Bab 64: Keputusan Jill

82.1K 9.2K 288
                                        

Jill bukanlah seorang yang suka bertualang atau hobi melakukan olahraga outdoor. Salah satu latihan fisik yang biasa dia lakukan adalah bermain anggar yang juga dilakukan di dalam ruangan. Jill jelas bukan penikmat alam yang merasa kalau acara naik gunung atau semacamnya adalah kegiatan yang menyenangkan. Maksudnya, bagaimana caranya dia mencari toilet di tengah gunung? Belum lagi kalau hujan dan harus berteduh di tenda. Apalagi Jill adalah perempuan yang resik dan mewajibkan dirinya untuk mandi dua kali sehari.

Secara mengejutkan; semua itu sudah tidak menjadi masalah baginya sejak tiba di jaman Yunani Kuno ini. Mendaki jalan setapak yang menanjak di pegunungan Olympus, menembus rimbunan pohon dan semak yang membuat kulitnya gatal, makan hewan buruan yang dibumbui hambar bahkan membunuh makanannya sendiri sudah pernah dia lakukan.

Jill bahkan ragu petualang terkenal bernama Bear Grylls sendiri sudah pernah mengalami itu semua. Jill ingat pernah diundang sebagai bintang tamu acaranya dan Jill secara santun menolaknya. Jill benci memperlihatkan kelemahannya di depan kamera. Dia terbiasa tampil sempurna. Jill tidak senang membayangkan kalau acara reality show itu menyorot dirinya yang kesulitan melangkah di atas lumpur atau berteriak ketakutan ketika melakukan panjat tebing.

Tapi kali ini, kalau Bear Grylls mengundangnya sekali lagi; Jill secara percaya diri akan menerimanya. Manusia modern mana yang punya pengalaman mengeroyok Cyclops serta menjinakkan Cerberus? Jill mungkin bisa membuat semua orang melongo kalau dia bisa mengalahkan seekor beruang grizzly di depan kamera. Kelihatannya keren juga. Jill berkhayal .

"Hati-hati Jill!" Ares berseru memperingatkannya. Jill terpana melihat seekor ular derik bergelantungan di dahan pohon yang hampir menyenggol kepalanya. Tidak usah jauh-jauh membayangkan hidup abadi. Bisa bertahan hidup di hutan berbahaya ini saja sudah beruntung. Fajar sudah tiba; dan mereka bertiga kembali ke pegunungan Olympus. Kendati sinar matahari pagi sudah memberi pencahayaan yang cukup untuk memandu langkah mereka, kadang mata mereka masih luput terhadap binatang buas yang tersebar di sana sini.

Ares bisa dibilang sedang menjaga dua orang saat ini. Yaitu Hermes dan Jill, dua orang amatiran yang terpaksa harus menerobos hutan berbahaya. Lebih runyam lagi, salah satu dari mereka adalah manusia yang bau darahnya bisa memantik sinyal di otak para monster untuk mendekatinya.

Jill tidak bisa terlalu percaya diri. Ini adalah realita. Bukan reality show. Tidak ada kru medis di sekitarnya yang siap dengan obat, penawar bisa dan perban. Dia bisa mati kapan saja di tengah hutan pegunungan Olympus ini.

"Kita beristirahat dulu untuk minum," Ares memberitahu.

Mereka mengikat tali kekang Herion dan Raven pada sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai dangkal berbatu.

"Aku mau berjalan-jalan sebentar, terlalu lama berkuda membuatku pegal." Hermes pun berlalu pergi.

Jill memandangi punggung Hermes yang mulai menjauh. Walau dia bukan Dewa petarung tapi pernah ada kisah dimana dia menyelamatkan Ares dari para Cyclops. Artinya Jill dan Ares tidak perlu terlalu menkhawatirkannya. Ares juga sudah membekalinya dengan beberapa senjata modern untuknya.

"Aku tidak ingin melihatmu mati Ares." Jill berujar sungguh-sungguh. Kisah yang dituturkan Hermes berhasil membuatnya cemas semalaman.

"Aku juga tidak mau mati. Aku tidak akan membiarkan peristiwa itu terjadi Jill," kata Ares menanggapi.

"Bagaimana kalau Jacinda berhasil menghipnotismu? Mungkinkah kalau kita urungkan ke istanamu dan minta bantuan Hades saja?" tukas Jill.

"Aku tidak bisa melakukannya, Aku sudah memberikan pesan pada Alastair dan merencanakan serangan balik." Ares menggeleng.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang