Bab 26: Utusan Dewa Zeus

107K 11.6K 347
                                        

Mendengar nama Zeus disebut oleh Alastair telah membuat Ares dan Jill gentar. Sudah diketahui secara umum kalau Ares seringkali tidak dianggap penting oleh Zeus. Di masa mudanya Ares memang kerap membuat ulah dan menjadi masalah.

Namun Ares telah menghabiskan seribu tahun terakhir masa hidupnya untuk menjadi Dewa perang yang ideal. Ares telah berhasil membangun area kekuasaannya sebagai pusat teknologi militer dan latihan bagi para ksatria yang mumpuni. Semua demigod yang bercita-cita mengikuti jejak Jason si Argonaut atau Hercules; sebagai pahlawan Yunani biasanya mengabdi pada Ares.

Zeus adalah Dewa yang angkuh dan bahkan lebih egois daripada Ares. Dia kerap berbuat seenaknya termasuk menyinggahi para manusia untuk menidurinya. Kekuasaannya tidak tergoyahkan selama lebih dari dua ribu tahun. Seluruh teknologi kedewaan dan titan berada dalam genggamannya; sehingga tidak ada yang berani menentangnya.

Dari yang Jill ketahui, Zeus sangat jarang mengunjungi anak-anaknya atau Dewa lainnya. Hermes adalah Dewa yang bertindak sebagai tangan kanannya dan bertugas menyampaikan pesan. Jill tersadar, apakah yang Alastair sebut sebagai Utusan Zeus itu adalah Hermes? Artinya Jill mungkin punya kesempatan untuk bertanya tentang Hermes Siatrich.

Jill menyelesaikan mandinya lebih cepat. Setelah berpakaian dia pun bergegas menyusul Ares. Jill memilih berdiri bersembunyi di balik sekelompok Satyr dan para demigod yang juga penasaran sambil ikut mengawasi para utusan. Saat ini Jill melihat lebih dari satu lusin sosok yang menyerupai manusia. Jill tahu mereka pasti bukan manusia.

Mayoritas dari mereka adalah kaum laki-laki yang berpakaian mewah, mengingatkan Jill pada pakaian bangsawan Yunani seperti yang pernah dia lihat di Sparta dan Thebes. Rata-rata dari mereka terbilang atraktif namun raut muka dan ekspresi mereka kaku tanpa emosi.

Mereka semua berkumpul di halaman depan Istana Ares, Jill juga melihat sebuah kereta kuda berukir rumit yang ditarik kuda-kuda putih bersayap. Ini pertama kalinya Jill melihat pegasus alias kuda sembrani. Mereka semua sangat indah dan anggun, persis seperti yang di dalam khayalan Jill di dongeng masa kecilnya.

"Salam! Wahai Ares, Putra Zeus yang Agung!"

Mereka melakukan salam penghormatan dengan nada formal.

Ares berjalan mendekati rombongan itu dengan langkah percaya diri. Para pengawal istananya tentu sudah melakukan langkah-langkah pengamanan seperti memastikan identitas mereka sebelum memasuki area Istana Ares. Mereka membawa semacam perkamen dengan emblem khusus yang hanya dimiliki oleh Zeus.

"Ada keperluan apa kalian ke Istanaku?" Ares bertanya dengan ekspresi serius.

Jill yang masih mengawasi dari kejauhan tentunya juga penasaran, seandainya dia bisa sedikit mendekat ke arah mereka agar bisa mendengar pembicaraan para utusan itu. Tapi Jill khawatir akan menyinggung mereka, tidak semua kaum titan dan Dewa bisa menerima keberadaan manusia di antara mereka.

Jill melihat gestur Ares berubah gundah dan tampak terbebani. Dewa tampan itu menggeleng bingung dan terus berbicara dengan para utusan itu dengan mengecilkan volume suaranya.

"Hei, Medeia, yang mana yang namanya Hermes?" Jill bertanya pada salah satu demigod yang lumayan akrab dengannya. Medeia adalah seorang ksatria wanita bertubuh ramping dan berambut pendek. Sama seperti Jill, dia juga sedang mengintip para utusan itu dari jauh.

"Apa maksudmu? Dewa Hermes tidak ada bersama mereka.

"Bukankah Hermes adalah Dewa penyampai pesan? Hermes selalu berada di dekat Zeus kan?" Jill memastikan, yah tentu saja semua informasi itu hanya Jill dapat dari kisah-kisah mitologi Yunani selama dia hidup sebagai Jill Adelaide.

"Tidak juga, para Dewa dan Titan punya perangkat komunikasinya sendiri. Nyaris tidak pernah terjadi ada serombongan utusan Zeus mendatangi Istana dewa lainnya kecuali urusan yang lumayan penting," jelas Medeia setengah berbisik.

Jill membayangkan Para Dewa Olympus bisa berkomunikasi dengan semacam pesawat telepon atau radio. Walau mereka hidup menyesuaikan diri dengan peradaban manusia di sekitarnya, tetap saja mereka adalah ras Alien yang berteknologi maju.

"Aku dengar Hermes dan Ares juga merupakan sahabat dekat," lagi-lagi Jill membahas pengetahuan yang dia hafal semasa hidup di masa depan.

"Iya, Hermes dulu salah satu Dewa yang sering mengunjungi Ares. Mereka kerap minum bersama," kata Medeia menanggapi.

"Tapi kenapa selama aku tinggal di sini dia tidak pernah berkunjung?" Jill mengutarakan kebingungannya.

"Aku juga tidak terlalu paham kenapa, Hermes sudah hampir empat bulan tidak pernah ke Olympus. Mungkin kamu bisa tanyakan langsung kepada Ares." Medeia tampak ingin segera mengakhiri pembicaraan. Situasi berubah semakin menarik. Kereta kuda tadi rupanya masih dihuni seseorang di dalamnya.

Jill melihat sesosok bertubuh ramping dan memakai tudung berwarna hijau tua keluar dari keretanya. Ares tampak berdiri mematung dan masih sesekali menggelengkan kepalanya bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Ares adalah sosok dengan kepercayaan diri tinggi. Masalah macam apa yang bisa membuat Dewa tangguh itu merasa kesulitan?

Jill memberanikan diri mendekat ke arah mereka. Jill tahu beberapa demigod dan Satyr tampak berusaha mencegahnya, namun dia merasa harus ke sana.

Sosok bertudung itu adalah seorang wanita, dia kemudian melepas jubah bertudungnya dan menampakkan helaian rambut merah bergelombang, serta raut wajah cantiknya dengan iris mata hijau.

"Jill, kemarilah." Ares menyadari istri belianya berjalan ke arahnya kemudian menggandengnya.

"Ares, siapa dia?" Jill bertanya lugu.

"Ini ... aku tidak tahu apa-apa. Zeus sama sekali tidak pernah menjelaskan tentang ini kepadaku." Ares tidak menjawab pertanyaan Jill dengan jelas.

"Salam hormat saya Dewa Ares, nama saya Jacinda," wanita misterius itu membungkuk dengan anggun kemudian mengangkat kepalanya, dia memandang langsung ke mata Ares dengan percaya diri sambil tersenyum.

Ares diam saja dengan beragam pikiran berkecamuk di kepalanya.

Wanita itu tidak tampak terusik dengan reaksi Ares yang mengabaikannya. Jacinda lalu beralih menghadapi Jill yang digandeng Ares.

"Manusia ... siapa namamu? Apakah Anda kekasih Dewa Ares?" Jacinda bertanya sambil tersenyum.

"Siapa Anda? ada tujuan apa kemari?" Jill malah balas bertanya. Entah apakah Jill punya hak untuk berbicara seperti itu pada tamu Ares. Tapi Ares sering bilang kalau Jill adalah ratu di istananya. Seharusnya Ares tidak akan mempermasalahkannya. Jill tidak menyukai aura wanita itu.

"Saya Jacinda, putri dari Kairos, Titan yang menguasai hutan utara. Saya adalah istri Ares yang dipilihkan Zeus untuknya," kata Jacinda kalem.

The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang