Bab 56: Athena The Goddess Of Wisdom

72.2K 8.5K 158
                                        

Ares tidak pernah meremehkan Athena. Dewi kebijaksanaan dan strategi perang itu memang punya alasan kuat kenapa didapuk menjadi salah satu Dewi terpenting di Yunani. Athena adalah sosok ambisius yang menjalankan peran kedewaannya dengan serius.

Dalam setiap literatur kuno, persaingan dan rivalitas abadi antara Ares si Dewa Perang dan Athena memang seringkali diceritakan. Athena menganggap keberadaan Ares adalah suatu aib yang memalukan bagi Olympus.

Athena digambarkan selalu menjadi pihak pemenang, sementara Ares selalu dianggap sebagai pecundang. Dewi yang menjadi favorit dan kebanggaan Zeus itu memang cerdas dan pandai mengatur strategi. Namun mereka berdua tidak pernah benar-benar melakukan konfrontasi langsung.

Athena menghunus pedang titaniumnya yang ringan dan berkilat. Skill Hephaestus dalam penempaan senjata tajam memang tidak pernah mengecewakan. Seandainya Ares tidak punya masalah perselingkuhan dengan Aphrodite, mungkin Ares juga akan punya banyak koleksi senjata tajam hasil tempaan Hephaestus. Sayangnya Ares kini hanya bisa mengandalkan senjata-senjata lamanya serta senjata modern karya para ilmuwan Titan yang mengabdi di Istananya.

Namun setiap mata panah dan pedang yang digunakan oleh Ares telah melalui ratusan pertempuran dan meneguk darah-darah monster terkuat di Yunani. Setiap dari senjata tua itu seakan telah menyatu dengan dirinya dan dapat dia ayunkan kesana kemari seakan menjadi bagian dari organ tubuhnya.

Athena bukanlah petarung jarak dekat. Selain pedang yang dia hunuskan terhadap Ares, dia juga sering menusukkan tombak panjangnya dan langsung mengincar area tubuh Ares yang tidak tertutup oleh rompi kulit banteng yang tebal.

Athena berbeda dengan Ares, yang bangga akan karakteristik ksatrianya dan mendidik para pengikutnya untuk menjadi prajurit tangguh. Ares lebih suka melakukan pertempuran satu lawan satu yang adil. Namun Athena tidak senaif itu, Dia adalah dewi strategi perang yang nyaris tidak pernah mengotori tangannya sendiri.

Cara Athena memegang pedang terlihat kaku dan mudah dilumpuhkan. Ares bisa dengan mudah mengalahkannya seandainya saja tidak ada lusinan ksatria Titan milik Athena yang juga tengah mengepungnya dan masing-masing menghunuskan senjata tajamnya ke leher si Dewa Perang.

Jill menggunakan instingnya dan segera memacu Raven untuk sekuat tenaga menjauhi rombongan Athena yang didominasi prajurit-prajurit tangguh dan terlatih itu. Masing-masing dari mereka memiliki sorot mata yang teguh dan mengabdikan diri pada Athena secara total. Mungkin kemampuan mereka setara dengan ksatria-ksatria di Istana Ares. Ada lima kuda pasukan Athena dengan penunggang tangguhnya di punggung mereka yang secara khusus mengejar Putri Sparta saat itu. Jill tidak mengerti kenapa Athena sampai harus memedulikan perempuan lemah seperti dirinya.

Athena juga menggunakan alat canggih dalam pertempurannya kali ini. Dia memiliki semacam gelang di lengannya yang dapat digunakan untuk menonaktifkan segala persenjataan canggih yang berada di area dan radius tertentu. Athena memastikan kalau Ares tidak dapat menggunakan senjata titannya dan bergantung murni pada skill bertarung primitifnya.

Apakah itu suatu bentuk kecurangan atau Athena adalah seorang pengecut? Tidak bagi dewi itu. Dia adalah Dewi strategi perang. Segala metode yang dia lakukan harus menghasilkan tujuan akhir yang nyata yaitu kemenangan. Tidak akan ada yang peduli dengan segala kehormatan dan keberanian prajurit di medan perang kalau hasil akhirnya adalah kekalahan. Sebaliknya, kalau mereka menang tidak akan ada yang terlalu peduli apabila mereka mendapatkannya dengan cara yang kurang terhormat.

"Kau tidak akan bisa mengalahkanku Ares. Sebrutal dan setangguh apapun dirimu, kau tidak akan bisa mengalahkan puluhan prajurit terlatih sekaligus. Menyerahlah dan biar kubawa kau ke hadapan Zeus!" Athena menyampaikan titahnya. Memerintah dari atas punggung kudanya dengan pedang terhunus ke arah jantung si Dewa Perang.

Ares terbiasa menghadapi monster dan membunuh mereka. Namun mereka semua adalah makhluk minim akal dan bodoh yang hanya tahu mengayunkan anggota tubuhnya dengan emosional dan mengatupkan rahang berbahayanya berdasarkan insting. Para bangsa titan yang berada di hadapannya saat ini, adalah makhluk-makhluk berintelejensi tinggi dan walaupun memiliki kekuatan tubuh yang jauh lebih lemah dari monster, mereka menyerang dengan perhitungan yang matang.

Ares terdesak saat ini, sebenarnya dia tidak punya banyak waktu dan harus menjemput Hermes segera. Tapi Athena telah melumpuhkan persenjataan modernnya dan membuatnya terpojok. Jika Ares nekat mengayunkan senjatanya ke arah mereka, maka mati konyol yang akan dia terima.

Ares melirik ke arah Jill dan kudanya yang sudah menghilang dari pandangannya. Ares tahu kalau Athena bukanlah dewi yang keji apalagi penyiksa. Jill mungkin hanya akan ditangkap dan dia tidak akan terluka. Kalaupun dia tertangkap, Ares akan bisa menyelamatkannya nanti. Masalahnya hari ini mereka terdesak oleh waktu dan harus menemukan Hermes segera.

"Singkirkan para pengawalmu dan hadapi aku langsung, Athena!" Ares berseru mencoba mengulur waktu.

"Tidak, Ares! Aku tidak sebodoh itu, aku mengakui kalau kau tangguh dan pandai bertarung. Aku tidak bisa mengambil resiko kekalahan sedikit pun." Athena jelas menolak.

"Apa kau tidak ingin memastikan siapa yang benar-benar terkuat di antara kita berdua?" Ares masih berusaha mengusik harga diri Athena.

"Kekuatan tidak hanya ditentukan dari kemampuan diri sendiri menggunakan senjata atau bertempur. Nilai dari kekuatan sesungguhnya juga ditentukan dari sekutu yang kita miliki, jumlah prajurit dan strategi yang kita jalankan. Untuk saat ini aku lebih kuat darimu Ares." Athena berujar percaya diri.

Di sisi lain, pertempuran antara manusia Thebes dan Sparta berlangsung semakin riuh. Pelontar api ditembakkan, anak-anak panah tajam beterbangan mengincar apapun yang hidup di sekitar mereka. Pedang-pedang pun beradu dengan tameng, menimbulkan suara berdenting yang riuh dan membuat siapapun merasa ngilu mendengarnya. Suara jeritan manusia dan teriakan semangat terdengar menggetarkan jiwa. Masing-masing dari prajurit manusia itu telah diliputi oleh adrenalin tinggi. Mereka yang sudah terlanjur melangkahkan kaki ke medan pertempuran, turut mendapatkan kekuatan dari harapan dan doa mereka terhadap Athena dan Ares.

"Ares!" Terdengar suara maskulin dari atas tebing.

Tidak ada kebetulan yang terjadi di dunia ini. Semua sudah direncanakan. Ares tentunya sudah mendapatkan informasi dari Apollo tentang Athena yang akan menangkap dirinya. Sebelumnya Ares juga berkomunikasi dengan Phobos dan Deimos yang menerima informasi dari Aphrodite.

Kedua anaknya itu, Phobos dan Deimos memiliki gelar sebagai Dewa ketakutan dan teror. Mereka berdua adalah anak Ares yang kerap bertempur di sisi ayah mereka sang Dewa Perang. Mereka berdua dan lusinan pasukannya bergerak menuruni bukit menghampiri Athena dan Ares.

"Apakah mereka anak-anak harammu, Ares?" Athena tampak geram dan kali ini dia yang percaya diri itu berubah gentar.

"Mungkin aku memiliki mereka dengan cara yang kau benci dan tidak terhormat. Tapi aku tidak sendirian, aku punya keluarga yang bisa kuandalkan dan kukasihi. Sementara dirimu, Athena? Kau sendirian dan tidak memiliki siapapun selain Zeus. Seperti yang kau katakan tadi, kekuatan tidak dinilai dari kemampuan diri sendiri semata. Kalau merujuk kata-katamu barusan, saat ini aku lebih kuat darimu," ujar Ares merasa puas menyaksikan ekspresi murka Athena yang merasa dipermalukan.

"Apakah kami terlambat, Ares?" Deimos bertanya.

"Tidak juga, kuserahkan mereka pada kalian," Ares berpesan.

"Tidak boleh dibunuh?" Phobos memastikan.

"Tidak, tidak, dia anak kesayangan Zeus. Cukup tahan dia sementara aku menyelesaikan urusanku," kata Ares kemudian.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang