Family Gathering

127 19 0
                                        

Sejun tersenyum sumringah banget malam ini. Jawaban yang dia nanti-nantikan dari pagi membuatnya sangat bahagia.

"Lamaran lo diterima, Jun?" Tanya Mas Paca yang duduk di sebelahnya.

Ia mengangguk mantap, lalu berdiri di saat yang lain masih makan, dengan dramatis berkata, "Dengan ini, saya, Lim Sejun, telah diterima magang. Sekian dan terima traktir."

"Yeu kambing, kudunya elu yang traktir kita," keluh Jebi sambil menahan tawanya sendiri. "Lu 'kan kagak kemana-mana lagi abis selesai di-acc skripsi lu."

"Bang, temen-temen Sejun ya, abis sidang bakal ditraktirin sama kakak-kakaknya. Masa kalian nggak sih?"

"Sorry, gue bukan kakak temen-temen lo soalnya," ucap Jaebeom cuek. "Mending ditabung buat renov rumah."

Sejun langsung manyun. "Dibilangin, mending kalo temen-temennya pada nginep, suruh bayar biaya perawatan dong!"

"Lah temen-temen lo sendiri?"

"Oh, mereka mah emang udah gue suruh bayar kok," jawab Sejun bangga. "Gue suruh traktir di kantin."

"Yaelah, itu mah elo sendiri yang enak," cibir Jaebeom. "Hayoung nggak lo suruh bayar juga?"

Sejun memilih tidak menjawab, segera mengambil piring kosongnya dan kabur ke dapur.

"Ah, payah! Main kabur lo, Jun," Jaebeom, Youngmin dan Subin tertawa melihat Sejun yang 'takut' dengan segala pertanyaan terkait Hayoung.

Hanya satu orang yang bersikap agak tidak biasa hari ini.

"Bin, nanti tolong kumpulin piring-piringnya ya. Mbak mau istirahat dulu," ujar Nayoung tiba-tiba pada Subin di sebelahnya. Si bungsu hanya bisa mengangguk. Perhatian yang lain juga jadi beralih pada Nana yang sudah beranjak ke kamarnya.

Jaebeom melirik Youngmin di sebelahnya. "Lo tau kenapa?"

Youngmin agak berat mengatakannya di depan adik-adiknya yang lain, menjawab dengan suara pelan, "Abis ketemu Minhyun."

Subin masih bisa mendengar jawaban Youngmin karena tempat duduknya lumayan dekat dengan kedua abangnya. Ia sedikit mencodongkan badannya saat tengah mengumpulkan piring-piring kosong di meja.

"Pasti hasilnya jelek, ya?" tanya Jaebeom, ikut memelankan suaranya. Youngmin mengangguk kecil.

"Kayanya sih begitu. Keliatan mukanya Nana kaya gitu."

"Yaudah, nggak usah dibahas, takutnya Nana masih sedih. Tunggu aja sampe dia mau cerita sendiri nanti," putus Jaebeom. "Gue ke kamar dulu ya, mau kerja dikit."

Jaebeom berdiri lalu memberi isyarat yang kurang lebih artinya, 'Nanti kalo ada yang butuh gue, kasih tau aja, oke?' sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya. Youngmin mengangguk, sebagai orang yang diberi pesan isyarat tadi.

Saat Subin mau mengangkat tumpukkan piring, seseorang menginterupsinya.

"Gue aja sini," Dayoung mengulurkan tangannya, yang ditatap Subin dengan pandangan penuh pertanyaan. "Udah sini, gue yang cuci piring."

"Nggak usah, gue aja yang bawa. Nanti lo yang cuci. Ini berat, tau?" tolak Subin. Ia membawa tumpukan piring itu sendiri, lalu disusul Dayoung ke dapur.

Pemandangan ini menarik perhatian Youngmin. "Ada apaan nih? Kenapa mereka tiba-tiba ngomong panjang begitu?" Ia beralih pada Sejun yang sudah balik dari dapur. "Lo tau sesuatu nggak?"

"Nggak tau juga," jawab Sejun sambil melahap dessertnya, es krim yang dibelikan Subin tadi siang. "Cuma tadi gue nyuruh Subin jemput Dayoung di kampusnya."

Rumah Kita [Lim's]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang