haiiiii.. 2025 nih, aku baru balik heheh. MCM sudah aku rombak ya, kuharap rombakan kali ini beda dari sebelumnya dan yah lebih matang dari ketikan ku 5 tahun lalu.
souu.. happy reading~
________________________________
Pagi itu tidak benar-benar cerah.
Langit berwarna abu-abu muda, seolah belum memutuskan akan mendung atau cerah. Udara dingin masih menggantung di antara rumah-rumah, bercampur aroma tanah basah sisa hujan semalam. Dari kejauhan, suara motor berderu satu per satu, bersahut-sahutan dengan langkah kaki orang-orang yang berangkat kerja lebih awal.
Di dapur kecil rumah itu, suara sendok beradu dengan gelas terdengar pelan.
Niora berdiri di depan meja makan, menatap jam dinding yang jarumnya bergerak terlalu cepat untuk seleranya.
06.17.
Ia menghembuskan napas pendek.
“Sayang, duduk dulu.”
Suara lembut itu datang dari arah kursi kayu dekat kompor. Bibinya sudah duduk di sana, mengenakan cardigan tipis berwarna krem. Rambutnya belum sepenuhnya rapi, namun wajahnya terlihat tenang, ketenangan yang dibentuk oleh kebiasaan hidup bekerja tanpa banyak mengeluh.
“Iya, sebentar."
Niora menuangkan jus jeruk ke dalam dua gelas kaca bertuliskan happy sunday. Cairan oranye itu hampir meluap karena ia menuangkannya terlalu cepat.
“Kamu terburu-buru lagi,” ujar sang bibi sambil mengamati gerak-gerik Niora yang tak pernah benar-benar diam.
“Iya,” jawab Niora singkat. Ia meraih selembar roti, menggigitnya tanpa duduk. Dua kali gigitan kecil. Terlalu kecil untuk disebut sarapan.
“Masih pagi sudah ribut-ribut,” lanjut sang bibi. “Ada apa?”
Niora membuka tasnya, memasukkan kotak bekal sambil memastikan buku-buku tersusun rapi dan tidak ada yang tertinggal. “Guru BK nyuruh aku datang sebelum jam pertama.”
“Ada masalah kah?" tanyanya sambil mengoles roti dengan selai nanas buatan sendiri.
Niora berhenti sejenak, lalu menambahkan seolah itu hal biasa,
“Mau bahas persiapan beasiswa.”
Tangan bibi yang memegang gelas jus berhenti di udara.
“Beasiswa kuliah ke luar negeri itu?” tanyanya pelan.
Niora mengangguk. “Iya. Katanya harus mulai siapin dari sekarang.”
Ada jeda di antara mereka. Jeda yang diisi oleh suara jam dinding dan dengung pagi dari luar rumah.
“Oh ayolah, kamu belum makan cukup, Nio.” ujar bibi akhirnya, mendorong piring ke arah Niora.
Niora menggeleng cepat. “Nanti saja, Bi. Aku nggak mau telat.”
Padahal perutnya sudah terasa kosong sejak bangun tidur. Tapi baginya, itu bisa ditahan. Selalu bisa. Dibandingkan kemungkinan kehilangan kesempatan—beasiswa itu—rasa lapar terasa sepele.
Beasiswa bukan hanya tentang kuliah. Itu tentang jalan keluar.
Tentang masa depan yang tidak membebani siapa pun.
Bibi memperhatikannya lama. “Kamu ini… terlalu memaksakan diri.”
Niora tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Bibi sayang.”
Bibi tidak membalas senyum itu. Ia hanya menghela napas kecil. “Oh ya… soal keluarga Peter.”
Niora berhenti mengikat sepatunya.
“Mereka kirim makanan lagi pagi ini,” lanjut bibi. “Bibi rasa ini sudah berlebihan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CHILDISH MATE
Dla nastolatkówSemenjak dua hari menjalin hubungan kasih dengan sahabat barunya yang kekanakan, mendadak Niora mengalami peristiwa yang membuat masa depannya hancur. Tidak ingin pulang karena malu pada bibi yang disayanginya, ia berkelana seorang diri pada tengah...
