19. Nineteen

27.1K 1.2K 110
                                        

Samar-samar Nadia membuka kedua matanya. Dia mengedarkan padangannya keseluruh ruang yang bernuansa putih itu, dia kenal benar tempat apa ini. Jadi, tanpa perlu drama menanyakan kebradaannya di mana Nadia lebih memilih mencari Keberadaan Kesha.

Nadia kemudian menoleh kearah sofa, melihat Kesha yang tertidur di bahu Kenzo dengan tenang, sedangkan Kenzo sendiri sibuk dengan ponselnya.

Pandangannya di alihkan ke langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pekat itu, pikirannya kembali kebeberapa jam yang lalu. Dia masih berharap bahwa apa yang telah di dengarnya beberapa jam silam adalah salah, atau dia malah berharap ini hanya mimpi?

Air matanya perlahan kembali turun membasahi pipinya, Nadia terisak. Kehilangan Bara tidak pernah ada dalam bayangannya sebelumnya. Dan sekarang dia telah kehilangan sosok Bara. Tidak ada harapan sudah.

"Hey, Nad." Kesha langsung bangun dan berjalan menuju bangsal tempat Nadia berbaring saat mendengar isak tangis sahabatnya itu. "Kau kenapa menagis?" tanya Kesha, gadis itu pun menarik satu kursi dan duduk di pinggir bangsal.

Dari belakang Kenzo pun mengikuti Kesha dan sudah memasukan ponselnya kedalam saku jas miliknya.

"Kau harus mengiklaskannya. Kau tahu, akulah yang paling terpukul disini. Kami sudah bersama sejak kecil," ingat Kenzo kepada Nadia. Namun, tangannya malah sibuk membelai surai Kesha dengan lembut.

Nadia melirik kearah pasangan suami istri itu yang tampaknya sudah mulai akur sekarang. Nadia sepertinya ketinggalan banyak cerita sejak berasama Alex.

"Kau pasti bisa mengikhlaskan Bara, Nad. Aku yakin!" Kesha meremat tangan Nadia lalu menempelkannya pada pipinya. "Kau adalah orang paling hebat di dunia setelah Ayah," ujar Kesha lagi. Kenzo hanya mengangguk dan menyetujui ucapan Kesha yang memanglah benar(?)

"Kesh, bawa aku ketempat Bara," pinta Nadia sembari memandang lekat iris Kesha.

Nadia menatap Kesha penuh harap, matanya bahkan menyiratkan permohonan disana.

Kesha melirik kearah Kenzo dan diangguki oleh pria dewasa itu.

"Dia berhak atas itu," tutur Kenzo.

Setelah mendapat persetujuan dari Kenzo, Kesha kembali mengalihkan pandangannya kepada Nadia yang masih setia menatap kearahnya.

"Apa kau yakin? Maksudku, keadaanmu belum begitu pulih." Kesha mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal tanpa menolak permintaan Nadia.

"Iya Kesha, aku yakin. Aku tidak akan menangis diasana," ucap Nadia tidak yakin.

"Biar kan dia pergi Kesha." Suara bass milik Kenzo melesak masuk kedalam telinga Kesha. Tidak ada alasan lagi, Kesha harus membiarkan Nadia bertemu dengan Bara. Eum.. jasadnya Bara lebih tepatnya.

__

Sepanjang perjalanan ke ruang Kenzo di rawat, Nadia mati-matian menahan tangisnya agar tidak pecah. Belum melihat Bara saja Nadia sudah mati-matian menahan gejolak pada dirinya. Ada perasaan bersalah, marah, dan menyesal di satu waktu bersamaan.

Nadia benci! Benci karena belakangan ini hubungan mereka tidak baik, mereka juga belum ada saling tegur hingga kini Bara tiada.

Nadia rasanya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, Bara mati demi dirinya?

Ceklek

Pintu kamar rumah sakit itu terbuka, memperlihatkan dua suster yang sibuk melepaskan selang-selang yang menempel pada tubuh Bara.

Kaki Nadia bergetar namun tetap masuk di dampingi oleh Kesha pun Kenzo.

Ketiganya memasuki kamar itu dengan perlahan namun pasti.

Mafia's Wife [ Completed ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang