Cause I don't got time for laughs
No, I do not want the past
But if you are ever in need
And God has you down on your knees
And you do not know who to be
Then go on and come home to me
Right Here - Keshi
◆◇◆
Buat beberapa orang, bertambah dewasa itu nggak mudah, nggak menyenangkan, atau bahkan mungkin saja mimpi buruk.
Selain tanggung jawab dan prioritas yang akan berubah, rasa egois untuk selalu menang sendiri pun kadang turut berganti.
Dulu, semasa kecil, Kinar selalu berpikir bahwa dia ingin segera jadi dewasa. Saat Mama akan marah dan melarangnya melakukan ini itu, Kinar merasa bahwa menjadi dewasa dan bertumbuh terlihat lebih menyenangkan.
Namun kini, di umurnya yang menuju 18 tahun, Kinar seperti ingin memaksa waktu untuk berhenti agar dia tidak perlu tumbuh dan menjadi dewasa. Dimana masalahnya hanyalah berkutat pada tugas rumah yang diberikan oleh gurunya dan Mama yang akan memaksa dirinya mengerjakan sembari menemaninya dengan segelas susu coklat hangat. Sebelum kemudian pergi tidur, dengan Mama yang akan bercerita tentang pangeran dan putri cantik dari negeri antah berantah dimana akan selalu berakhir sama, namun tidak pernah membuat Kinar bosan.
Kini, menginjak bangku kelas tiga SMA, Kinar tau bahwa masalah yang dia hadapi bukan hanya tumpukan tugas yang menggunung dan menunggu untuk ia selesaikan, namun juga untuk urusan hubungannya dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dikenal sebagai anak yang punya tingkat acuh setinggi Poseidon dan wajah super jutek yang seringnya membuat orang takut, namun juga cantik yang kadang membuat beberapa merasa rendah diri, Kinar tidak merasa hal itu sesuatu yang mampu ia banggakan.
Wajah cantik kadang memang bisa membantu, tapi di lain sisi, kadang juga bisa jadi bencana.
"Kinar!"
Kinar sadar bahwa ia bukan anak yang bisa dengan mudah beramah tamah, berlaku sok baik untuk menyenangkan perasaan orang lain. Mungkin, itulah sebab mengapa banyak orang yang berpikir ulang untuk berteman dengannya.
Karena kebanyakan dari kita lebih suka mendengar kebohongan yang memang terasa lebih manis daripada menerima kebenaran yang menyakitkan.
"Pumpkin, can you stop?"
Jujur saja, Kinar merasa iri dengan mereka yang bisa dengan mudah berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan satu atau dua teman sembari bercanda dan bercerita. Atau duduk di kursi kantin dan berdebat soal seri make up yang baru saja keluar. Atau lagi, bercerita panjang lebar soal cowok ganteng di kelas sebelah yang menjadi idaman banyak siswi.
Hal-hal yang bagi beberapa orang terdengar begitu klise dan menjenuhkan, namun tidak gagal membuat Kinar merasa iri.
Ia ingin masa remajanya terisi hal-hal seperti itu. Ia ingin merasakan semua. Lagi-lagi, Kinar harus puas dengan kenyataan betapa tidak beruntungnya dia. Daripada dibuat pusing oleh pilihan warna liptint dan cowok mana yang harus ia taksir, ia justru dibebani oleh pikiran yang penuh bayangan hitam dan kapan harus datang mengunjungi Mama atau bahkan, mendatangi Dr Adriani untuk konsultasi.
"Kinar, stop walking now before I make you myself!" Suara menggema di ujung koridor membuat tidak hanya langkah kakinya berhenti, namun juga beberapa kepala yang menatap ke arah sumber suara.
Kinar menghela nafas, sebelum berbalik dan kembali menampilkan wajahnya datar. Menatap Sam yang kini berdiri tak seberapa jauh dari tempatnya berada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Disenthrall
Novela Juvenil(v.) set free Sedari dulu, ia sadar bahwa tawa dan bahagia tidak pernah berlaku dalam hidupnya. Sedari dulu, ia percaya bahwa pada akhirnya, dia adalah satu-satunya yang dapat dia percaya dan harapkan untuk bertahan. ...
