4. Four

30.1K 1.4K 30
                                        

"Kesha, ini airnya diminum dulu," ujar Nadia lembut sembari menepuk punggung Kesha, menyodorkan gelas berisi air kearah gadis itu.

Kesha membalik badannya menghadap Nadia kemudian bangun dari baringnya, memperlihatkan mata sembabnya yang semakin menyipit karena bengkak. Bagaimana tidak, terhitung sudah hampir satu jam dia menangis.

Kesha menatap Nadia sedih, "Nad ... aku harus bagaimana? A-aku harus bilang apa sama ayah, Nad?" suara Kesha parau, dia terisak lagi. Kini tanpa air mata.

Nadia segera meletakkan gelas di tangannya pada nakas di samping ranjang Kesha lalu naik keatas ranjang dan membawa tubuh Kesha kedalam pelukanya. Mungkin efeknya tidak seberapa, tapi Nadia pernah membaca artikel bahwa pelukan dapat menenangkan seseorang yang sedang tertekan dan dia berharap semoga artikel itu tidak bebohong. Biarkanlah kali ini dia mempercayai artikel itu yang tidak jelas asal-usulnya.

Ajaib.

Dan Kesha sedikit tenang sekarang, Nadia mengelus punggung Kesha sambil terus membisikan kata kata penyemangat kepadanya.

"Minum dulu ya, aku tahu kau pasti haus selama sejam menangis." Nadia melepaskan pelukannya dan merangkak mengambil gelas yang tadi di letakan di nakas.

Kesha mengangguk dan mengambil gelas yang di berikan Nadia lalu meneguknya hingga tandas, tanpa dia sadari sudut bibir Nadia tertarik membentuk senyum samar. "Makasih ya, Nad." Kesha meyeka ingusnya yang meluber kemana-mana. "Hehe," cengirnya yang dibalas gelengan kepala dari Nadia.

Saat Kesha ingin bersuara lagi, Nadia terlebih dahulu berkata,"Kita bahas nanti, sekarang kau istirahat."

"Baiklah," Kesha menguap. "Aku sepertinya juga ingin tidur dulu," lanjutnya. Nadia hanya menganggukan kepalanya.

Nadia mengibas-ngibaskan tanganya di wajah Kesha. "Kayaknya sudah tidur. Cepat juga obat itu bereaksi," monolognya kemudian turun dari ranjang dengan pelan sekali, tidak ingin yang sedang terbaring disana terganggu. Walaupun sebenarnya itu tidak akan terjadi, ya, Nadia sudah menambahkan obat tidur yang dosisnya cukup tinggi kedalam air minum Kesha.

"Kau tenang saja, Kesh. Aku akan membantumu." Nadia berdiri sambil memandang Kesha yang terlelap.

Sekitar beberapa detik menatap Kesha yang terlelap Nadia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang. "Kau tenang saja, Kesh. Aku yang memulai maka aku juga akan mengakhirinya," Nadia terus menatap Kesha sambil menunggu teleponya tersambung.

Sekilas dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih jam 18.11.

●●●

Bara memasuki bar yang dimaksud oleh Kenzo, dia berjalan menerobos orang-orang yang sedang menikmati minuman mereka sambil menari tidak jelas. Mereka semua mabuk. Bau alcohol menyeruak dan terasa jelas di indra penciuman Bara. Jika boleh jujur Bara tidak suka dengan tempat ini. Terlalu berisik. Tapi mau bagaimana lagi, ini perintah.

Pemuda dewasa itu menghentikan langkahnya setelah sampai di sebuah ruangan yang jauh dari keramaian tadi. Tidak terdengar lagi suara music yang memekakkan telinga, hanya saja aroma alcohol masih dabat di baui walau tidak setajam diluar sana.

Bara melangkahkan kakiknya menuju meja persegi panjang yang sudah duduk beberapa orang disana, memakai baju formal serba hitam dan masing -masing di belakang mereka berdiri satu bodyguard berbadan besar nan kekar. Di atas meja pun ada seorang perempuan yang hanya menggunakan bikini sambil meleok-leokan tubuhnya. Bara, berdecak.

"Tuan, ayo bergabung ...." Salah satu dari mereka yang melihat kehadiran Bara langsung menyapa dan memberikan senyum terhangatnya. Bara hanya menganguk dan merjalan mendekat.

Mafia's Wife [ Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang