Extra panjang :)
Sejak saat itu, Subin tidak suka hari ulang tahunnya.
Dia bahkan membuang semua koleksi action figurenya, termasuk yang dibeli Papa dan Bunda hari itu.
Salah satu petugas kepolisian menghampiri mereka yang masih menangis di sofa, saling bersandar seakan-akan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
"Dik, ini ada di kursi belakang mobil," ujarnya seraya menyerahkan kotak hadiah yang sudah basah dan robek serta peyot pada Jaebeom. "Kami menemukannya di bawah rerantingan. Sekali lagi, turut berduka cita sedalam-dalamnya."
Jaebeom mengangguk, mewakili saudaranya yang masih memangis. Ia menatap bungkus hadiah yang sudah koyak, basah, dan kotor, lalu menyerahkannya pada Subin, yang duduk di sebelahnya, tanpa mengatakan satu patah katapun.
Setiap melihat action figure itu, Subin masih sering teringat peristiwa itu. Karena sudah tidak tahan, dia memasukkannya dalam kardus yang akan disimpan di gudang.
Subin yang membuang semua barang masa kecilnya, jadi takut saat hujan petir berangin turun, jadi lemas karena lampu padam. Hari itu benar-benar mengubah dirinya.
"Jung Subin, Subin tersayang, selamat ulang tahun!"
Subin sedikit terkejut, setibanya di dapur, Nayoung menghampirnya lalu memeluknya sebentar.
"Mau makan apa, Bin? Mbak udah buat mie goreng, katanya nanti panjang umu..."
"Iya Mbak, makasih ya."
Nayoung menatap Subin yang tidak tertarik, justru langsung lewat begitu saja untuk mengambil minum dingin dari kulkas.
"Oh, Subin?! Selamat ulang tahun Bro..."
Youngmin langsung diam saat Subin juga tidak mengacuhkannya, langsung ke kamarnya.
Kedua anak kembar itu saling bertukar pandang. Padahal mereka sudah susah-susah mengambil cuti sehari yang sangat jarang bisa didapat.
Nayoung menghela nafas. Sepertinya Subin belum bisa melupakan hari itu.
***
Kak Sejun
Subeeennnnnn
Selamat ulang tahun ya :)
Hari ini, Kakak ngalah sama Subin deh pas mabar.
Dia tidak membalasnya, membuang ponselnya ke kasur, lalu menutup wajahnya dengan satu lengannya.
Bahkan Bang Jebi nggak bilang apa-apa.
Subin mendengus. Apa sih yang dia harapkan? Jebi mau ingat hari ulang tahunnya saja sudah hebat.
Suara orang sedang berdebat kecil terdengar sayup-sayup dari dalam kamarnya. Subin mendengarnya, tapi suara itu tidak cukup jelas terdengar. Momen berikutnya, pintu itu terbuka. Mbak Nana, Mas Paca agak di belakang, dan Kak Sejun muncul di muka pintu kamarnya.
"Kenapa. Mbak?" tanyanya malas.
Nayoung dan Sejun bertukar pandangan sebentar. Youngmin meninggalkan mereka, entah kemana. Nayoung membuka suara duluan, "Makan yuk. Paling nggak kamu harus makan dulu, Bin."
Subin menghela nafas. Ia mengangguk lalu berangjak dari kasurnya, mengikuti kakak-kakaknya yang berjalan duluan ke ruang makan.
Jaebeom tidak muncul. Subin berkali-kali melirik pintu kamar Jaebeom yang terlihat dari tempatnya duduk, tapi tidak ada apa-apa. Paling kerja lagi dia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Kita [Lim's]
FanfictionDi rumah no. 46 dengan pohon rambutan di halamannya, the story begin Lim's family Semi-baku, some harsh words, crack pairs ☑️ Jalan cerita berkelok-kelok ☑️ Typos ☑️☑️☑️ Welcome to our unexpected universe!
![Rumah Kita [Lim's]](https://img.wattpad.com/cover/218924507-64-k31957.jpg)