8. Eight

26.7K 1.3K 55
                                        

"Jangan sampai kau melupakan rencana utamamu," ucap orang dari seberang telepon mengingatkan, membuat lawan bicaranya menarik sudut bibirnya membentuk senyum mengerikan

Tutt...

Panggilan berakhir.

***

"Kesha!"

Nadia memasuki rumah Kesha dengan terburu-buru sambil terus meneriaki nama sahabatnya itu berulang-ulang. Berharap ada jawaban dari sang empunya nama. Namun nihil, harapannya hanyalah sebuah harapan.

Matanya menatap marah dan sedih pada kamar Kesha yang berantakan. Selimutnya tergeletak di lantai dan beberapa alat make up nya yang mahal-mahal pun ikutan pecah berserakan di lantai. Lupakan make up itu.

Sepertinya Kesha tadi memberikan perlawanan walau tetap gagal dan harus terbawa sama psycopath itu. Nadia masuk sebentar lalu melihat ponsel Kesha berada di tengah-tengah springbed. Nadia tidak ingin membuang waktunya, dia langsung berlari kebawah dan mendapati Alex yang duduk santai di ruang tamu sambil memakan camilan yang berada di sana.

Nadia mendengus, bukankah tadi dia sudah menyuruh orang itu pulang? Oh tidak ada waktu untuk memikirkannya, Nadia langsung berjalan cepat melewati Alex yang hanya tersenyum geli.

Nadia mondar-mandir dengan panik, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ingin mencari tapi kemana dia harus pergi? Dia tidak boleh gegabah dan malah membuat Kesha dalam bahaya. Berulang-ulang dia memperhatikan ponsel Kesha yang sempat di ambil dikamar anak itu.

Dengan berat Nadia menghembuskan napasnya. "Ayo dong otak, mikir, mikir, mikir! Arrrghh" pekik Nadia kesal. Mengapa saat dalam keadaan seperti ini dia susah sekali berpikir.

"Tenang. Tarik napas, buang, tarik, buang... hufftt." Monolog Nadia kepada dirinya.

Dia harus tenang. Harus!

"Mengapa tidak kau lacak saja keberadaan mereka?" ucap Alex tiba-tiba yang sudah jengah melihat Nadia dari belakang. Jujur saja, siapapun yang melihat Nadia tadi pasti akan jengah juga. Nadia terdiam mendengar ucapan Alex. Kenapa tidak terpikirkan olehnya? Ah maklumi saja, setiap terdesak semua orang pasti akan blank. Itu sudah manusiawi. Bahkan atlet berenang yang sudah menjuarai lomba saja bisa tenggelam saat tengah berenang di beri lelucon bahwa kerabatnya meninggal. Wah pasti akan sangat lucu.

Nadia berpikir sekali lagi. Bagaimana dia mau melacak sedangkan ponsel Nadia ada bersamanya? Lagi dia juga tidak mempunyai nomor Kenzo. Ini begitu rumit. Satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini hanyalah Bara. HANYA BARA. Tapi itu tidak mungkin, mereka sekarang sedang bertengkar, atau mungkin telah berakhir ... ?

"Bukankah itu ponsel sahabatmu, benar?" Alex sudah berada di sebelah Nadia yang kini melirik kearahnya dan mengangguk lucu. Ah bagaimana Nadia segemas itu sekarang, Alex ingin membawa pulang saja rasanya. "Kau bilang tadi ... dua hari yang lalu Kesha pernah di telpon degan si...." Alex memejamkan matanya dan jari telunjuknya bergerak-gerak di depan wajah Nadia, Alex sedang berusaha mengingat nama Kenzo.

"Kenzo," Nadia menyambung ucapan Alex dengan ketus. Jujur dia jengah ngobrol berdua seperti ini dengan Alex. Itu mengingatkan dengan masalalunya yang manis di awal.

"Ah siapalah itu, kau bisa mengecek siapa saja yang menelponnya dua hari yang lalu, right?" lanjut Alex. Nadia sumringah, reflek dia memukul bahu Alex yang memang tidak berada jaud darinya.

Mafia's Wife [ Completed ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang