BAGIAN 19

3.4K 548 77
                                        

Panglima Jimin telah sampai diperbatasan sejak dua jam yang lalu. Dia langsung bergegas ke tenda militer yang telah disiapkan oleh para tentara militer dibawah pimpinan Kapten Taeyong.

Penyerangan yang dilakukan oleh Mingyu benar-benar membuat perbatasan Castalla hancur tak tersisa. Hanya tinggal puing-puing saja. Menurut informasi nya yang ada kini Kapten Taeyong tengah mengobati lukanya di tenda.

Disinilah Panglima Jimin berada. Menemui Kapten Taeyong hanya untuk mengetahui kondisi sahabatnya itu. Panglima Jimin meringis saat membayangkan berapa peluru yang berhasil mengenai Kapten Taeyong?

Kapten Taeyong memang bukan lawan yang mudah. Panglima Jimin baru kali ini melihat Kapten Taeyong dapat tumbang setelah seharian melawan pasukan militer Mingyu. Panglima Jimin sangat tahu watak temannya itu. Sudah dia duga bahwa Kapten Taeyong berusaha mati-matian mempertahankan perbatasan yang kini hanya tersisa puing-puing saja. Bahkan gerbang menuju Castalla hancur tak tersisa.

Panglima Jimin mengaku takjub. Karena sedari awal yang menjaga perbatasan hanya sepuluh tentara militer dan juga Kapten Taeyong seorang. Bahkan sebelum masuk ketenda, Panglima Jimin dapat melihat beberapa tentara yang terluka parah akibat serangannya Mingyu.

Menurut pesan yang dikirim Menteri Ramon, Letnan Taehyung sudah berangkat ke perbatasan sekitar satu jam yang lalu. Jadi, tugas Panglima Jimin kali ini adalah menggantikan Kapten Taeyong sementara waktu. Luka di bahu kiri Kapten Taeyong lumayan parah hingga lutut Kapten Taeyong juga terkena tembakan.

"Eunghh."

Lenguhan dari Kapten Taeyong berhasil membuyarkan pikiran Panglima Jimin. Dengan sigap Panglima Jimin membantu Kapten Taeyong untuk duduk bersandar.

"Hati-hati, lukamu bisa kembali terbuka." ujar Panglima Jimin.

Kapten Taeyong mendesis. Tubuhnya rasanya remuk saat bangun dari tidurnya. "Sialan!" umpatnya.

Panglima Jimin diam. Dia tahu perasaan kesal yang tengah melingkupi Kapten Taeyong jadi diam adalah pilihan yang terbaik.

"Kenapa datangmu lama sekali?" sinis Kapten Taeyong. Sesekali Kapten Taeyong kembali mendesis saat luka di bahunya bergesekan dengan baju yang dia kenakan.

"Maafkan aku, terjadi macet dimana-mana akibat demonstran rakyat. Seharusnya aku bisa datang lima jam lebih awal. Aku mendapat pesan perbatasan diserangpun saat dalam keadaan macet. Lalu lintas di Castalla begitu padat." jelas Panglima Jimin.

Jauh dilubuk hati Panglima Jimin sangat merasa bersalah karena tak bisa datang lebih awal untuk menolong Kapten Taeyong. Saat mendengar penyerangan yang dilakukan Mingyu pun Panglima Jimin panik bukan main. Karena setahu dia Kapten Taeyong saat ke perbatasan tidak membawa cukup banyak tentara militer. Bahkan Kapten Taeyong hanya mengambil lima dari tentara khusus militer. Mungkin ini firasat yang dirasakan Panglima Jimin saat Kapten Taeyong kembali keterbatasan.

Sejak Kapten Taeyong kembali mengemban tugasnya, Panglima Jimin sudah merasakan hal buruk yang akan terjadi. Dan benar saja, sehari setelah berangkatnya kapten taeyong, perbatasan diserang.

"Dua tembakan di lutut dan dua tembakan di bahu kanan." ucap Kapten Taeyong.

Panglima Jimin mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"

Kapten Taeyong memejamkan matanya saat rasa sakit itu kembali merasuki tubuhnya. "Sstt, aku berhasil melukai Mingyu. Dia menarik pasukannya mundur saat dia telah banyak kehilangan darah." jelas Kapten Taeyong.

Panglima Jimin mengerti sekarang. Dia dapat mengambil kesimpulan jika Mingyu tak akan bisa jauh dari Castalla akibat kondisi tubuhnya yang telah tertembak empat kali di dua tempat yang berbeda pasti membuat Mingyu kesulitan untuk bergerak. Apalagi tubuhnya kehilangan banyak darah. Hal itu dapat memperlambat pergerakan Mingyu.

CASTALLA : The Beginning | RevisiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang