BAGIAN 14

4.7K 605 86
                                        

Lalisa sama sekali tak ingin kembali ke kamarnya. Dia sungguh masih memikirkan kejadian saat di rooftop beberapa saat yang lalu. Membayangkan nya saja membuat wajah Lisa memerah karena marah, kesal, malu melebur menjadi satu.

Titik fokusnya sedikit terganggu karena bayang-bayang kegiatannya dan Jenderal Jungkook masih berputar seperti kaset rusak yang memenuhi otaknya. Dia tak bisa berpikir jernih. Jadi, tak kembali ke kamar adalah opsi terbaik untuknya menghindari predator semacam Jenderal Jungkook.

Menghela nafasnya pelan. Lisa menyugar helai rambutnya yang dibiarkan terurai. Menambahkan kesan manis dan juga anggun disaat yang bersamaan. "Jika aku tak kembali ke kamar, aku tidur dimana?" gumam Lisa pada dirinya sendiri.

Lisa memejamkan matanya untuk berpikir. Tapi sial! Bayang-bayang dia yang hampir bercinta dengan suaminya sendiri masih melekat hangat di otak pintarnya.

"Arghhh kalau begini terus. Aku tak bisa berpikir," gerutu Lisa sebal. "Kenapa juga aku harus mengingat kejadian memalukan tadi, oh shit!" lanjutnya mengumpat.

Kaki jenjang isteri Jenderal Castalla itu menelusuri taman-taman yang dirawat dengan baik di kediaman sang jenderal. Rumah ini bahkan tak bisa disebut dengan rumah. Dia lebih suka menyebutnya mansion. Yah, walaupun dia juga tinggal di mansion sama seperti Jenderal Jungkook tapi tetap saja. Dia tak tahu kalau kediaman Jenderal Jungkook bahkan lima kali lipat lebih besar dibanding mansionnya.

"Aku tak tahu kalau Castalla benar-benar kaya raya," gumam Lisa takjub akan kemegahan bangunan Castalla. "Apa karena kekayaan inilah makanya Agust menjualku? Cih! Aku benar-benar membencinya sampai ke tulang-tulang bahkan darahku begitu mendidih!" lanjut Lisa berdecih sinis. "Sialan! Berapa kalo aku sudah mengumpat?!"

Mata Lisa beredar melihat sekeliling. Matanya berbinar ceria saat mendapati gazebo yang letaknya tak jauh dari tempat dia berdiri. Dengan senyum lebarnya Lisa berjalan pelan menuju gazebo itu.

Bibir Lisa sekali lagi berdecak kagum melihat interior gazebo Castalla yang tak seperti gazebo pada umumnya. Gazebo ini dikelilingi bunga-bunga dan juga tanaman merambat di tiang-tiang penjaga yang membuat kesan alami dimatanya.

"Wah, selain kaya, Castalla juga sangat indah. Bahkan aku belum pernah menemukan hal seperti ini di Pallas maupun negara tetangga sebelumnya." ucap Lisa tanpa sadar.

Mata Lisa masih menjelajahi penampilan gazebo itu. Matanya menyipit saat menemukan beberapa bunga dan tanaman yang layu. Kakinya melangkah ke arah tanaman itu.

Lisa berjongkok. Menyamakan posisinya. Tangannya terulur menyentuh tanaman yang layu itu. Cahaya hijau terpencar mengelilingi tanaman itu. Tak butuh satu menit tanaman itu kembali seperti sedia kala, sehat dan bugar.

Bibir Lisa tersungging menampilkan senyuman yang manis. "Ku harap kau hidup dengan baik," ucap Lisa.

Mungkin jika orang mihat apa yang dilakukan oleh Lisa pasti menganggap jika gadis ini gila. Bagaimana tidak? Lisa berbicara dengan tanaman. Itu benar-benar aneh. Karena tanaman pada dasarnya adalah makhluk yang tidak bisa bicara.

Lisa beralih pada bunga lily yang juga mulai layu. Dengan sekali sentuh cahaya hijau kembali terpancar. Menyembuhkan bunga yang tadinya akan mati jika tak diselamatkan.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Pertanyaan dari belakang tubuhnya membuat Lisa seketika menegang. Tangannya secara otomatis menjauhi bunga lily yang tadi berniat disembuhkannya. Lisa berbalik dan menemukan orang yang diketahui sebagai Komandan Castalla itu.

"Bukan urusanmu," Jawab Lisa datar.

Komandan Jaehyun mendengus. Matanya meneliti penampilan Lisa dari atas hingga bawah. Dia ulangi terus membuat Lisa risih jika dipandangi sedemikian rupa oleh Komandan Jaehyun.

CASTALLA : The Beginning | RevisiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang