Mencari Jalan untuk Sejun

157 29 1
                                        

Lim Sejun, sebagai anak yang hampir maknae alias tua iya muda iya, posisinya ini sangat ambigu. Mau manja masih punya adek, mau belaga tua juga masih pengen dapet perhatian. Jadilah sifat Sejun yang 4D.

Sejun yang sekarang telah menginjak semester akhir dan sedang merampungkan skripsinya ini kadang masih nggak mau tau kalau sudah tua. Kadang juga optimis banget mau nyari kerja abis wisuda.

Suatu malam, dia tiba-tiba mendatangi Youngmin yang baru mau makan karena ngelembur sketsa, "Mas, kalo Sejun ngelamar di perusahaan XX ini, bisa keterima nggak ya?"

Youngmin menoleh sebentar, lalu kembali fokus mengaduk mie kuah dan telurnya yang mengepulkan uap.

"Mas.."

"Iya iya, coba aja kali," sahut Youngmin. "Itu kayanya mereka buka magang? Kantor itu deket sama kantor Mas."

"Jadi, coba aja nih?"

"Ya coba aja," ujar Youngmin sambil menyuapkan mienya. "HAH panas!---Emang mau ngelamar jadi apa?"

"PR, Mas."

"Pekerjaan Rumah?"

"PUBLIC RELATION, MAS PACA!"

"Kalem, kalem, Mas cuma lagi ngelawak aja," ujar Youngmin yang kena semprot Sejun. Kayanya Sejun lagi mode serius. Buktinya, dia nggak ketawa. Sejun tuh mau lawakan apa aja, yang kering tandus sekalipun, masih bisa ketawa. Setidaknya bukan lawakan yang menyinggung orang lain.

"Serius ini," gerutu Sejun. "Jadi, besok ngelamar aja ya?"

"Iya dah, udah bikin..."

"Udah."

Youngmin menoleh, "Bikin apa?"

"Skripsi?"

"CV, Sejun tersayang," Youngmin menghela napas. "Udah tau kan caranya? Mas ajarin deh kalo belum paham."

"Udahlah, kan ada pengarahan dari dosen."

"Awas aja besok ternyata minta ajarin Nayoung."

Dan bener dong.

"Mbak, tolong liatin CV-ku dong," Sejun menunjukkan laptop yang dibawanya pada Nayoung, yang habis mandi sepulang kerja.

"Sini," Nayoung mengambil laptop Sejun, meletakkannya di meja rias, lalu membaca seluruhnya dari atas sampai bawah. "Buset, ini bagian pengalamanmu banyak banget sih, dua lembar sendiri?"

Sejun mengangguk polos, "Iya emang banyak, Mbak. Itu aku masukin semua dari SD sampe kuliah."

Nayoung menepuk dahinya, "Jun, tulis pas kamu kuliah aja, semuanya. Jangan dari SD, nggak ngaruh apa-apa."

"Masa sih?"

"Emang menang lomba mewarnai bisa dipake pas jadi PR?"

Sejun meringis, lalu menggeleng.

"Hapus itu semua. Bagian organisasi juga."

Sejun mengangguk saja. Sebenarnya juga nggak rela mau menghapus semua prestasinya dari SD-SMA. Ya gimana, dari semalam dia sudah susah payah mengingat semuanya, sampai nyari semua sertifikatnya juga. Eh, disuruh hapus.

Pas malemnya pas ngumpul, kena sindir Mas Paca.

"Katanya udah dapet arahan dosen..."

Sejun melirik, lalu melengos, "Ya kan minta koreksi aja, emang gaboleh?"

Seorang Sejun adalah anak yang senang makan dan menghambur-hamburkan uang untuk: makanan. Seadiktifnya dia jadi gamers, dia nggak pernah keluar duit buat diamond. Emang dia gamers modal gratisan.

Rumah Kita [Lim's]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang