#Chapter 21 : Can i keep believe in you?

1.4K 76 2
                                        

Sehun, Stevan, Kris dan Irene siang ini tengah berkumpul di cafe milik Stevan. Biasa, masalah bisnis orang tua mereka kini menjadi tanggung jawab mereka. Padahal mereka sekarang masih kuliah. Tapi orang tua mereka sudah sibuk memberikan tanggung jawab pekerjaan mereka ke masing-masing anaknya. Misalnya, Kris yang sudah ikut pusing dengan Entertain Management milik ayahnya, Sehun yang sudah di berikan tanggung jawab pada perusahaan turun temurun keluarga Oh, Stevan yang diberi kepercayaan untuk melanjutkan urusan rumah sakit milik keluarganya, dan Irene yang ibunya sudah sibuk memberikan tanggung jawab Perusahaan design nya pada anak gadis nya itu.

"Hah gue bisa gila kalau gini terus." Ucap Stevan dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi.

"Iya. Lo harus tau gimana susahnya ngurus Oh Corp." Titah Sehun tidak mau kalah.

"Kalian pikir kalian aja? Gue harus ngurusin kuliah gue yang seabrek-abrek, perusahaan yang lagi Down karna banyak artis yang leave dan penjualan turun, ditambah 1 nenek sihir yang harus gue awasin terus gerak-geriknya." Keluh Kris tetap sibuk pada laptopnya.

Irene memutar bola matanya malas mendengar 3 keluhan yang menurutnya tidak seberapa.

"Gak usah sok ngeluh deh. Lo pikir gue gak berat? Butik nyokap lagi naik, mana udah pergantian musim. Belum lagi masalah Shilla dan Raka. Gue gak tau lagi gimana caranya untuk bawa Raka ke sisi Shilla." Ujar Irene lemah.

Stevan langsung merangkul nya.

"Tenang Irene-Chan. Kita masih bisa komunikasi sama Lay. Dia ada di Korea sama Raka sekarang. Lagipula Sehun dan Kris kan ada disini untuk bantu. Eh Sehun! Lo bantu nyari dimana Raka sekarang gak sih!?" Omel Stevan tiba-tiba.

"Hah? Oh, hehehehe... Belum tuh ._." Jawab Sehun datar.

Stevan berface Palm. Kris ingin sekali rasanya mencekik nya. Dan Irene menatapnya sinis.

"Lalu apa tujuan mu ada disini kalau begitu Tuan eksekutif muda, Oh yang ter hormat?" Sindir Irene.

"Iya iya ini gue coba suruh anak buah gue ngelacak -,- gue juga udah minta tolong Luhan Hyung untuk kasih tau kabar itu. Tapi sekarang Luhan ada di Beijing ._."

Irene menunduk. Shilla memang sudah ada di rumahnya sendiri sekarang. Tapi ia hanya semakin lemah-semakin lemah dan semakin lemah. Irene hanya ingin Raka cepat-cepat datang dan memeluk Shilla. Menenangkannya dan menjaga Shilla hingga akhir. Tidak membuat Shilla kecewa, dan menangis seperti sebelumnya.

"Irene, tenanglah. Kita semua ada untuk bantu Shilla. Kamu gak sendiri bae." Ujar Stevan dan mengusap lembut kepala Irene.

Irene mengangguk. Walaupun dirinya masih ragu. Apa Raka benar-benar akan datang pada Shilla?

***

Shilla duduk di atas Sofa. Matanya tegang dan mulutnya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak yakin bisa melakukannya. Shilla memejamkan matanya, lalu menarik napas dalam dan menghela nya berat. Setelahnya ia membuka mata dan memetik gitar yang ada di pangkuannya.

Kamera di depannya sudah standby dan merekam apa yang ia lakukan. Menyanyikan sebuah lagu. Entah untuk apa, tapi ia hanya ingin. Ia Hanya sedang ingin menyanyikan lagu itu. Sebuah lagu milik Justin Bieber, Die In your Arms.

"Kai Kim. I sang it specially for you. Thank you."

Lalu Shilla mulai bernyanyi.

Sekelebat memorinya tentang masa-masa saat ia asik bersama Kai dan teman-temannya terkenang. Masa-masa ia bernama dengan ibu nya, ada dalam gendongan erat sang ayah, dan sebuah moment yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Masa dimana ia bersama-sama dengan Kai-nya. Mengarungi waktu dan menit bersamanya adalah sebuah keindahan dalam perjalanan hidupnya.

Hello, Goodbye.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang