Bab 53: Para Pemberontak

73.9K 9K 120
                                        

"Apakah tidak ada seorang pun dari kalian yang bisa membuka pintu ini?!" Jacinda bertanya galak pada sekumpulan humanoid yang berbaris kurang rapi di hadapannya dengan tatapan mata kosong.

Wanita itu menunjuk pada sebuah bangunan metal raksasa, yang selama ini diketahui sebagai laboratorium senjata Dewa Perang. Bangunan dengan pertahanan berlapis itu juga berfungsi sebagai gudang senjata canggih berteknologi Titan. Harta karun yang diincar kaum pemberontak.

Insiden yang dia ciptakan, yaitu membunuh Putri Sparta berhasil melemahkan pertahanan Ares. Istananya menjadi kacau dan para ksatria saling menyalahkan. Terutama para prajurit yang satu grup berburu dengan Putri Sparta. Tentu saja peristiwa itu sangat menghancurkan kepercayaan diri mereka.

Ares pun menghilang dalam keadaan Istana yang minim penjagaan. Beberapa mengatakan kalau dia butuh waktu untuk berduka. Jacinda tidak peduli, dia sama sekali tidak berminat bermanis-manis mulut dengan sang Dewa Perang. Tugas dan tujuannya hampir dia tuntaskan.

Keahlian hipnotisnya memang tidak main-main. Hampir separuh penghuni Istana Ares telah berhasil dia cuci otaknya. Sisanya cukup berhasil dia kendalikan dengan propaganda dan manipulasi informasi.

Tapi gudang senjata yang tidak bisa terbuka itu adalah masalah baginya.

"Hanya Ares yang dapat membukanya. Tidak ada orang lain yang memiliki kuncinya, bahkan Zeus sekalipun." Salah satu ksatria Ares memberitahu.

"Apa kita tidak bisa menghancurkan pintunya dengan pelontar api, meriam atau semacamnya?" Jacinda mulai frustasi.

"Anda bisa mencobanya, Tuan Putri, tapi bangunan ini diciptakan dengan teknologi Hades. Konon lava gunung Vesuvius pun tidak bisa melelehkannya," Ksatria itu menjelaskan lagi.

Jacinda menggigit bibirnya merasa kesal. Kenapa Dewa Perang itu harus keluar dari Istana? Padahal kalau Ares ada di hadapannya, Jacinda yakin bisa mempengaruhinya dengan mudah. Kairos merencanakan semua ini sudah sangat lama. Dia berpura-pura menjadi sekutu setia Zeus, bahkan bersahabat dengannya.

Kairos butuh pendekatan puluhan tahun agar akhirnya berhasil membujuk Zeus untuk menikahkan Ares dengannya. Semua hanya agar Jacinda bisa menyusup ke dalam Istananya. Para pemberontak mungkin sudah menggunakan seluruh kartu trufnya untuk menjalankan rencana sempurnanya ini.

Seandainya tidak ada Putri Sparta, semua seharusnya berjalan dengan mulus. Jacinda yakin bisa memikat Ares, dewa itu memang terkenal menyukai perempuan cantik. Tapi setibanya dia di istana Ares, Jacinda selalu melihat mata Ares mengikuti kekasih manusianya dan memperhatikan gerak-geriknya.

Putri Sparta yang awalnya Jacinda anggap wanita lemah yang akan mudah digantikan di kehidupan Ares ternyata tidak terbukti. Ares bisa dibilang tergila-gila dengan manusia itu. Ares seakan tidak memberikan kesempatan bagi wanita lain untuk singgah di matanya. Jacinda tidak bisa mempengaruhi seseorang yang berwaspada terhadap dirinya.

Jacinda sudah berusaha mengambil hati Ares, dengan memberinya asupan-asupan informasi intelijen . Jacinda berusaha membuat Ares mempercayai dirinya. Para pemberontak bahkan membuat informasi-informasi palsu itu menjadi kenyataan untuk menghindari kecurigaan Ares. Tapi Dewa Perang itu tetap bersikap dingin kepadanya.

"Apakah ada di antara kalian yang bisa melacak, Ares?" Jacinda bertanya. Para ksatria Ares saling berpandangan dan menggelengkan kepalanya.

"Ahh kalian tidak berguna! Atlas! Kemarilah!"

Jacinda seharusnya sejak lama sudah melakukan ini. Dia mulai menyesali segala taktik dan strategi yang dia lakukan karena seringnya berakhir dengan kegagalan. Jacinda bahkan harus menahan rasa tidak puasnya tinggal berminggu-minggu di Istana Ares sebagai istri yang tidak dianggap.

Atlas adalah salah seorang ksatria pemberontak. Dia seorang Titan berusia 150 tahun dan sangat handal dalam peperangan. Atlas adalah adik kandung dari Jacinda dan kini bertindak selaku bawahan kakaknya.

"Lacak keberadaan Dewa Perang! Bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Berikan dia banyak minuman keras agar aku bisa dengan mudah memanipulasi pikirannya. Dia sendirian dan rapuh di luar sana, tapi dia tetap seorang Dewa Perang. Jangan sampai kamu mati," ujar Jacinda memberi perintah. Atlas mengangguk patuh dan mengenakan helm perangnya, kemudian bergegas pergi diikuti lusinan prajurit terbaiknya.

Samir, salah satu panglima Ares dan juga seorang Centaur diam-diam mencerna dan merekam gerak-gerik Jacinda. Dia harus segera memperingatkan Ares. Cukup banyak ksatria Ares yang loyal dan tidak terpengaruh hipnotis seperti dirinya. Namun mereka minoritas, jika anak buah Jacinda mengetahuinya maka mereka akan dikurung di penjara bawah tanah.

Tidak butuh waktu lama bagi Jacinda untuk langsung menyerang pertahanan Istana Ares. Dimulai dengan mempengaruhi para ksatria penjaga gerbang, mereka akhirnya membiarkan banyak prajurit pemberontak memasuki Istana Ares.

Jacinda pun mulai membuat para ksatria berkumpul, kemudian melakukan cuci otak massal. Mereka yang imun dan tidak mempan dihipnotis langsung diciduk dan dipisahkan. Serangan itu cukup tiba-tiba sehingga kebanyakan ksatria yang tidak bersenjata mudah dilumpuhkan oleh kaum pemberontak.

Ares pergi dari istana sebelum peristiwa itu terjadi, dia juga membawa Alastair yang diakuinya akan dihukum olehnya sendiri. Sebelumnya dia berpesan pada para Centaur untuk berwaspada karena kemungkinan ada penyusup. Dia secara khusus menugaskan mayoritas ksatria centaur untuk menjaga gudang senjatanya. Ares tahu kalau bangsa Centaur tidak mudah terkena trik manipulasi pikiran.

Ares jelas sudah menduga ada yang tidak beres di istananya, tapi kenapa Ares pergi tanpa berjuang? Apakah Ares punya rencana? Samir tampak mencoba menebak jalan pikiran dewanya.

Samir juga tidak mempunyai cara untuk menghubungi Ares. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain pura-pura patuh dan menunggu. Sambil mengatur rencana tentunya.

Untungnya selama tidak ada Ares, para pemberontak tidak akan bisa mendapatkan senjatanya. Kekuatan mereka timpang jauh di bawah Zeus tanpa senjata teknologi Titan.

Samir memperhatikan kalau gerbang istana Ares kembali membuka dan serombongan pasukan pemberontak berjalan masuk dengan mengenakan tudung di kepalanya. Samir hanya melirik dari sudut matanya. Samir nyaris tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat seseorang yang dikenalnya berada dalam barisan itu.

Salah satu prajurit Ares yang seharusnya sudah dihukum mati karena kelalaiannya. Alastair tampak mengenakan tudung dan berpakaian persis kaum pemberontak. Alastair bertemu mata dengan Samir yang memandangnya datar kemudian tersenyum padanya. Seakan memberi pesan bahwa Ares tidak meninggalkan para prajuritnya.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang