Jenderal Jungkook dan Letnan Taehyung saling menatap satu sama lain. Sudah lebih dari tiga puluh menit yang lalu Letnan Taehyung mengunjungi kediaman Jenderal Jungkook. Mereka berdua seakan hanya berbicara lewat tatapan mata saja. Tanpa berniat membuka satu inci mulutnya untuk berbicara.
Ruangan kerja itu masih hening terhitung sejak kedatangan Letnan Taehyung. Jenderal Jungkook tak mau ambil pusing. Dia terlalu lelah untuk sekedar bertanya apa yang sedang dibutuhkan oleh Letnan Taehyung sehingga mengunjunginya ditengah malam begini.
Jenderal Jungkook lebih memilih memejamkan matanya untuk merilekskan tubuhnya yang lelah karena pekerjaaan menumpuk. Terlebih lagi saat dia mengetahui bahwa istrinya pergi entah kemana. Membuatnya ingin marah dan khawatir disaat yang bersamaan.
"Jenderal?"
Langkah yang bagus.
Letnan Taehyung mulai memberanikan dirinya untuk membuka bibir sexy nya agar berbicara dengan Jenderal Jungkook.
"Hn?"
Jenderal Jungkook menjawab dengan gumaman khasnya tanpa membuka kelopak matanya. Kepalanya benar-benar pening.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu," ucap Letnan Taehyung dengan tegas.
Jenderal Jungkook diam. Membiarkan Letnan Taehyung melanjutkan kata-katanya.
"Apa benar bahwa kepergian Panglima Jimin ke perbatasan hanya untuk mengalihkan perhatian lawan?" tanya Letnan Taehyung.
"Tidak," Jenderal menjawab dengan posisi yang sama seperti semula.
"Tak usah basa-basi, Letnan. Jelaskan tujuanmu datang kemari. Kau tau bukan aku tak suka berbasa-basi?" ucap Jenderal Jungkook dengan nada setengah bertanya.
Letnan Taehyung menghela nafasnya. Entah kenapa Jenderal Jungkook sangat mengerti dirinya. Seakan-akan Jenderal Jungkook dapat mengerti dirinya lewat tatapan mata saja.
"Begini, bukannya aku bermaksud ikut campur tentang kehidupan pribadimu. Tapi, sesuatu yang aku sampaikan harus kau pikirkan baik-baik. Aku tak ingin kau menyesal dikemudian hari, Jenderal."
Jenderal Jungkook membuka matanya. Salah satu alisnya terangkat untuk menebak maksud Letnan Taehyung. Setahunya Letnan Taehyung tak pernah ikut campur atau dalam konteks pembicaraan mengenai privacy-nya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Dia dapat melihat kegelisahan dalam mata itu.
"Sebelum aku memberitahumu yang sebenarnya. Aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu." jelas Letnan Taehyung mantap.
"Apa?"
"Apa kau sungguh tak mempunyai perasaan khusus untuk Nona Lalisa, Jenderal?"
Jenderal Jungkook terdiam. Entah, dirinya juga tak yakin dengan perasaannya sendiri. Setelah berdiam beberapa menit untuk mendapatkan jawaban yang pas Jenderal Jungkook pun menjawab dengan tegas, "tidak."
Letnan Taehyung menghembuskan nafasnya berat. "Apa kau yakin?"
Jenderal Jungkook menatap Letnan Taehyung tanpa keraguan. "Hn, aku yakin."
"Kalau begitu. Apakah kau sanggup jika membunuh Nona Lalisa suatu hari nanti?"
Pertanyaan Letnan Taehyung sungguh diluar dugaan Jenderal Jungkook. Apa maksud semua ini? Jenderal tak tahu. Apalagi ini menyangkut nyawa Lalisa.
"Bicara yang jelas. Apa maksudmu yang sebenarnya letnan?" dengus Jenderal Jungkook. "Aku tak mengerti kenapa harus membunuh Lalisa suatu hari ini." lanjutnya seraya menekan kata terakhir.
Suara dingin nan menusuk itu begitu kentara. Entah apa yang ada dipikiran Jenderal Jungkook tapi yang pasti Jenderal Jungkook tak suka dengan topik ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CASTALLA : The Beginning | Revisi
Fiksi Penggemar#1 action series Jenderal Castalla adalah sosok pemimpin yang bijaksana dalam mengatur pemerintahan yang di jalankannya. Akan tetapi, musibah besar menghantui Castalla membuat Jenderal mau tak mau menikahi seseorang yang merupakan keturunan dari kot...
