Hi semuanya.. Sorry banget gue ngilang 2 minggu berturut – turut 😢
The thing is, profesi gue kebetulan berkaitan erat dengan dunia kesehatan, jadi yaa.. emang lagi riweh banget dengan adanya COVID 19 ini. Anyway, jangan lupa jaga kesehatan ya guys. Rajin cuci tangan dan minum vitamin untuk ningkatin daya tahan tubuh. Stay safe everyone 🙏🏻
I can't tell what you're thinkin'
Last night we were more than fine
Just tell me if you changed your mind
- Lauv, Mean It
[ETHAN]
"Kamu yakin sama apa yang barusan kamu omongin?" tanya perempuan di hadapan gue dengan air mata tergenang.
"Kamu tahu gak akan ada jalan kembali. Sekali kamu memutuskan untuk pergi, aku gak akan begini lagi ke kamu?"
Gue mengangguk dengan gelisah. Walau gue yakin sama apa yang gue omongin, tapi gue beneran gak tahan liat perempuan menangis.
Perempuan yang menangis bikin gue inget nyokap waktu gue kecil dulu, waktu kami masih hidup susah dan jauh dari segala kemewahan ini. Beliau nyaris selalu menangis saat dia mengira gue sudah tertidur, dan itu adalah perasaan yang sangat tidak menyenangkan.
"Kamu beneran mau ini berakhir Than? Aku udah beneran sayang sama kamu. Aku yakin kamu adalah the one buat aku."
"Tapi ini kan emang gak pernah benar – benar dimulai." Sela gue. "Ya, gue emang salah karena terkesan memberi harapan ke kamu, tapi.. gue gak bisa. Maafin gue." Ucap gue sambil menatap lantai. Beneran gak punya keberanian untuk menatap sosok di hadapan gue yang kini sibuk menyusut air matanya.
Setelah pembicaraan dengan bokap malam itu, gue menghabiskan dua hari berikutnya untuk benar – benar memikirkan langkah apa yang harus gue ambil. Dan disinilah gue, akhirnya melakukan sesuatu yang semestinya sudah gue lakuin sejak dulu.
Gue udah siap untuk ditampar, disiram, atau apapun itu. Biar gimana, rasanya gue layak menerima itu. Tapi sepertinya perempuan di hadapan gue ini tidak semanja yang gue kira. Dia memang menangis saat gue memutuskan untuk tidak memperpanjang apapun itu dengannya, tapi setelah air matanya surut dia hanya butuh waktu sedetik untuk berdehem lantas mengulurkan tangannya ke gue.
Gue menatap tangannya dengan gamang, bingung sama maksudnya. Tapi ternyata dia beneran cuman ngajak salaman doang. Maka setelah menyambut uluran tangannya dengan ragu, dia menggenggam erat tangan gue dalam waktu sekian detik yang terasa lama sebelum akhirnya melepaskannya, tersenyum miris, dan beranjak pergi.
Pada saat gue menatap punggung mungilnya yang semakin menjauh, saat itu pula gue tau kalo kemungkinan besar gue gak akan bisa ketemu dia lagi. Karena dia gak akan sudi. Gue meringis, sadar seratus persen kalo bokap gak akan suka sama fakta ini.
Gue gak ngerti udah berapa lama gue terpekur menatap kosong makanan di hadapan gue kalo aja suara yang teramat familiar gak menyapa gue.
"Than..woi.. kenapa lo? Malam – malam bengong."
Gue menoleh ke si empunya suara dan tersenyum garing, berusaha mengenyahkan perasaan gak enak yang masih bercokol di dada gue sambil berusaha menyantap Nasi Hainan maha enak yang biasanya gue habiskan dengan cepat setiap makan di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Chick-LitWarning 21+ ETHAN Gue bukan Gay. Gue cowok sejati, tulen, doyan perempuan. Sumpah! Tapi.. setelah sekian tahun puas dengan hubungan satu malam kenapa gue malah suka dan mengharapkan komitmen dari Bintang. Padahal Bintang itu kan laki? BINTANG Aku...
