kuat dan cepat.
Herion dan Raven yang dimiliki oleh Dewa Perang dan istrinya berbeda, mereka adalah jenis kuda hybrid yang juga memiliki darah Akhal Teke di DNA mereka. Namun sederet rekayasa genetika yang sedikit tidak beretika; telah menumbuhkan taring tajam di rahang mereka. Selain jenis makanan dan kemampuan menggigitnya, Herion dan Raven bisa dibilang tidak banyak berbeda dengan ras kuda perang lainnya.
Athena yang terkalahkan memiliki raut wajah jenuh dan lelah. Helmnya sudah terlepas, mengakibatkan rambutnya tergerai berantakan. sinar terik matahari juga menambah keringat di tubuhnya sehingga debu mudah menempel di kulitnya. Kedua tangannya diikat di belakang punggungnya sambil tetap duduk menunggangi kudanya.
Dewi kebijaksanaan itu tidak pernah merasa dipermalukan seperti ini sebelumnya. Wanita yang selalu mengangkat kepalanya dengan bangga itu kini mencoba menerima dan meluruskan nalarnya.
Athena semalaman mencoba melihat segala situasi dengan lebih objektif. Tentu saja dia berusaha mengesampingkan ketidaksukaannya pada Ares. Athena memang kerap mengganggunya namun dia tidak pernah benar-benar menganggapnya musuh.
Athena yang merupakan salah satu Dewi yang banyak disembah itu telah melakukan banyak hal yang menyebalkan terhadap Ares. Athena kerap merundungnya dan dia juga yang membujuk Hercules untuk berkelahi dengan Ares. Berkat bantuan Athena, Ares berhasil dikalahkan. Ketika itu Ares memang masih menjadi seorang Dewa yang naif serta lemah.
Athena tidak menyukai Ares karena mereka berdua adalah Dewa yang disembah ketika berperang. Ares berperang dengan mengedepankan keberanian, kekuatan dan pertumpahan darah. Sementara Athena berperang menggunakan taktik dan strategi serta meminimalisir korban jiwa. Mereka sama namun juga berbeda.
Namun Athena tahu kalau kesetiaan Ares terhadap Zeus nyata adanya. Seharusnya memang dia tidak dengan mudah menuduhnya pengkhianat. Deimos dan Phobos mengatakan padanya kalau seseorang dari Istana Kairos telah mengambil alih istana Ares. Mereka sudah mencoba mengontak Zeus tentunya, namun tidak dapat dilakukan. Seakan-akan ada tabir yang menyelubungi Olympus sehingga mereka tidak dapat menggunakan tablet komunikasi mereka.
"Lepaskan tanganku. Aku mengakui kalau Ares tidak bersalah. Aku tidak akan mengincarnya lagi," Athena bertitah. Keagungannya tidak hilang meskipun kondisinya lemah dan kalah.
Deimos berpandangan dengan Phobos sejenak; sebelum akhirnya melepaskan ikatan di pergelangan tangan Athena.
"Kita bukan musuh," tukas Demos.
"Kita semua sama-sama bertempur untuk kaum Titan," Phobos menambahkan.
"Aku tahu itu. Karena itu kita harus secepatnya tiba di Olympus untuk memperingatkan Zeus," kata Athena lagi. Wanita itu kini mengambil alih.
***
Apollo masih terbang mengelilingi area kediaman Zeus di Olympus. Kastilnya yang megah kini dijaga oleh puluhan Cyclops berumur puluhan tahun. Apollo juga sudah melihat ada beberapa rombongan yang tiba dari beragam arah dan kesemuanya menuju istana Zeus.
Mereka bukan para pemberontak. Mereka adalah kaum titan yang mengabdi pada raja mereka sebagai pedagang, ilmuwan, kontraktor serta pekerjaan sipil lainnya. Jelas mereka adalah golongan titan berposisi netral dan hidup mengabdi pada Zeus untuk menjamin kedamaian mereka.
Apollo tidak dapat menggunakan tablet komunikasinya sama sekali. Mungkinkah kalau para pemberontak telah menyabotase menara sinyal?
Apollo meminta Aldebaran untuk mendarat. Kuda sembrani berbulu indah itu mendengus; kemudian menggerakkan sayapnya sampai akhirnya menapakkan keempat kakinya dengan anggun di tanah berumput.
"Berhenti! Kenapa kalian semua kemari?" Apollo bertanya pada salah satu dari warga Titan sipil itu.
"Dewa Zeus yang meminta kami untuk hadir. Dia menyampaikannya pada masing-masing ketua kami," salah seorang Titan memberi kesaksian.
"Tidak, pasti ada yang salah. Zeus tahu kalau para pemberontak akan menyerang. Kehadiran warga sipil seperti kalian bisa mengundang bahaya." Apollo merasa bingung akan situasi yang dihadapinya.
"Tidak ada kesalahan Apollo! Aku memang mengumpulkan para titan di Olympus." Sebentuk suara yang berat dan sedikit serak terdengar dari belakang Apollo. Dia pun melihat orang di sekitarnya mulai membungkuk, minimal menundukkan kepalanya. Zeus menyentuh bahu anaknya sambil mengangguk pelan.
"Zeus, sangat berbahaya membawa mereka kemari," Apollo mengatakan ketidaksetujuannya.
Zeus tertawa tampak puas setelah melihat banyak sekali titan yang hadir.
"Para Titan! Aku raja kalian! Dewa kalian! Aku meminta kalian hadir di sini sebagai saksi! Lihatlah bagaimana aku akan menghukum para pemberontak itu!" Zeus bertitah sambil mengayunkan belati petirnya.
Apollo tidak sanggup lagi menahan diri.
"Zeus, Ares bukan pemberontak. Musuh kita hanya para rebel itu. Sigmarion, Atlanta dan kini ditambah Kairos," Apollo memberitahu. Dia merasa tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut. Seharusnya dia menunggu Ares namun Zeus mulai melakukan hal-hal yang kurang menguntungkan bagi situasi saat ini.
"Jelaskan maksud dari perkataanmu, Apollo," Zeus bertanya sambil memandang anaknya tajam.
"Putri Kairos, Jacinda. Dia membajak istana Ares. Saat ini Ares bahkan tidak bersama mereka. Tidak berada di istananya. Ares sedang berusaha merebut pasukannya kembali," Apollo melanjutkan ceritanya.
Apollo menyaksikan perubahan raut muka ayahnya yang berubah menjadi lebih datar dan tenang. Namun Zeus masih tetap berwaspada.
"Dan bagaimana kau bisa mengetahui hal itu, Apollo?" selidik Zeus.
"Aku ... Sebelum bertemu denganmu, aku bersama Ares dan kami berusaha mencari cara untuk melindungimu," Apollo menjawab.
Ekspresi raja para dewa itu yang tadinya melunak kini mulai berkerut. Urat nadi keunguan tampak menyembul dari kulitnya yang putih ketika dia menggertakkan rahangnya.
"Apollo, kamu memihak Ares?" Zeus menyimpulkan merasa terluka.
Dewa ramalan itu terhenyak. Aldebaran sendiri meringkik karena merasakan aura yang tidak bersahabat menguar dari Zeus. Yang Apollo sampaikan sia-sia. Zeus mungkin hanya akan mendengar Athena saat ini.
"Rakyatku, lihatlah!" Apollo merasakan cengkraman kuat Zeus di lengannya.
"Siapapun yang berkhianat akan menerima akibatnya. Bahkan walau itu adalah anak kesayanganku," Zeus mengakhiri kalimatnya dengan suara bergetar.
"Zeus, sadarlah! Aku tidak mungkin berkhianat darimu!" Apollo berusaha membuat Zeus waras dan kembali berpikir jernih.
Aldebaran meringkik dan melompat panik, bulu-bulu di sayapnya meremang tatkala merasakan kilatan petir yang baru saja ditembakkan Zeus di dekatnya. Apollo yang cukup gesit berhasil menghindar. Dia pun segera melompat ke punggung Aldebaran dan berusaha terbang sejauh-jauhnya dari jangkauan petir Zeus.
***
"Saya diminta untuk membawamu pada Jacinda. Sebaiknya Anda tidak usah melawan." Atlas, ksatria yang mengabdi pada Kairos, sekaligus adik kandung dari Jacinda menghadang jalur yang dilewati Ares, Jill dan Hermes.
"Bagaimana kalau kami tidak mau?" Ares bertanya.
"Kami akan membawa Anda secara paksa," kata Atlas tanpa ekspresi. Ares melihat lusinan prajurit elit itu memiliki beragam senjata canggih yang menempel di tubuh mereka.
"Aku memang Dewa Perang, tapi aku membenci perang tanpa alasan yang jelas. Baiklah, aku akan menemui Jacinda untuk meluruskan isi kepalanya," kata Ares kemudian.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]
FantasyPART LENGKAP TIDAK ADA YANG DIHAPUS Jiwa seorang aktris di era modern, terjebak di dalam tubuh Putri Sparta dan dinikahkan dengan Ares, Dewa Perang Yunani yang terkenal kejam. * * * Jill Adelaide adalah aktris populer dengan kehidupan sempurna. Dik...
![The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/211630048-64-k867143.jpg)