Sejun sedang asik tiduran di sofa sambil garuk-garuk punggungnya. Siang ini, ia berada di rumah, bersama Subin yang jam kuliahnya kosong.
"Kuliah lu suka kosong mulu sih, Bin. Lo kuliah ada ilmunya kagak?"
Si bungsu menatapnya sambil mencibir, "Lah situ, inget jurusannya kagak?"
Sejun melempar bantal sofa di pangkuannya, dan tentu saja berhasil ditepis Subin.
"Ngajak berantem? Hayuk sini!"
Merasa terprovokasi, Subin membawa bantal sofa yang tadi dilempar, lalu menggebukkannya ke kaki abangnya. Sejun tidak mau kalah, ia menarik adiknya ke sofa lalu mengunci kepalanya, membuat Subin berontak. Tidak kehabisan akal, berhubung Subin tidak suka kekerasan, akhirnya ia menggelitik pinggang Sejun, bagian mana saja yang bisa diraihnya. Pergulatan itu terus memanas, sampai ponsel Sejun berdering dari atas meja.
Subin menghentikan aksinya dan membiarkan abangnya menjawab telepon itu.
"Halo? Ini Terserah?"
"Nggak lucu ya, Kak!"
Ternyata Dayoung.
"Kenapa? Ada masalah? Berdoa dulu supaya dilancarkan masalahnya, Day."
"Sumpah, kalo nggak terpaksa, aku nggak mau nelpon Kakak," Sejun menahan tawanya. "Suruh jemput. Abang nggak bisa, ada meeeting katanya."
"Mitang miting, paling makan siang dia mah," celetuk Sejun. "Ya ntar dijemput."
"Nggak entar, sekarang!"
"Iya iya, Nyai Muda! Pake sunblock dulu, tungguin yah!" Sejun menutup telponnya. "Udah ada Nana jilid 2 aja sekarang."
Ia baru mau memikirkan apa yang harus ia lakukan, ketika matanya melihat Subin masih duduk di sebelahnya, sambil main hp. Emang hp sama Subin nggak bisa pisah.
"Eh, Bin, lo aja ya yang jemput Daday."
Mata Subin otomatis melotot pada Sejun, "KOK GUE?"
Sejunnya agak kaget juga karena Subin ngegas, dia berkedip beberapa kali sebelum melanjutkan, "Lo gatau alasan gue ada di sini?"
Subin menggeleng, "Nggak. Kenapa? Karena tidak berguna?"
"Anying, bukan itu," jawab Sejun. "Gue lagi nungguin kabar lamaran magang gue, tauk?"
"Oooh, jadi ngelamar, Kak?"
"Iya, ngelamar kerja, bukan ngelamar istri."
Subin memutar matanya. "Ngelamar ya pacar, kalo istri mah udah nikah."
"Ck, bisa aja lo," tukas Sejun. "Pokoknya lo aja ya yang jemput."
Mau nggak mau, ya akhirnya Subin ganti baju lagi dan turun ke jalan. Padahal dia tadi sudah membayangkan tidur siang sempurna di hari Kamis. Sambil menggerutu dalam hati, ia mengeluarkan motor dan memakai helmnya. Baru nyetarter motor, abangnya teriak dari dalam rumah, sembari lari-lari tanpa alas kaki.
"Napa lagi?"
"Eh, Bin, nitip es krim dong!" Kata Sejun sambil menyodorkan dua lembar uang berwarna merah. "Sama beliin buat lo sama Dayoung, tuh pake duit gue."
Subin menatap Sejun dan uang dua ratus ribu itu bergantian, "Wah, beneran nih? Dapet uang dari mana lo, Kak?"
"Anjir, ini jatah uang jajan gue minggu ini. Tapi 'kan gue nggak kemana-mana," jelas Sejun. "Gue nggak nyolong ya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Kita [Lim's]
FanfictionDi rumah no. 46 dengan pohon rambutan di halamannya, the story begin Lim's family Semi-baku, some harsh words, crack pairs ☑️ Jalan cerita berkelok-kelok ☑️ Typos ☑️☑️☑️ Welcome to our unexpected universe!
![Rumah Kita [Lim's]](https://img.wattpad.com/cover/218924507-64-k31957.jpg)