Chapter 4

2.4K 244 21
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

Hari ini, Wonwoo memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Tubuhnya terasa semakin lemah dari hari ke hari, dan rasa lelah yang terus datang membuatnya merasa ada yang tidak beres. Setelah Soonyoung datang membawakannya semangkuk bubur hangat, Wonwoo segera berpamitan untuk pergi keluar. Ia tidak memberi tahu Soonyoung bahwa tujuannya adalah rumah sakit, meskipun sahabatnya itu sempat mencoba membujuk dan melayangkan sejumlah pertanyaan curiga. Wonwoo tetap bersikukuh dengan keputusannya.

"Jeon Wonwoo."

Namanya dipanggil oleh suster dari balik pintu ruang periksa. Wonwoo menoleh pelan, lalu bangkit dari kursi tunggu dengan langkah yang sedikit gemetar. Ia menghembuskan napas panjang sebelum masuk ke ruangan. Saat duduk di hadapan dokter, rasa cemas yang telah menetap di dadanya semakin menjadi-jadi. Hatinya terasa sesak, seperti dililit oleh tali yang tak kasat mata. Ia mencoba memejamkan mata sejenak, berharap dengan itu pikirannya bisa sedikit lebih jernih.

Sesi pemeriksaan pun berlangsung dengan tenang, namun tidak dengan batin Wonwoo yang terus berkecamuk.

Setelah pemeriksaan selesai, ia diminta menunggu hasil tes lanjutan. Dalam hati, ia terus menggumamkan doa, memohon agar apapun yang terjadi pada tubuhnya, bukanlah sesuatu yang akan merenggut seluruh harapannya.

"Apa yang terjadi dengan tubuh saya Uisa-nim?" Suara Wonwoo menyuarakan tanya dengan pelan dan bergetar. Kedua tangannya saling menggenggam erat, seakan sedang menahan gemuruh badai dalam dada.

Dokter yang mengenakan jas putih dengan nametag bertuliskan 'Kim Jongin' menatapnya dengan ekspresi sulit. "Saya belum bisa mengatakan apa-apa sekarang, Wonwoo-ssi. Hasil tes baru akan keluar lusa. Saya tidak bisa memberikan diagnosa sebelum ada data yang pasti," ujarnya tenang.

"Apakah ada kejanggalan pada tubuh ku hyung?" Suara Wonwoo mulai bergetar lebih nyata, dan sorot matanya memohon.

Jongin terdiam sejenak dengan kepala yang menunduk, seolah mencari kata yang paling lembut untuk menyampaikan kekhawatirannya. "Wonwoo-ya… dari hasil pemeriksaan fisik dan juga keluhan-keluhanmu akhir-akhir ini, ada kemungkinan masalah serius di bagian perutmu. Tapi ini baru dugaan awal, jangan langsung panik, oke? Hyung akan pastikan semua tes dilakukan dengan benar. Kita belum tahu apa-apa secara pasti."

Wonwoo tidak langsung membalas. Kepalanya menunduk, dan rasa kecewa menggumpal begitu kuat di dalam dada. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri, seolah tubuhnya telah mengkhianatinya diam-diam. Namun, ia tetap mencoba tersenyum, walau begitu pahit.

"Aku baik-baik saja, hyung. Jikapun ternyata tidak, aku akan tetap mencoba terlihat baik-baik saja… seperti biasanya. Aku percaya padamu."

Jongin menatapnya lama. Ia tahu betul, senyum itu palsu. Di balik mata bening Wonwoo, terlihat jelas ada kepedihan yang coba disembunyikan.

Last Promise [Proses Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang