#Chapter 10 : Who is that old man?

1.9K 81 0
                                        

Memasuki jadwal ajaran baru, Raka menghampiri Irene yang berada di kelas baru nya.

"Lo masuk di kelas A?" Tanya Raka.

Irene mengangguk.

"Stevan?" Tanya Raka lagi.

"Masuk kelas B. Bareng Shilla." Ujar Irene seakan tidak peduli.

Raka menghela napasnya melihat perubahan sikap Irene saat mereka membicarakan Stevan dan Shilla.

'Tuhkan, nih anak gini lagi.'

"Lo masih berantem sama Stevan?" Tanya Raka.

"Masih. Dia bilang gue dan dia emang gak ditakdirkan untuk terus bersama. Cih, kalau emang itu yang dia bilang, oke. Gue juga bisa gak bakal deketin dia ataupun mikirin dia lagi." Ujar Irene.

Irene mengunci layar IPhonenya dan berjalan keluar. Raka menggelengkan kepala melihat tingkah Irene.

"Kapan kalian bakal baikan lagi sih?" Gumam Raka kesal.

"Yaudah lah. Gak usah dipikirin lagi. Toh itu urusan mereka. Gak usah campur tangan lagi." Ucap Shilla.

"Tapi aku gak tega liat mereka Diem-Dieman kayak gitu Shil."

"Mereka udah gede. Dan mereka juga bukan anak ataupun adik atau kakak kamu. Toh untuk apa kamu ngurusin. Mereka Cuman terlalu besar kepala aja Kai." Ujar Shilla.

Raka mengangguk.

"Kai, ntar kamu pulang sendiri ga apa kan? Aku harus langsung berangkat kerja. Biar bisa pulang agak cepet nanti malem." Ucap Shilla.

Raka mengangguk.

"Sama, aku juga harus cepet cepet nyerahin data diri aku. Kerja nge band di cafe aja kurang kayaknya. Aku mau nyoba jadi dancer aja. Kebetulan salah satu management musik ada yang ngadain audisi." Ujar Raka sambil tersenyum lebar.

Shilla ikut tersenyum. Walaupun ntah kenapa ia tidak suka dengan pilihan Raka yang mau menjadi dancer di management musik.

***
Raka pulang sendiri sore ini. Raka berjalan menuju tempat penyerahan data audisi. Ia menyerahkan beberapa data miliknya. Raka tidak begitu bodoh. Ia tahu management musik itu bukanlah berasal dari Indonesia. Melainkan tempat dimana ayahnya berasal. Korea.

Pulang dari tempat audisi Raka menunggu beberapa menit sebelum akhirnya bis pun datang.
Namun tiba-tiba ia mendengar suara jepretan kamera. Tidak menghiraukan? Itu lebih baik menurutnya.

Namun lama kelamaan pria tampan bermarga Kim ini risih. Dan melihat seorang pria memotret nya dari barisan depan kursi penumpang bis.

Pria itu bergegas turun.

"Eh! Tunggu! Jangan kabur Lo!" Teriak Raka beringas.

Raka ikut turun dari bis dan mengejar pria tersebut.

"Sial! Kabur kemana lo hah!"

'Gue nyium bau permasalahan akan datang nih. Ada yang gak beres sama orang itu.'

Raka terhanyut dengan pemikirannya sendiri.

'Tapi kalau di pikir-pikir, gue kan emang ganteng. Siapa tau secret admirer? Tapi kan dia cowok -,- ah gak tau ah pusing. Mending pulang. Shilla pasti udah masak enak."

Raka berjalan pulang dengan senyuman mengembang mengingat wajah Shilla. Padahal tadi ia pusing dengan pria misterius tadi.

***

Shilla membereskan bagian luar kafe. Namun tiba-tiba sebuah cahaya kilat mengarah padanya.

'Aneh. Yang tadi itu Blits camera siapa?'

Hello, Goodbye.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang