Bab 55: The Battle Of Leuctra

75.4K 8.6K 136
                                        

Sejarah perang kerajaan-kerajaan Yunani tidak selalu sedramatis seperti kisah perang Troya. Dimana sebuah perang besar terjadi hanya karena saling memperebutkan putri tercantik bernama Helen. Perang yang dikarenakan alasan sepele itu sampai melahirkan pahlawan terkenal seperti Achilles.

Sementara dari segi mitologi, lagi-lagi para Dewa dan dewi Olympus diceritakan sebagai salah satu yang berperan. Suatu hari di acara pernikahan pasangan Titan, Eris dewi kedengkian tidak diundang. Marah karenanya, Eris melemparkan apel emas ke arah para tamu undangan yang bertuliskan "Untuk yang tercantik."

Aphrodite, Hera dan Athena masing-masing merasa berhak mendapatkan apel itu. Zeus dan Dewa lainnya tidak dapat menjawabnya, kemudian menyerahkan keputusan itu pada Pangeran Troya bernama Paris.

Aphrodite menjanjikan wanita tercantik di dunia yang bernama Helen istri dari raja Sparta untuk menjadi miliknya. Hera menjanjikan kekayaan dan Athena menjanjikan ketangguhan bagi Paris. Pangeran muda itu sudah memiliki istri namun tertarik pada tawaran Aphrodite. Dia pun memilih Aphrodite sebagai yang tercantik.

Helen diajak melarikan diri oleh Paris dan terjadilah perang Troya yang berlangsung selama sepuluh tahun.

Seringkali, sebuah perang terjadi hanya karena alasan sederhana yaitu perluasan wilayah dan rasa tamak ingin menguasai. Atau keinginan kuat dari para pemimpin untuk menjadi yang terbaik.

Sparta dan sekutunya menjadi simbol tidak terkalahkan di Yunani saat ini. Mereka adalah negara yang melahirkan banyak pejuang tangguh dan ditakuti oleh musuhnya. Mereka nyaris tidak mengenal kata kalah dan Dewi Athena dipercaya mendukung orang-orang Sparta.

Sementara Thebes, mereka adalah negara besar dengan kekuatan militer yang juga luar biasa pada jamannya. Namun mereka memilih musuh yang sulit ditaklukan yaitu Sparta dan sekutunya.

Pertempuran yang terjadi pada saat ini di Leuctra—Area perbatasan yang menghubungkan antara Sparta dan Thebes—akan dicatat oleh para penyair dan dibahas selama ribuan tahun ke depan oleh para sejarahwan.

Ares dan Jill berkuda di sekitar Leuctra. Mereka mendapati kemah-kemah para prajurit sudah terpasang di sana. Baik Thebes dan Sparta menurunkan puluhan ribu prajurit terlatih Yunani dan masing-masing dari mereka sudah siap menyambut kejayaan atau kematian.

Jill menunggangi Raven, kuda putihnya yang tadinya dibawa oleh Alastair dan Ares ketika mereka ingin menjemputnya dari istana Hades. Jill mengenakan pakaian prajuritnya, bersama Ares yang juga berbaju perang, mereka tampak seperti pasangan tentara bayaran.

Tapi Ares sepertinya tidak berniat singgah di antara para manusia itu.

"Ini perang antara Thebes melawan Sparta dan sekutunya," Jill berkomentar.

Walau mereka memandang dari atas bukit, kumpulan manusia yang berbaris itu memberikan perasaan takjub yang sulit dijelaskan. Jill mungkin merasa beruntung bisa menjadi saksi langsung dari salah satu peristiwa perang Yunani yang banyak dibicarakan.

"Mungkin kau bisa melihat Raja Sparta di antara mereka," Ares menanggapi.

"Dia bukan ayahku, kami hanya bertemu dua hari dan aku bahkan tidak tahu namanya," Jill menegaskan.

"Aku sempat cemas mengingat statusmu yang seorang Putri Sparta, sementara suamimu berpihak mendukung Thebes yang mungkin akan menghancurkan Sparta," kata Ares lagi.

"Portia mungkin merasa khawatir, tapi aku tidak," Jill menegaskan lagi.

"Jadi taktik apa yang akan kau gunakan untuk membantu Thebes agar bisa memenangkan perang ini? Kau akan ikut bergabung sebagai prajurit atau apa?" Jill menebak-nebak.

"Aku sudah cukup lama memberi bantuan kepada Thebes. Salah seorang dari istanaku sudah menyusup menjadi bagian dari mereka. Jenderal mereka yang kharismatik yaitu Epaminondas mendapat banyak masukan dari Dewa Perang. Sebagai dewa kami tidak diizinkan untuk terlalu terlibat," Ares menjelaskan.

"Epaminondas katamu?" Jill merasa nama itu cukup familiar. Sebagai aktris yang masih memiliki darah Yunani mengalir di nadinya, Jill seringkali merasa berkewajiban mempelajari asal-usulnya.

Epaminondas adalah Jenderal cemerlang dari Thebes yang disebut sebagai salah satu Jenderal terbaik Yunani pada masanya. Sebagai seorang Jenderal perang, dia juga tertarik akan filsafat dan sains, karena dia juga disebut suka mempelajari teori Phytagoras.

"Apa ada masalah, Jill?" Ares bertanya.

"Tidak ada, Apollo kurasa juga akan senang dengan hasil akhir dari perang ini, aku pernah mempelajari sejarahnya. Ini adalah perang di Leuctra dimana Thebes menjadi pemenangnya." Jill menjelaskan.

Pada perang di Leuctra, Thebes berhasil mempermalukan Sparta dan menghancurkan kejayaan mereka yang sudah bertahan selama lebih dari 200 tahun. Setelah ini Thebes menggantikan Sparta yang akan memberikan pengaruh besar bagi daratan Yunani. Sesuatu yang dulunya dianggap mustahil karena Thebes menghadapi negara militer adidaya bernama Sparta dengan sekutu mereka.

"Apa kau tidak yakin kalau sebaiknya Sparta yang menang?" Ares menanyakan pendapat Jill.

"Ini sudah takdir yang terbaik, setelah ini Sparta akan ditinggalkan oleh banyak sekutunya yang sebagian akan bergabung bersama Thebes. Tapi kejayaan Thebes juga tidak akan berlangsung abadi, manusia akan selalu mencari alasan untuk berperang. Nantinya Yunani akan dijajah bangsa Persia, kemudian bangsa Romawi." Jill menjelaskan lagi.

"Menarik sekali, Jill, sepertinya akan menyenangkan kalau aku bisa melihat Bumi pada zamanmu."

"Kau makhluk abadi Ares, 2000 atau 3000 tahun lagi mungkin bisa kau lalui tanpa terasa." Jill tersenyum menanggapi.

"Aku tidak tahu, aku dengar tidak banyak kaum titan yang bisa mencapai umur itu." Ares merasakan remasan pedih di sekitar jantungnya ketika mengatakannya. Karena semua itu jadi mengingatkannya pada Jill dan kemungkinan kalau jiwa istrinya akan kembali ke masa depan kapan saja.

"Ares aku... " Jill hendak mengatakan sesuatu.

"Kita harus menemukan Hermes segera, dan mengetahui cara agar membuat jiwamu tetap tinggal," ujar Ares memutuskan.

"Ares dengarkan aku."

"Menurut peta lokasi yang diberikan Hades, Hermes tidak jauh dari Leuctra." Ares terus berbicara dan tidak mau menanggapi Jill.

"Ares! Ini bukan rumahku!" sergah Jill tidak sabar.

"Tidak, Jill! Tempatmu adalah berada di sisiku dan aku akan memastikan itu terjadi!" Ares menegaskan sambil memandang mata Istrinya dengan penuh kesungguhan. Ares serius dan dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya. Bagian dari sifat Ares itu seringkali menjengkelkan bagi Jill, tapi di sisi lain rasanya menyenangkan karena Ares tampak tulus mencintainya.

Tapi Jill jadi mengingat kalau Ares tidak pernah mengucap kata cinta untuknya. Jadi yang mana yang benar? Ares mencintainya? Atau hanya bersikap posesif terhadapnya?

"Ares?" Sebentuk suara wanita memanggil namanya.

Jill dan Ares pun menoleh ke belakang mereka.

"Athena?" Ares tampak cukup terkejut dan langsung berwaspada. Kakaknya itu memang penuh muslihat dan memiliki kebencian yang tidak wajar terhadapnya.

"Aku ke sini untuk menangkap pengkhianat. Siapkan pedangmu, Ares." Athena berkata pelan sambil mengayunkan pedang titaniumnya yang masih berbau tungku. Athena sengaja menggunakan pedang baru itu agar bisa meminum darah Sang Dewa Perang pada tebasan pertamanya.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang