BAGIAN 21

2.9K 440 75
                                        

Tubuh Mingyu membeku. Dia mengenali suara itu. Suara yang sudah sangat lama menghilang dari radar pendengarannya. Dan kini, suara itu kembali lagi. Lebih dingin dari sebelumnya.

"Bagaimana kabarmu?"

Pertanyaan Jenderal Jungkook sama sekali tak mendapat sahutan dari Mingyu. Pemuda itu masih mencoba menahan bahunya yang terasa sakit akibat tertembak pistol Kapten Taeyong. Tak tanggung tanggung kedua kakinya mendapat luka tembak yang sama. Sehingga membuat seluruh tubuhnya sakit bukan main.

"Mungkin hidup dalam bayang-bayang seseorang tak membuat dirimu menjadi apa yang kau mau." ucap Jenderal Jungkook.

Letnan Taehyung mengerti dengan baik maksud perkataan Jenderal Jungkook. Berbeda dengan Letnan Taehyung, Menteri Ramon justru mengernyit bingung. Ada hal lain yang membuat aura yang dikeluarkan Jenderal begitu dingin terhadap Mingyu. Yang Menteri Ramon tahu hanyalah keluarga Mingyu melalukan kudeta terhadap anggota utama militer Castalla.

"Tutup mulutmu itu!?"

Bisa terlihat dengan jelas kalau Mingyu tengah menggeram marah mendengar penuturan Jenderal Jungkook. Rahangnya mengeras, otot-otot lehernya bermunculan menimbulkan spekulasi spekulasi baru dalam pikiran Menteri Ramon.

Jenderal Jungkook tersenyum sinis. "Apa kau lupa kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Jenderal Jungkook kelewat menusuk.

Jenderal Jungkook masuk kedalam sel tahanan dan di ikuti oleh Letnan Taehyung. Tapi sebelum itu, Jenderal Jungkook mengangkat tangannya. Memberi isyarat agar Letnan Taehyung berhenti di tempat. Begitupula dengan Menteri Ramon.

Jenderal Jungkook menatap seluruh tubuh Mingyu yang terbaring tak berdaya dari atas hingga bawah. Bibirnya tersenyum dengan sinis.

"Kondisi tubuhmu itu belum stabil, tapi mulutmu selalu saja stabil. Tak heran jika kau pandai dalam hal merayu."

"Lebih baik kau diam. Atau aku akan membunuhmu sekarang juga," desis Mingyu.

Mingyu berusaha menyandarkan punggung nya di antara ranjang kecil sel tahanan. Beberapa kali dia mencoba tapi tak bisa. Kondisi tubuhnya benar-benar lemah.

"Kau bercanda?" tanya Jenderal Jungkook dengan kekehan. "Dalam kondisi sehat saja kau tak bisa menang melawanku, apalagi dengan kondisi tubuhmu yang sekarang ini? Aku bahkan dengan mudah dapat membunuhmu tanpa menggunakan senjata." dengus Jenderal Jungkook.

Mingyu mendecih. Selalu saja seperti ini. Jenderal Jungkook memang terkenal angkuh dan sombong semenjak dia kecil. Mingyu benci itu.

"Lebih baik katakan apa maumu sebelum aku kehilangan kesabaran?!"

Jenderal Jungkook tertawa terbahak-bahak tapi sedetik kemudian memasang wajah angkuhnya. "Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal seperti itu?" tanyanya.

"Cih,"

"Dengar Mingyu, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku mengenai Komandan Seokjin. Jadi, katakan apa yang kau ketahui sekarang padaku atau kesabaran ku akan habis di makan oleh waktu." ucap Jenderal Jungkook dengan menekankan kalimat akhir yang sebelumnya di ucapkan oleh Mingyu.

"Kau selalu saja sama. Pemaksa!"

"Well, itu jati diriku. Kau tak perlu iri karena tak mempunyai jati diri." ucapan Jenderal Jungkook benar-benar menohok Mingyu. "Setidaknya aku menjadi diriku sendiri tanpa harus repot berpura-pura menjadi orang lain. Kau tahu? Aku benci orang yang memakai topeng sepertimu." sambungnya dengan tenang.

Jenderal Jungkook tahu ucapannya barusan tepat mengenai sasaran. Karena apa yang dikatakan olehnya adalah fakta. Mengingat tingkah Mingyu dahulu membuat perutnya mual ingin muntah. Bagaimana bisa Mingyu menjadi orang lain demi keegoisan keluarga dan dirinya sendiri? Benar-benar bodoh.

CASTALLA : The Beginning | RevisiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang