#Chapter 5 : Lost the House...

2.6K 96 1
                                        

Raka berjalan menuju satu ruangan di ujung kiri dari arah Lift. Lalu memencet tombol bel di sisi kanan pintunya.

"ya, tunggu dulu !"

Shilla berlari keluar menuju pintu sambil memakai dasinya. Ia terlihat kesulitan memakai dasinya.

Clek!

"oh, hai Raka." Ucap Shilla melihat kearah Raka sekilas lalu kembali pada dasinya.

"Hai Shil." Ucap Raka tersenyum. "masa anak cewek tapi gak bisa pake dasi sendiri?" ucap Raka.

Raka menjulurkan tangannya kearah Shilla dan memilin dasinya.

"kalau sekarang gak bisa, gimana nanti mau ngiketin dasi suaminya?" ledek Raka.

"ih! Apaan sih. Ini kan cuman karen-"

TING!!

Suara pemanggang roti menginterupsi ucapan Shilla.

"Oh iya! Roti panggang gue!"

Shilla bergegas lari menuju dapur mengambil rotinya. Raka hanya terkekeh kecil melihat Shilla yang bertingkah seperti anak kecil. Raka masuk kedalam dan membuka sepatunya. Lalu berjalan menuju dapur.

Shilla menaruh sepiring rotinya diatas meja, tidak menyadari kehadiran Raka. Shilla membuka kulkas dan mengambil kotak susu cairnya. Menuangkan susu cairnya kedalam gelas. Lalu meletakkannya diatas meja. Shilla berjalan menuju kursi didekat Raka dan duduk disana.

"Lho! Roti coklat gue mana!!?" Shilla berteriak panik.

"duh, pagi-pagi udah heboh. Nih rotinya." Raka mengembalikan roti yang ia ambil dari Shilla tadi.

"huh, untung aja gak ilang. Hampir aja gue mau bikin lagi, kalau tadi lo gak langsung komen Ka!" ucap Shilla lemas.

"hahaha, maaf deh maaf. Buruan gih makannya. Bentar lagi jam setengah tujuh tuh." Ucap Raka menunjuk jam.

"HAH!?"

Shilla membulatkan mata besarnya lalu dengan cepat melahap rotinya hingga habis. Tidak peduli dengan mulutnya yang celemotan selai coklat, Shilla bergegas memakai sepatunya dan mengambil tas lalu menarik Raka keluar. Oh, buruknya, Shilla lupa mengunci pintu rumahnya.

Shilla dengan cepat memencet tombol turun di lift dan dengan cepat masuk kedalam lift. Sampai di lantai dasar, Shilla langsung menarik Raka. Raka yang awalnya hanya pasrah ditarik-tarik begitu, tiba-tiba berhenti. Lalu menarik tangan Shilla agar berbalik. Hal itu spontan membuat Shilla diam dan menatap Raka datar.

"boleh kok buru-buru takut telat. Tapi please, lo jangan malu-maluin gue dengan mulut belepotan lo ini okay?" ucap Raka sambil membersihkan ujung bibir Shilla dengan sapu tangannya.

Kali ini Shilla benar-benar diam seribu bahasa. Lalu Raka tersenyum. Raka mendorong pelan dahi Shilla. Hal itu tepat membuat Shilla mengingat Kai, pasalnya dulu Kai sering melakukan itu padanya.

"udah yuk."

Raka akhirnya menarik Shilla agar berlari menuju halte bus.

*Hello~Goodbye*

Stevan, Irene dan Shilla berjalan beriringan menuju kantin.

"Stev, udah siap ulangan matematika?" Tanya Irene.

"udah dong, lo?" ujar Stevan.

"gue belum siap nih. Duuh, Math kan susah." Irene memajukan bibirnya kesal.

Stevan menyentuh bibir Irene. "gak usah di manyun-manyunin, gak imut juga lo begitu." Ucap Stevan.

"Sialan lo emang." Ucap Irene.

Hello, Goodbye.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang