Raka berjalan masuk ke sebuah cafe tak jauh dari apartementnya. Ia mencari Stevan disana. Stevan melambaikan tangan dari kejauhan.
"Ada apa Stev? Tumben pengen ketemu di cafe lo?" Tanya Raka sembari duduk di bangku hadapan Stevan.
"Lo pesen apa?" Tanya Stevan.
"Hot Chocolatte aja." Ucap Raka.
Stevan mengangguk dan mengatakannya pada pelayan.
"Baik tuan." Ucap pelayan itu sopan.
Stevan kembali ke tempatnya. Ia menyenderkan bahunya agar lebih rileks.
"Gue baru sadar Ka. Mungkin bener kata lo. Mata gue belum terbuka saat itu." Ujar Stevan.
"Lo akhirnya sadar kan kalau lo itu emang dari awal cinta sama Irene." Ucap Raka.
"Tapi semua udah berlanjut hancur Ka. Mungkin gue harus biarin dia per-"
"Oh Gak Bisa! Pokoknya malem ini titik gue mau lo nyatain ke dia. Semakin lama lo mainin permainan ini, semakin Irene bakal hancur. Gak Cuman Irene, tapi lo juga." Ucap Raka.
Raka menghabiskan Pesanannya cepat. Lalu berdiri.
"Gue mau pergi beli hadiah untuk Shilla. Gue pergi duluan." Ucap Raka.
Stevan hanya memandangnya tanpa ekspresi lalu mengangguk.
"Hadiah? Ultah Shilla kan masih lama?" Gumam Stevan.
Stevan melirik jam tangannya dan melihat tanggal di jam itu.
14 Februari
Stevan mengetuk mejanya lalu berdiri. Berjalan pergi meninggalkan cafe milik keluarganya.
***
Raka berjalan cepat menuju depan pintu rumah Irene. Ia hanya menaruh lembaran kertas yang di lipat rapi dan kotak besar berwarna pink. Dan dengan cepat pula ia pergi meninggalkan tempat itu menuju atap gedung Apartment.
***
Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi malam ini.
From : Stevan
Ren, ntah kamu bakal ikutin ini atau gak, aku Cuman mau bilang, sekarang tolong buka pintu rumah kamu. Dan ikutin perintahnya.
Irene menghela napas. Lalu berjalan keluar.
Cklek!
Irene mendapati sebuah kotak dan selembar kertas di depan rumahnya. Irene membawa masuk kedua benda itu dan menaruhnya di atas meja makan.
'Irene ikutin setiap peraturan yang ada ya! Pertama kamu keluar dan pergi ke lift. Pencet tombol nya. Kamu bakal tau harus kemana kalau udah ke lift. Tapi kamu harus pakai apa yang ada di dalem kotak yang aku kasih dulu.'
Irene membuka kotak tersebut dan melihat sweather berwarna abu-abu bergambar mikie mouse kesukaannya. Tanpa memperpanjang waktu lagi, ia dengan segera memakainya dan bergegas menuju lift.
Irene menemukan kertas tertempel di dinding dekat lift.
'Masuk ke lift. Pencet tombol 31.'
Irene masuk kedalam lift dan mengikuti perintah. Namun di dalam lift ia menemukan surat lagi.
'Begitu keluar lift langsung ke exit door dan naik ke rooftop.'
Irene berjalan menuju exit door dan menaiki anak tangga tersebut satu Persatu.
Hanya ada satu satunya pintu di sana. Dan Irene membukanya. Gelap. Tidak ada apa-apa kecuali cahaya lilin-lilin kecil menurut pemikiran Irene.
Click!
Semua lampu di lantai atap tersebut hidup dan Stevan berdiri di tengah-tengah lilin lilin kecil yang tertata rapi membentuk hati. Dengan tumpukan kertas di tangannya.
Irene berjalan mendekat. Mengkuti jalur yang telah Stevan buat dengan lilin. Irene berhenti begitu Stevan berkata,
"Ren, baca ya."
- "Mungkin aku memang bodoh."
- "Mungkin aku tidak bisa memahami hati kamu dengan cepat."
- "Tapi aku sadar, semakin aku terlarut dalam permainan ini, semakin aku merasa tersakiti."
- "Aku gak tau bagaimana cara untuk memulai ini semua dari awal lagi."
- "tapi kamu yang berarti buat aku. Aku Cuman takut kehilangan kamu."
- "dengan egois nya aku berpikiran tentang diriku sendiri."
- "mungkin selama ini aku salah. Dan kenyataannya aku Cuman mau bilang satu hal sama kamu."
- "I Love You."
Stevan membuang lembar terakhir.
"Gue bukan cowok yang bisa bikin lo tersanjung. Gue Cuman mau minta maaf sama lo atas ke egoisan gue dan juga gue ya-"
Grep!
Irene dengan cepat berlari memeluk Stevan.
"Gue juga Stev. Gue juga." Ujar Irene dan membenamkan wajahnya di dada Stevan.
Stevan melepas pelukannya.
"Jadi jawabannya?" Tanya Stevan.
Irene terdiam. Lalu mengangguk sambil tersenyum.
Stevan kembali memeluk Irene.
"Kamu sadar gak? Sebenernya kan kita pake sweather samaan." Ujar Stevan sambil tetap memeluk Irene.
"Aku seneng." Ucap Irene.
"Aku juga." Jawab Stevan.
Stevan melepaskan pelukannya. Ia menyalakan musik dan menyetel Lagu yang pas.
"Wanna dance my princess?" Ucap Stevan sambil tersenyum.
Irene mengangguk. Mereka mulai menari. Mengingat kembali saat saat dimana mereka berdua masih menjadi dancer saat SMP.
Terakhir mereka menempelkan kedua dahi mereka. Lalu tertawa.
"I love you." Bisik Stevan.
"Love you too." Jawab Irene.
Di tanggal 14 Februari bulan pun seakan ikut tersenyum dan bintang menerangi kebahagiaan mereka.
- To Be Continued -
________________________
HELLO AAAALLLL ^^
Happy valentine day untuk kalian ^^ khusus hari ini Author kasih chapter cintanya Irene ^^
Nah kan Author udah baik jadi sekarang kasih vote and comment nya ya ^^
Dont be ghostie hihihi~
Saranghae yeorooobuuuuuunnn <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Goodbye.
Novela JuvenilAku terus mencarimu. Walau tanpa arah, aku tidak peduli. Rasa persahabatan itu membuncah dengan tulus menjadi cinta Kenangan kecil membayang hingga kini. Semakin aku berusaha bahagiany bersamamu, Maka semakin aku di sakiti. Hanya kepercayaan dan...
