18. Eighteen

26K 1.2K 92
                                        


Setelah mendengar kabar Bara dan Nadia, kedua pasangan suami istri itu langsung bergegas kearah tempat yang disebutkan penelpon tadi. Mereka bahkan masih menggunakan piyama. Dengan terburu-buru Kesha mengikuti langkah kaki jenjang milik Kenzo dari belakang, sedikit merasa ngeri sebenarnya, pasalnya Kenzo membawa shotgun yang di sampirkan dibahunya.

Well, sebenarnya Kesha tidak tahu itu termasuk shotgun yang sangat berbahaya atau tidak. Tapi dari bentuknya saja sudah bisa mendefinisikan seberapa  mematikannya benda itu.

Keduanya memasuki mobil dengan Kesha yang duduk di samping Kenzo. Setelah memasang seatbelt, Kenzo pun mulai melajukan mobilnya.

Tidak ada percakapan, hanya hening saja. Baik Kenzo maupun Kesha sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Mereka sama-sama memikirkan nasib sahabatnya, yang entah kenapa memiliki kesialan yang sama.

__

“Tunggu disini saja, jangan keluar,” titah Kenzo yang melihat Kesha ingin turun setelah mereka sampai dan mearkirkan mobilnya di belakang mobil milik Bara dan Arion.

“Tapi Na—“

“Tidak ada tapi-tapi, Nadia biar menjadi urusanku,” final Kenzo.

Kesha pun diam dan tidak menawar atau berkata apapun lagi, setiap kata yang keluar dari mulut lelaki dewasa itu adalah perintah, dan wajib untuk di turuti.

Kenzo langsung mengambil shotgun yang ia letakkan di jok belakang tadi, sebelum turun dia melirik sekilas kearah Kesha yang tampak cemas. “Kaca mobil ini anti peluru, kau akan baik-baik saja,” papar Kenzo yang tahu akan kekhawatiran Kesha. Untuk pertama kalinya Kesha di buat tenang dengan ucapan lembut oleh Kenzo, tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman hangat kepada lelaki yang lebih tua darinya. “Tidak ada yang perlu kau takutkan,” ucap Kenzo lagi sembari megusak surai halus dan lembut milik Kesha. Selepas itu Kenzo benar-benar keluar, menyisakan Kesha yang terpaku di tempat sambil memegang dadanya.

Kenzo tiba dibelakang Arion yang berdiri di balik bunga yang cukup besar, memandangi Bara dengan tatapan risau adalah hal satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Kenzo mengetuk pelan bahu Arion yang sepertinya masih tidak menyadari kedatangannya. “Hey,” sapa Kenzo.

Arion berbalik dan hampir saja terjungkal akibat terkejut dengan kehadiran Kenzo yang tiba-tiba itu.

“Anda mengagetkan saya, tuan.”

“Dimana si tolol itu?” tanya Kenzo mengabaikan keterkejutan Arion. Arion yang tidak mengerti malah menaikan satu alisnya. “Bara, disebut apa jika bukan tolol? Ingin menjadi pahlawan kesiangan, huh?” lanjut Kenzo lagi.

Arion pun mengangguk mengerti, ternyata si tolol yang dia maksud adalah Bara—bossnya sendiri. “ada disana.” Arion menunjuk kearah taman tempat Bara tergeletak.

Tak

“Kau mau membuat temanku mati, hah?” Kenzo mengetok geram kepala Arion menggunakan shotgun—nya. Pasalnya, bisa saja Bara benaran mati jika dibiarkan begitu saja.

“Mau bagaimana lagi?” jawab Arion, jika dia nekat bisa-bisa dia juga menjadi korban.

“Sana ambil Bos tololmu itu!” suruh Kenzo.

“T—tapi …”

“Aku akan mencovermu dari sini,” beritahu Kenzo pada Arion yang sepertinya meragukan kemampuannya. Arion tidak lihat apa shotgun yang di pegang oleh Kenzo.

__

Plak

“AHAHAHAHHAHA.”

Plak

Mafia's Wife [ Completed ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang