One Special Day (1)

186 35 3
                                        

Setelah mendengar percakapan kakak-kakaknya, Subin jadi susah tidur.

Sebenarnya dia begini bukan karena peringatan Bunda sama Papa, tapi karena yakin kakak-kakaknya pasti lupa sama ulang tahunnya.

Sedih banget ya? Hari dimana kedua orang tuanya meninggal adalah ulang tahunnya, tepat yang ke-13. Dari sekian banyak hari, kenapa harus hari ulang tahunnya? Kenapa dihari yang seharusnya Subin bisa merasa bahagia?

Sebenarnya, dia tahu kenapa kedua orang tuanya bisa kecelakaan. Beberapa hari sebelumnya, Subin merengek ingin figure action yang sangat ia dambakan dari lama. Dia bener-bener pengen banget, sampai dia tidak segan menangis di depan Papa.

"Harus banget ya Bin? Itukan mahal," kata Bunda. Dia tahu, Bunda berusaha meluluhkan hatinya agar mengurungkan keinginannya. Namun dia sudah bersabar dari dua tahun lalu, dengan alasan sama.

"Nggak bisa, Bun. Bulan ini adalah bulan terakhir mereka jual ini," jawabnya tetap ngeyel. "Please, Pah. Dari tahun kemarin Papa nggak mau beliin juga. Bin janji, kalo tahun ini bisa dapet ini, tahun depan Subin nggak minta apa-apa lagi. Ya ya, Bun? Pah?"

Akhirnya Papa menyanggupi permintaan Subin. Tidak ada hari yang lebih menyenangkan daripada hari itu. Jaebeom melihat dan mendengar semuanya, hanya diam dan menatap Subin tanpa ekspresi.

Begitulah mulainya perang dingin diantara Jebi dan Subin.

Subin tidak heran jika Bang Jebi tidak ingat sama sekali dengan ulang tahunnya. Siapa juga yang mau mengingat hari ulang tahun anak yang menyebabkan orang tuanya meninggal?

Hari itu, karena cuaca tiba-tiba memburuk, padahal Bunda dan Papa barusan selesai membeli figure action yang diinginkan Subin. Mereka mendapatkannya benar-benar dimenit terakhir, sebelum diambil orang lain.

Bukannya menunggu hujan lebat reda, Papa nekat ingin segera pulang, ingin melihat reaksi Subin, pasti sangat menggemaskan.

Akhirnya, keduanya mengemudi di tengah-tengah cuaca buruk dan angin kencang.

Saat menunggu lampu merah, mereka berhenti di dekat pohon besar. Papa menyalakan radio dan ikut menyanyikan lagu yang diputar, sedang Bunda memperhatikan sisi jalan yang lain.

Tepat saat lampu berubah hijau, saat Papa baru saja menginjak pedal gas, angin yang kencang itu tiba-tiba menghantam pohon besar di dekat mereka. Petir menyambar ujungnya. Tidak bisa dielakkan, pohon itu menimpa mobil-mobil di dekatnya, termasuk mobil Papa. Mereka tewas seketika.

Saat itu, mereka berlima sudah berkumpul di rumah. Youngmin dan Nayoung barusan bertengkar lagi gara-gara fanta yang dihabiskan Youngmin, padahal Bunda beli buat Nayoung. Sejun tertidur. Jebi tinggal di kamarnya.

Hanya Subin sendiri yang menunggu di sofa depan. Harap-harap cemas, apakah Papanya berhasil mendapat yang diinginkannya? Apakah mereka bisa pulang dengan cuaca buruk seperti ini.

Jebi keluar dari kamarnya. Dia dapat pesan dari Bunda agar mengeluarkan kue ulang tahun Subin dari kulkas. Baru di tengah jalan, listrik tiba-tiba padam.

Nayoung menrengek lagi, dia paling benci mati lampu di tengah hujan seperti ini. Ia menempel pada Youngmin, yang risi sendiri ditempeli seperti itu.

"Gausah deket-deket lu!"

"Gue takut, Paca." Ujar Nayoung.

"Paca, tolong bawain senter di meja telpon dong. Abang mau ambil kue nggak keliatan ini," teriak Jebi dari arah dapur.

Youngmin melepas tangan Nayoung yang memegangi lengannya.

"Yah, yah, ikut!"

"Udah, lo disini aja ntar ribet jalan ke sana" ujar Youngmin. "Bangunin aja si Sejun."

Nayoung mendengus kesal, tapi tetap tinggal di ruang tengah. Dia jadi ingat Subin yang ada di depan.

"Jun, jun, tengokin Subin kek, ntar ilang."

Sejun mengerang karena dibangunkan, "Kenapa nggak Mbak sendiri aja sih?"

"Takut aku."

Sejun mendengus, lalu berjalan pelan-pelan ke depan. Pintu depan dibuka oleh Subin sehingga ada cahaya masuk walau remang-remang.

"Bin, nunggu di dalem aja, ntar gelap nggak bisa jalan ke dalem lho," katanya pada Subin yang tidak henti menatap keluar.

"Bentar lagi, Kak. Papa sama Bunda nggak lama lagi sampe," tolak Subin. Lebih baik dia menunggu mereka di depan, dia sudah tidak sabar.

Sejun mengangkat bahu, lalu kembali ke dalam. Di meja, sudah ada kue ulang tahun Subin dan lilin putih yang dinyalakan Nayoung.

"Emang Bunda udah mau sampe, Bang?" Tanya Nayoung.

Jebi mengangguk, "Iya, tadi ngirim SMS suruh nyiapin kue."

"Lilinnya lo taroh mana, Paca?" Tanya Nayoung lagi pada kembarannya.

"Lah, tadi di meja ini juga kok," jawabnya. Mereka berdua lalu mencari lilin angka yang akan dipasang di kue ulang tahun Subin. Sejun juga ikutan mencari.

Jebi menatap kue itu dengan tatapan kosong. Tiba-tiba ponsel kecilnya berbunyi. Ia segera mengangkat telponnya, dari kakaknya Bunda.

Menit setelahnya, Jebi tidak bisa mendengar apapun lagi. Ia menjauhkan ponsel dari telingannya, lalu menepuk punggung Youngmin, masih dengan wajah datar.

"Paca, ikut gue bentar."

Nayoung dan Sejun ikut menoleh saat Jebi bilang begitu. Suaranya terdengar aneh, seperti menahan tangis.

"Gue ikut!" Timpal Nayoung. Enak aja hanya Youngmin yang diberitahu sesuatu, dia juga harus tau!

Jebi mengangguk saja, "Sejun, bawa Subin ke dalem. Paksa aja kalo nggak mau."

Sejun kebingungan, tapi tetap ke depan untuk membawa Subin ke dalam.

Jebi menggandeng dua tangan adik kembarnya, membuat keduanya jadi tambah bingung.

"Sebenernya ada apa sih, Bang?" Youngmin jadi mulai merasa tidak enak. Nayoung ikut menatap kakaknya bingung dan takut.

Jaebeom menatap wajah kedua adiknya bergantian, sebelum air matanya meleleh, "Na, Ca,... Bunda...sa-sama Papa...ke-kecelakaan."

Keduanya terkejut, sangat terkejut sampai Nayoung hampir jatuh ke belakang.

"Trus, sekarang gimana?" Tanya Youngmin sambil menahan Nayoung yang mulai menangis.

"Mereka...mereka..." Jebi menarik nafas walau sulit, ia malah tersedak. "...meninggal di tempat."

Jeritan Nayoung hari itu masih sangat diingat Subin. Saat Jebi keluar dari kamar sendiri, sedang Nayoung masih menangis hebat bersama Youngmin yang juga tidak sanggup berdiri, keduanya tersungkur di lantai.

Wajah Sejun jadi cemas, sesuatu pasti terjadi.

"Bang, kenapa Bang? Kenapa Mbak Nana nangis? Mas Paca juga??" Ia membombardir Jaebeom dengan pertanyaan. Subin tidak berani bersuara, badannya sendiri dingin dan kaku.

Jebi malah memeluk Sejun, lalu menangis keras. Sejun tambah tidak mengerti, dia melepas pelukan Jebi dan berteriak pada kakaknya, "BUNDA KENAPA? BILANG BANG!!"

"Bunda...Papa," Jaebeom melihat ke belakang Sejun sejenak, tempat Subin duduk diam. "Udah nggak ada, Jun."

Sejun mendorong tubuh Jebi, lalu dengan suara gemetar, dia bertanya, "Nggak, nggak mungkin. Kenapa bisa... KENAPA??!"

Jebi memperhatikan Sejun yang perlahan mulai ambruk ke lantai dan menangis.

"Kecelakaan. Kena pohon tumbang."

Semua yang dikatakan Jaebeom terasa seperti kata-kata hampa. Ia tidak bisa mencerna yang lain selain 'Bunda dan Papa udah nggak ada'.

Detik berikutnya, Subin berteriak histeris sambil meremas rambutnya sendiri. Jebi melihatnya, lalu menarik tangan Subin agar lepas dari rambutnya.

"Subin, jangan. Subin!"

Dia menarik Subin dalam pelukkannya, membiarkan adik terkecilnya menangis, ikut menangis.

Di tengah hujan deras dan rumah yang gelap, mereka meratapi kepergian kedua orang tua mereka.

Dan hari itu menjadi hari ulang tahunnya yang paling suram dan menyedihkan.

Rumah Kita [Lim's]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang